Akibat Tidak Lurusnya Niat Menuntut Ilmu

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Berikut ini akan saya paparkan beberapa hadits-hadits yang mengajak kita agar tetap menjaga orientasi keilmuan seorang muslim dan merawat keikhlasan niat dalam mencari ilmu. 

Mendapatkan Tempat di Neraka

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من طلب العلم ليماري به السفهاء أو ليباهي به العلماء أو ليصرف وجوه الناس إليه فهو في النار .‪‬


“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang bodoh, atau berbangga di depan ulama, atau mencari perhatian manusia kepadanya, maka dia di neraka.” (HR. Ibnu Majah No. 253. At Tirmidzi No. 2654.)[1]

Maksudnya adalah:

أَيْ يَنْوِي بِهِ تَحْصِيل الْمَال وَالْجَاه وَصَرْف وُجُوه النَّاس الْعَوَامّ إِلَيْهِ وَجَعْلهمْ كَالْخَدَمِ لَهُ أَوْ جَعْلهمْ نَاظِرِينَ إِذَا تَكَلَّمَ مُتَعَجِّبِينَ مِنْ كَلَامه إِذَا تَكَلَّمَ مُجْتَمَعِينَ حَوْله إِذَا جَلَسَ

Dia berniat untuk mencari kekayaan, kedudukan, dan perhatian orang awam dan menjadikan mereka sebagai pelayan, atau supaya mereka memandang dirinya jika dia berbicara karena kagum kepadanya, dan jika dia duduk orang-orang mengelilinginya. (Hasyiaah As Sindi ‘Ala Ibni Majah)

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا تعلموا العلم لتباهوا به العلماء ولا تماروا به السفهاء ولا تخيروا به المجالس فمن فعل ذلك فالنار النار
 

“Janganlah kalian menuntut ilmu dengan maksud berbangga di depan ulama, mendebat orang bodoh, dan memilih-milih majelis. Barangsiapa yang melakukan itu maka dia di neraka, di neraka.“ (HR. Ibnu Majah No. 254, Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 1725,  Ibnu Hibban No. 77)[2]

Tidak Mendapatkan Harum Surga

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang dengannya dia menginginkan wajah Allah, (tetapi) dia tidak mempelajarinya melainkan karena kekayaan dunia, maka dia tidak akan mendapatkan harumnya surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud No. 3664) [3]

Tidak Mendapatkan Apapun di Akhirat

Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ نَصِيبٌ

           
“Barangsiapa diantara mereka  beramal amalan akhirat dengan tujuan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian apa-apa di akhirat.” (HR. Ahmad No. 20275. Ibnu Hibban No. 405) [4]

Kursi di Neraka

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk selain Allah atau dia maksudkan dengannya selain Allah, maka disediakan baginya kursi di neraka.” (HR. At Tirmidzi No. 2655, katanya: hasan gharib) [5]

Sumber : abuhudzaifi.multiply.com

Footnote:

[1] Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 253, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2654, Misykah Al Mashabih No. 225, 226, Shahihul Jami’ No. 6382

[2] HR. Ibnu Majah No. 254, Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 1725,  Ibnu Hibban No. 77, Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain,  No. 290. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib No. 102, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 254

[3] HR. Abu Daud No. 3664, Ibnu Majah No. 252, Ibnu Hibban No. 78, Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, No. 288, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani mengatakan shahih lighairih. Shahih Targhib wat Tarhib No. 105. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, No. 3664, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah, No. 252

[4] HR. Ahmad No. 20275. Ibnu Hibban No. 405, Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 7862, katanya: sanadnya shahih. Imam Al Haitsami mengatakan:  diriwayatkan oleh Ahmad dan anaknya dari berbagai jalur dan perawi dari Ahmad adalah shahih, Majma’ Az Zawaid 10/220. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

[5] HR. At Tirmidzi No. 2655, katanya: hasan gharib. Ibnu Majah No. 258. Didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Dhaif Al Jami’ Ash Shaghir No. 5530, 5687

Advertisements

Dengan Kekhusyuan Dosa Berguguran

Redaksi Arrisalah.net

Shalat semestinya tidak dikerjakan hanya demi menggugurkan kewajiban saja. Shalat sejatinya adalah munajat; waktu untuk menghadap dan  mendekatkan diri kepada Rabb yang Maha Tinggi. Waktu yang seharusnya kita hiasi dengan kekhusyukan tanpa terganggu dengan segala kesibukan duniawi. Konsentrasi dan penuh ketenangan menghadap ilahi, dan melakukan gerakan shalat dengan tuma`ninah, bukan seperti penari.

Pertama yang Akan Diangkat Oleh Allah

Khusyu’, sebuah kata yang mudah diucap tapi berat untuk diamalkan. Berapa banyak dari kita yang mengazamkan kekhusyu’an di awal shalat tapi menjadi lenyap tatkala takbir karena lintasan drama kehidupan yang dilakoni sebelumnya. Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah bahwa khusyu’ merupakan amalan yang pertama kali akan dicabut oleh Allah dari hamba-Nya.

Hal pertama yang diangkat dari ummat ini adalah khusyu’ sampai-sampai kamu tidak menemukan seorang pun yang khusyu’.” (HR. Thabrani)

Hudzaifah radhiyallahu’anhu berkata : “Yang pertama kali hilang dari agama kalian adalah khusyu’, dan yang terakhir kali hilang dari agama kalian adalah shalat. Kadang-kadang seseorang yang shalat tidak ada kebaikannya, dan hampir-hampir engkau masuk masjid tanpa menjumpai di dalamnya seorang pun yang khusyu’”.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang tingkatan pahala orang yang mengerjakan shalat:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Sesungguhnya seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala) baginya, kecuali sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, dan setengahnya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Hadits tersebut memberikan isyarat bahwa kuantitas dan kualitas pahala shalat kita salah satunya tergantung pada kekhusyu’an, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anha, “Engkau tidak mendapat pahala shalatmu kecuali yang engkau sadari dari shalat itu.”

Kenapa Tidak Khusyu’?

Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakkhusyu’an. Bisa karena kita tidak memahami makna doa-doa dan bacaan yang ada dalam shalat.  Mungkin pula karena banyaknya pikiran atau urusan yang belum terselesaikan ketika kita hendak melakukan shalat.  Juga karena tidak menghadirkan hati dan jiwa kita ketika mulai takbiratul ihram sehingga pikiran kita melayang kemana-mana dan memikirkan hal-hal diluar shalat. Badan di masjid tapi terkadang pikiran melayang kemana-mana. Amat kontras dengan keadaan para generasi pendahulu kita (salaf shaleh), meski badan masih di rumah namun hati mereka sudah sampai ke masjid.

Faktor lain yang menyebabkan ketidak khusyu’an adalah mengerjakannya dengan tidak tumakninah (tenang), padahal itu termasuk kesalahan besar yang disebut oleh Rasulullah shallahi ‘alaihi wasallam sebagai sebuah pencurian, bahkan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat.

Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya”, mereka bertanya, ‘Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?’ Beliau menjawab, “Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad)

Agar Bisa Khusyu’

Menghadirkan kekhusyu’an dalam shalat memang perkara yang tidak mudah. Namun dengan berusaha sambil memohon pertolongan kepada Allah, semuanya akan menjadi mudah. Diantara tips agar shalat kita khusyu’ adalah menghadirkan hati bahwa seolah shalat yang akan kita kerjakan adalah shalat yang terakhir kali di dunia ini. 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasehat kepada seorang pemuda,

Shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah, seolah-olah engkau melihat Allah subhana wa ta’ala, apabila engkau tidak melihat-Nya maka ketahuilah sesungguhnya Dia melihatmu..” (HR. At-Thabrani)

Seorang ulama salaf, Hatim Al Asham, pernah ditanya bagaimana cara ia menunaikan shalat. Ia menjelaskan, “Saya berdiri sesuai yang diperintahkan, berjalan dengan tenang, memulai shalat dengan menghadirkan niat, bertakbir dengan keagungan, membaca dengan tartil dan perenungan, ruku’ dengan khusyu’, sujud dengan tawadhu’, berucap salam sesuai sunah dan dengan penuh keikhlasan kepada Allah tetapi aku khawatir bila shalatku tidak diterima.”

Usahakan untuk tidak berlama-lama dalam mengerjakan, karena bisa jadi akan menyebabkan kebosanan dan pikiran melayang. Ammar bin Yasir adalah seorang sahabat yang biasa mengerjakan satu shalat dengan ringan. Ketika ditanyakan, “Kenapa Anda mengerjakan shalat dengan ringan wahai Abu Yaqhzhan (julukan untuk Amar) ?” Ia menjawab, “Apakah kalian melihat aku mengurangi sesuatu dari batasan-batasannya?” Mereka menjawab,”Tidak.” Ia berkata, “Sesungguhnya aku mendahului gangguan setan.” Begitu pula Zubair dan Thalhah serta sekelompok sahabat Nabi, mereka adalah manusia yang paling ringan shalatnya. Batasannya, tidak terlalu panjang hingga menyebabkan lalai dan bosan juga tidak terlalu pendek hingga merusak kekhusyu’an.

Pahala Khusyu’

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan pahala bagi mereka yang khusyu’ dalam shalatnya:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْمُ فِى صَلاَتِهِ فَيَعْلَمُ مَا يَقُوْلُ إِلاَّ انْتَفَلَ وَهُوَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Tidaklah seorang muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalu melaksanakan shalat dan mengetahui apa yang dibacanya (dalam shalat) kecuali ia terbebas (dari dosa) seperti di hari ia dilahirkan ibunya.”(HR. Al-Hakim)

Hadits tersebut memberikan petunjuk kepada kita bahwa seolah-olah kekhusyu’an adalah penghapus yang mampu menghapus dosa yang telah berlalu dan menghancurkan kesalahan yang telah lewat. Satu shalat yang dijiwai ruh itu cukup merubah lembaran dan catatan amal kita menjadi putih bersih.

Jika seorang hamba berdiri mengerjakan shalat, maka semua dosa-dosanya didatangkan lalu diletakkan di atas kepala dan kedua pundaknya. Tiap kali ia rukuk dan sujud maka dosa-dosanya berjatuhan.” (HR. Thabrani)

Abdurrahman Al Munawi mengaitkan hadits ini dengan kekhusyu’an, ia berkata, “Maksudnya tiap kali ia menyempurnakan satu rukun shalat, maka jatuhlah satu pilar dosa. Sehingga ketika ia selesai shalat habis sudah jatuhnya dosa. Ini dalam shalat yang memenuhi semua syarat, rukun dan kekhusyu’an…”

Akhirnya kita memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari hati yang tidak khusyu’: “Ya Allah aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ , dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari doa yang tidak dikabulkan.”

Sumber :

Terima Kasih Wahai Musuh

Ustadz Muhammad Nursani

“Terima kasih wahai musuh…Kalianlah yang menerbitkan semangat, meletakkan tantangan, membuka kecermatan, mendorong untuk berkompetisi, agar seseorang bisa lebih berhati-hati, lebih disiplin, lebih cermat mendidik diri, dan menghiasi diri untuk memiliki sikap yang terpuji. Berlomba dan berkompetisi dalam kebaikan adalah perilaku yang dianjurkan dalam Islam” (Salman Al Audah)

Dimusuhi, dibenci, dicaci, difitnah atau diperangi. Tak ada manusia yang suka dengan suasana-suasana hidup seperti itu. Karenanya, di antara perjalanan hidup yang paling buruk adalah saat kita melewati proses hidup yang melahirkan musuh, mendatangkan kebencian, mengundang caci maki, atau mengobarkan perang. Masalahnya, perjalanan hidup ini mengajarkan, bahwa dimusuhi, dibenci, dicaci, dan segala bentuknya juga mempunyai hikmah. Hikmah itulah yang kemudian mempunyai korelasi dengan firman Allah subhanawata’ala kepada Rasulullah shallahu’alaihi wassalam, yang artinya,

“Maka orang yang semula terdapat permusuhan antara dirimu dan ia, sepertinya terjadi hubungan yang sangat dekat”. (QS Fushshilat: 35)

Saudaraku,

Bersikap baik, berkomitmen dengan yang baik, berusaha sekuat tenaga berada di pihak yang kita yakin kebenarannya, tidak lantas menganulir kebencian, permusuhan, pertentangan dari pihak lain. Akan tetap ada situasi yang menjadikan diperlakukan seperti itu. Seperti seprang ulama Saudi, Salman bin Fahd Al Audah menuliskan artikel bertajuk, “Syukron Ayyuha Al A’daa”. Artinya, Terima Kasih wahai musuh. Lihatlah bagaimana ia memaparkan manfaat musuh yang melakukan kezaliman atas dirinya.

Beliau mengatakan,

“Terima Kasih wahai musuh. Kalianlah yang menjadikanku sadar untuk mengendalikan diri dan tidak hanyut dalam gelombang pujian. Kalian dijadikan Allah agar aku tidak menjadi sombong akibat pujian berlebihan, atau anggapan baik yang hanya melihat kebaikan dari diriku”.

“Terima kasih wahai musuh. Bagaimanapun kalian memberi manfaat kepadaku, meskipun sebenarnya, kalian tidak mau melakukan itu. Kalian telah menciptakan kemampuan untuk berpikir lebih seimbang dan adil. Mungkin ada seseorang yang berlebihan menunaikan haknya, lalu kalianlah yang menjadi sebab keseimbangan”.

“Terima kasih wahai musuh… Kalianlah yang menerbitkan semangat, meletakkan tantangan, membuka kecermatan, mendorong untuk berkompetisi, agar seseorang bisa lebih berhati-hati, lebih disiplin, lebih cermat mendidik diri, dan menghiasi diri untuk memiliki sikap yang terpuji. Berlomba dan berkompetisi dalam kebaikan adalah perilaku yang dianjurkan dalam Islam”.

“Terima kasih wahai musuh…kalianlah yang melatih kami untuk mampu bersabar dan lebih kuasa menanggung beban. Kalianlah yang membantu kami untuk lebih bisa menghadapi keburukan dengan kebaikan..”

“Terima kasih wahai musuh. Mungkin dalam timbangan amal kebaikan yang tidak bisa aku perolah hanya dengan kebaikan dan amal shalih, tapi hanya bisa diperoleh melalui kesabaran, menanggung beban, keridahan, bisa menerima, toleransi dan maaf…”

“Terima kasih wahai musuh. Aku merasa mungkin ada sebagian kata yang menyakiti kalian. Tapi sungguh aku tidak bermaksud menyakiti kalian. Tapi saya katakan sejujurnya, kalian adalah teman-teman sejati.”

Sampai disitu, syaikh Salman al Audah memaparkan tulisannya. Bila kita mau merenung lebih dalam, kita pasti bisa memperpanjang daftar terima kasih kepada orang yang memusuhi dan membenci kita.

Saudaraku,

Jika kita telah yakin berada di jalan yang benar, kita tidak perlu khawatir dan takut dengan permusuhan atau kebencian yang muncul. Kita harus bisa menerima perbedaan, perselihan, bahkan mungkin kebencian dan fitnah sebagai bagian dari alur hidup ini. Ini memang jalan hidup yang menjadi sunnatullah. Mari kita lihat peri kehidupan Nabi Muhammad shalallahuwa’alaihi wassalam yang telah Allah sebutkan, “Sungguh engkai berada di atas akhlak yang mulia..”. Tapi toh kemunafikan tetap saja ada di antara para sahabatnya. Bahkan penolakan, kebencian, fitnah, upaya pembunuhan, penghinaan juga muncul dari yang orang yang pernah bertemu dengannya. Karena pertentangan antara kebenaran dan kebatilan itu memang seusia dengan umur manusia.

Saudaraku,

Semua ini membuktikan, bahwa memiliki musuh tidaklah buruk. Memiliki musuh berarti ada lawan yang harus dikalahkan, ada rival yang mesti ditaklukkan. Memiliki musuh akan membuat kita berpikir mengenai teknik atapun strategi yang akan dijalankan, kapan menyerang, dan kapan bertahan. Memiliki musuh akan timbul harapan dan perjuangan untuk mencapai keberhasilan. Bukankah kalau mau hidup aman, kita harus siap untuk berperang? Ingat juga, bahwa musuh, tidak harus nyata dan kasat. Karena musuh ada yang nyata, dan ada yang tidak nyata. Setan melalui godaannya adalah musuh yang tidak nyata. Tapi ialah musuh utama. Kemudian hawa nafsi, amarah, dan keinginan bertindak salah juga musuh yang juga harus ditaklukkan.

Saudaraku, Ini hanya bagian dari kehidupan yang harus kita hadapi. Tap bukan karena hal ini kita justru menciptakan permusuhan dan mengundang perselisihan. Kita hanya wajib berpegang pada sesuatu yang kita yakini kebenarannya di sisi Allah. Itu saja.

Ditulis ulang dengan penyesuaian dari buku: “Berjuang di Dunia, Berharap Pertemuan di Surga”. Penerbit Tarbawi Press.

Keteguhan Dapat Mengalahkan Tipu Daya Musuh

Dr. Najih Ibrahim

“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku, yang berperang di atas kebenaran, yang menampakkan (kebenaran) terhadap orang-orang yang mencela mereka, hingga terbunuhnya orang yang terakhir dari mereka, yaitu al-Masih ad-Dajjal.” (HR Abu Dawud : 2484; Ahmad : IV/329 dan IV/343; Al-Hakim berkata : “Shahih menurut syarat Muslim” dan Imam adz-Dzahabi menyepakatinya)

Musuh-musuh Islam tidak lagi mendapat alasan untuk membenarkan kebatilan mereka. Karenanya reaksi mereka atas seruan kebenaran adalah melancarkan berbagai siksaan kepada mereka yang memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak mendapat reaksi lain yang lebih baik dari hal itu. Mereka selalu mengambil langkah ini saat mereka kehabisan cara untuk menghadang kebenaran.

Demikian reaksi Firaun menyambut seruan Musa ‘alaihissalam.

قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لأجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ

“Firaun berkata, ‘Sungguh jika kamu menyembah tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan’.” (QS Asyu-Syua’ra: 29)

Juga kepada mantan tukang sihirnya yang telah beriman,

لأقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلافٍ وَلأصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ

“Aku benar-benar akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya”. (QS Asyu’ara: 49)

Dengan reaksi yang sama pula kaum Ibrahim menjawab seruannya,

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

“Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian.” (QS Al Anbiya’: 68)

Begitupula reaksi yang diberikan kepada Yusuf ‘alaihissalam.

ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّى حِينٍ

“Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai suatu waktu.” (QS Yusuf: 35)

Demikian pula reaksi Umayyah bin Khalaf terhadap Bilal bin Rabah manakala ia terus menggumamkan kata “Ahad.. Ahad…” dari sanubarinya. Umayyah menyiksa dan mencambukinya di bawah terik matahari kota Mekah, lalu meletakkan sebongkah batu besar di atas perutnya.

Sama halnya dengan Ammar, Mush’ab, Khabbab, Ibnu Mas’ud, Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu’anhuma, bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Juga, Imam Ahmad bin Hambal. Ketika beliau menolak untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk; segera saja pukulan, cambukan, penjara, dan siksaan datang bertubi-tubi.

Pun demikian dengan Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim Al Jauziah.

Begitulah orang-orang fasik, orang-orang kafir, dan orang-orang murtad selalu menyambut para da’i di Jalan Allah dan para aktivis yang mengazamkan tegaknya din di zaman ini dengan reaksi yang seragam.

Inilah sambutan dari musuh-musuh Islam, akhir dari tipu daya mereka, dan anak panah terakhir yang mereka miliki. Inilah hal terbaik yang dapat mereka lakukan untuk mempertahankan kebatilan dan kesekuleran mereka.

Oleh karena itu, jika mereka telah menyambut Anda dengan reaksi seperti itu, lalu Anda tetap kokoh di atas kebenaran, dan sabar menghadapi cobaan, sungguh hal itu telah menghancurkan seluruh rencana yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Memupus tipu daya mereka mentah-mentah, serta menggagalkan upaya mereka untuk mengatur dan melancarkan berbagai makar.

Sesungguhnya keteguhan, keseabaran, dan komitmen Anda kepada Allah termasuk faktor kemenangan bagi Islam dan kegagalan bagi musuh-musuhnya.

Lihatlah bagaimana keadaan musuh yang menyadari bahwa anak panah mereka telah patah, usaha mereka telah sia-sia, upaya yang mereka adakan telah gagal-berlalu bagaikan angin yang berhembus-dan tipu daya mereka telah sirna begitu saja?

Bagaimana keadaan mereka jika mereka tahu bahwa berbagai tindak intimidasi yang mereka lancarkan hanya menambah kekuatan, keikhlasan, dan keteguhan kita. Setiap kali mereka menambah intensitas siksaan kepada ahlulhaq, setiap kali itu pula lahir generasi yang lebih kuat, lebih kokoh, lebih bijak, dan lebih berakal. Generasi yang terbina untuk selalu melaksanakan perintah pada ‘azimah (hukum asal) dan bukan rukhsah (keringanan), serta mengambil sedikit saja dari yang mubah. Generasi yang telah menceraikan dunia dengan talak baik, tiada kesempatan baginya untuk kembali kepadanya.

Sehubungan dengan ini, ada ungkapan yang indah dari seorang aktivis yang membuat saya tertegun. Dia berkata, “Apa gerangan yang terjadi manakala musuh-musuh kita tahu bahwa tipu daya mereka tidak melemahkan hati kita, justru menguatkannya ; tidak memupus cita dan asa kita, tetapi malah mengukuhkannya ; dan tidak menurunkan semangat kita, tetapi sebaliknya meninggikannya. Bagaimana keadaan mereka, jika mereka tahu bahwa kita semakin dekat kepada Allah manakala kesulitan dan cobaan semakin berat.

Ya, setiap kali ujian semakin menggila dan upaya musuh semakin membabi buta, setiap kali itu pula qalbu bersujud di hadapan Rabbnya, berazam untuk terus melanjutkan amalnya tanpa sedikitpun melemah, dan senantiasa memohon kepada Pelindungnya agar memurnikannya dari segala yang dibenci-Nya dan agar Dia selalu menjaganya. Bagaimana kira-kira kejengkelan mereka manakalah mereka tahu bahwa mereka telah menjadi kendaraan kita untuk menyelesaikan suatu tujuan? Tujuan pembersihan dan penjernihan. Lalu apa manfaat dari kejengkelan mereka itu?”

قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ

“Katakanlah, ‘Matilah bersama kemarahan kalian’.” (QS Ali Imran:119)

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untk membinasakan orang-orang beriman.” (QS An-Nisa’: 141)

Sesungguhnya, keteguhan Anda di atas kebenaran dan kesabaran Anda dalam menghadapi ujian menjamin kehancuran musuh-musuh Islam. Bukan hanya aspek teori dan konsep saja. Keteguhan dan kesabaran akan menghancurkan mereka : eksistensi, institusi, dan konstitusi sekaligus.

Sesungguhnya, kesabaran dan keteguhan sekelompok kecil orang yang beriman dengan keimanan yang hakiki dan orang-orang yang berkomitmen kepada kebenaran menjamin kehancuran pemerintahan sekuler dari dasarnya sehingga jungkir balik. Itu terjadi setelah kehancuran pemikirannya, konsep-konsepnya dan dasar-dasarnya.

Bukankah keteguhan Abu Bakar Ash-Shidiq dan kesabarannya ketika terjadi harakaturridah (gerakan murtad massal) merupakan faktor utama dari lenyapnya fitnah kemurtadan itu? Fitnah yang menimpa seluruh jazirah Arab terkecuali tiga kota saja : Mekah, Madinah, dan Jawatsa di Bahrain.

Kini kita sering mendengar ungkapan, “Kemurtadan ada dimana-mana, namun tiada lagi Abu Bakar untuk menanggulanginya.” Bahkan, keteguhan yang menakjubkan dari Abu Bakar dalam situasi yang sulit inilah yang mengguncangkan singgasana orang-orang murtad dan meruntuhkannya, meski mereka memiliki perbekalan dan pengikut yang lebih dari cukup dan pasukan yang benar-benar pemberani.

Abu Hurairah—siapa yang tak kenal Abu Hurairah—dengan kesadaran penuh atas apa yang diucapkan mengatakan,
“Demi Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia. Kalau saja bukan Abu Bakar yang diangkat menjadi khalifah, niscaya Allah tidak lagi disembah!” Mereka yang mendengar ucapan itu berkata, “Jangan begitu wahai Abu Hurairah!” (HR Baihaqi dengan sanad hasan. Lihat Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir: VI/305 dan Kanzul Ummat: III 129)

Bukankah keteguhan dan kesabaran Imam Ahmad bin Hambal kala dipenjara, disiksa, dan dicambuki menghadapi fitnah Khalqul Qur’an yang menyelimuti seluruh kaum muslimin saat itu dan hampir-hampir mengubah aqidah as-salafus shalih adalah penghancur utama keburukannya, dan pembatal tipu daya para penganutnya? Siapakah para penganut itu? Tiada lain adalah para penguasa, para pejabat, para menteri, dan orang-orang yang setia kepada mereka.

Ketegaran sang Imam-lah yang memberikan pengaruh besar dalam kontinuitas penulisan aqidah umat, setelah nyaris dieksekusi oleh tangan-tangan sesat para ahli bid’ah. Ketika sang Imam mendatangi Mu’tashim dan selanjutnya ditanya tentang Khalqul Qur’an, seseorang memperingatkannya, “Sesungguhnya amirul mukminin telah bersumpah untuk tidak membunuhmu dengan sabetan pedang. Yang akan kamu hadapi adalah cambukan demi cambukan”

Pada hari ketiga, Mu’tashim mendatanginya seorang diri. Ia mengatakan bahwa sebenarnya ia sangat mencintai sang Imam sebagaimana mencintai Harun, anaknya. Namun, Imam Ahmad tetap tak bergeming dengan jawabannya sejak semula. Tidak sedikitpun ia mencabut kata-katanya. Mu’tashim murka seraya berkata, “Terlaknatlah kamu, aku sudah bersusah payah mendatangimu! Siksa dia!”

Mu’tashim memerintahkan bala tentaranya untuk melucuti pakaian sang Imam selain kain sarungnya. Kemudian mereka merantainya dan mencambukinya. Kabarnya, jumlah algojo yang ditugaskan untuk mencambukinya banyak sekali. Mereka bergantian melaksanakan eksekusi ini. Salah seorang dari mereka pernah mengejeknya. Sambil bertopang pada pangkal pedangnya, ia berkata, “Apakah Anda hendak mengalahkan mereka semuanya?”

Setiap hari mereka mencambuki sang Imam sampai pingsan! Dan ini berjalan selama berbulan-bulan.

Cambukan para algojo ini telah meninggalkan bekas yang tak terbilang pada tubuh renta sang Imam. Seseorang yang pernah datang untuk mengobati luka-luka bekas cambukan itu berkata, “Demi Allah, aku telah melihat seribu bekas cambukan! Belum pernah aku saksikan bekas cambukan sehebat itu!”
Bekas cambukan itu tetap menghiasi punggung sang Imam sampai akhir hayat beliau.

Di antara sekian peristiwa yang dijalani oleh Imam Ahmad, yang paling menakjubkan adalah bahwa satu-satunya perkara yang beliau khawatirkan saat itu adalah terbukanya sirwal (celana kolor) dan terlihatnya aurat beliau di saat beliau menerima siksaan di hadapan khalayak yang menyaksikan prosesi penyiksaan. Maka beliau pun banyak-banyak berdoa, memohon supaya auratnya tidak tersingkap. Dan Allah mengabulkan permohonan sang Imam. (Al-Bidayah wan Nihayah: X/267-274, 330-340)

Kisah ini, meskipun singkat, telah banyak memberikan dampak positif bagi saya dan banyak ikhwah yang telah melewati masa ujian. Masa ujian yang beberapa bagiannya mirip dengan yang dialami oleh Imam Ahmad. Semoga Allah senantiasa merahmati beliau dengan rahmat yang luas. Semoga Allah membalas beliau dengan balasan yang baik atas jasa beliau yang besar terhadap Islam.

Referensi:
Risalah illa kulli man ya’malu lil Islam. Dr Najih Ibrahim Kepada Aktivis Muslim. Aqwam. Cetakan III, h 29-36