Menyegarkan Kembali Semangat Memahami Agama

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah, 9: 122)
 
Ibnu Katsir rahimahullah meriwayatkan dari Ikrimah, ia berkata, “Bahwa ketika turun ayat ‘Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih’ (QS At Taubah, 9: 39), orang-orang munafik berkomentar, ‘Sungguh binasa orang-orang kampung yang tidak turut dan berangkat perang bersama Muhammad’. Hal ini ditujukan kepada beberapa orang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tetap tinggal di kampung halamannya mengajari kaumnya tentang urusan agama, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat 122 dari surat At Taubah di atas.” (Tafsir Ibnu Katsir III/65).

Versi riwayat lain menyebutkan, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Di saat Allah mengancam dengan keras orang-orang yang tidak berangkat untuk berperang, mereka kemudian bertekad sambil berkata, “Tidak akan ada seorang pun dari kami yang akan tinggal dan tidak ikut berangkat dalam suatu misi militer selama-lamanya”. Dan mereka benar-benar membuktikan ucapannya sehingga semuanya berangkat dan membiarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tinggal sendirian, maka turunlah ayat tersebut (At Tafsir Al Munir, DR Wahbah Az Zuhaili XI/77).

 
Kandungan Lafazh Tafaqquh Fiddin

Akar kata yang terdiri dari fa-qa-ha menunjukkan arti mengetahui dan memahami sesuatu. Seorang yang alim dan cerdas disebut faqih. Pada mulanya istilah tafaqquh fiddin adalah untuk pekerjaan mengerti, memahami, dan mendalami seluk-beluk ajaran agama Islam. Namun pada periode berikutnya, istilah fiqih digunakan untuk ilmu-ilmu syariat sebagai lawan dari ilmu tauhid yang berkaitan dengan aqidah.

Dalam Al-Qur’an, istilah tafaqquh fiddin disebut hanya sekali. Arti dari liyatafaqqahu fiddin ialah “agar mereka memahami tentang agama”. Kata ad-din dalam rangkaian istilah tersebut berarti “agama” dalam arti yang luas, bukan “agama’ dalam arti sempit, seperti mempelajari seluk-beluk wudu dan masalah-masalah shalat, atau hanya menyangkut masalah fiqih. Agama yang oleh ungkapan tersebut didorong untuk didalami dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada saat beliau berada di tempat/Madinah karena tidak berangkat memimpin perang, meliputi berbagai informasi yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang telah diterima Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada periode Mekah selama 13 tahun, dan juga masalah-masalah agama yang mungkin dapat disampaikan Nabi pada saat para sahabat yang berminat melakukan tafaqquh fiddin.[1]

Dalam kajian Ibnu ‘Asyur, lafazah ‘tafaqquh’ (dalam kalimat: liyatafaqqahuu fiddiin) mengikuti wazan tafa’ul yang menyiratkan makna takalluf (bersungguh-sungguh dan mengerahkan semua potensi) guna memperoleh pemahaman yang benar dalam urusan agama. Sebab, memahami agama secara baik dan benar bukan sesuatu yang dapat diraih dengan mudah, melainkan ia memerlukan usaha yang keras, biaya yang tidak murah dan waktu yang lama (Lihat: Tafsir Ibnu ‘Asyur X/229).

Tafaqquh Fiddin, Penting!

Ayat ini merupakan bayan dari Allah Ta’ala tentang pentingnya ‘tafaqquh fiddin’ sebagai upaya untuk memahami agama; menegaskan urgensi mencari ilmu dan ‘tazawwud bil fahmi wal ilmi wa ats-tsaqafah’ (berbekal ilmu, pemahaman dan pengetahuan) tentang agama yang hanif, agama yang fithrah dan agama yang menjadi ‘manhajjatan baidho’ (pedoman hidup yang putih dan bersih).[2]

Yang menarik, menurut Ustadz Ahmad Kusyairi Suhail, bahwa ayat tafaqquh fiddin ini berada di tengah-tengah pembahasan tentang jihad bil qital (perang) yang menjadi tema sentral dari surat At-Taubah. Sebelum ayat tersebut, Allah Ta’ala menyinggung tentang perang Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H dan suasana yang menyelimuti kaum muslimin pada saat perang maupun pasca perang, lalu pada ayat sesudahnya (QS At Taubah: 123), kembali Allah Ta’ala menyinggung masalah perang. Hal ini, lanjut Ustadz Suhail, memberikan pemahaman kepada kita, bahwa seorang mukmin tidak boleh terlalu asyik masyuk dengan satu bentuk ibadah, lalu melupakan ibadah yang lain. Melainkan, ia harus senantiasa tawazun (seimbang) dan syamil (menyeluruh dan utuh), dan tidak terperangkap dengan hal yang juz’i (parsial). Karenanya, semangat mencari ilmu harus selalu dikobarkan dan tidak boleh padam dalam suasana segenting apa pun.

Ustadz Suhail menegaskan, “Jika di tengah kobaran semangat jihad yang menyala-nyala, Allah Subhana wata’ala mengingatkan pentingnya tafaqquh fiddin dan tidak boleh dilalaikan, apatah lagi dalam berbagai aktivitas lainnya, tentu lebih tidak diperbolehkan lagi untuk meninggalkan mencari ilmu. Kesibukan kita dalam jihad siyasi (politik) tidak boleh melunturkan semangat tafaqquh fiddin. Kesibukan kaum ibu dalam jihad ‘aili (berjuang dalam mengurus rumah tangga) tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak memperdalam pengetahuan mereka tentang agama. Kesibukan mencari nafkah juga tidak boleh membuat seorang mukmin tidak pernah mengalokasikan waktu guna mencari ilmu. Walhasil, tafaqquh fiddin tidak dibatasi oleh usia, waktu, tempat, situasi dan kondisi.” [3]

Setiap muslim dan khususnya para aktivis dakwah hendaknya menyadari bahwa salah satu kunci sukses generasi terbaik binaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam; para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga mereka mampu melakukan perubahan dalam peradaban dunia dan mendatangkan banyak kemenangan, kemajuan dan kejayaan di semua aspek kehidupan, termasuk keberhasilan dalam memenej rumah tangga mereka, adalah berawal dari semangat membara mereka dalam mencari ilmu dan tafaqquh fiddin.

Mencari Ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Ia merupakan kegiatan sepanjang hidup manusia dari kecil sampai dewasa. Bahkan, begitu amat pentingnya ilmu,  sampai-sampai lafazh ‘ilmu dan kata jadiannya disebut dalam Al Qur’an sekitar 427 kali, mengalahkan penyebutan lafazh ‘shalat’, ‘zakat’ dan lainnya.

Ilmu itu kehidupan dan cahaya, sementara al-jahl (kebodohan) itu kematian dan kegelapan. Adalah hal yang aksiomatis, bahwa semua keburukan itu penyebabnya adalah tidak adanya kehidupan dan cahaya, sedang semua kebaikan penyebabnya adalah cahaya dan kehidupan. Perhatikan firman Allah Ta’ala:

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya?” (QS Al An’aam, 6: 122).
 
Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya  menyediakan waktu untuk menuntut ilmu, terutama ilmu-ilmu syar’i untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah sebagai ‘al-marji’iyyah al-‘ulyaa’ (referensi utama) bagi setiap muslim; dan sebagai ‘al-mi’yar al-asasi’ (standar utama) untuk melihat ilmu-ilmu yang lainnya dan mengarahkan serta melandasinya. 

Ustadz Abdussalam Masykur menyebutkan bahwa selain menyebutkan tentang pentingnya menuntut ilmu ayat tersebut di atas juga menunjukkan pentingnya proses ‘ta’lim muta’allim’ (belajar mengajar) dan pentingnya tujuan atau target dan sasaran, karena selain ber-‘tafaqquh fiddin’ juga harus ada ‘wa liyundziruu qaumahum’ (memberi peringatan kepada kaumnya), kemudian ‘la’allahum yahdzarun’ (agar mereka menjaga dirinya). Ini sebuah proses yang teratur dan luar biasa. Ini adalah manhaj rabbani dalam mencari ilmu dan memahami agama.

 
Ilmu dan Tegaknya Keimanan

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq, 96: 1 – 5)

Sejak awal kemunculannya di jazirah Arab, ajaran Islam yang dibawa Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengumandangkan penghargaannya yang tinggi terhadap qalam (alat tulis). Islam memancangkan ajaran pertama yang dijadikan dasar pokok dalam membina manusia adalah dengan baca tulis dan menuntut ilmu.

Muhammad Al-Ghazali mengatakan bahwa watak ajaran Islam mewajibkan pemeluknya menjadi ummat yang terpelajar, dimana jumlah orang yang berpendidikan semakin meningkat, sedangkan jumlah orang yang tidak berpendidikan terus berkurang dan akhirnya lenyap. Hal itu menurutnya disebabkan oleh kenyataan, bahwa hakekat ajaran Islam, baik dasar-dasar pokok maupun cabang-cabangnya, bukanlah upacara-upacara kebaktian pusaka nenek moyang dan bukan pula mantera-mantera yang disebarluaskan atas dasar angan-angan dan khayal. Dasar-dasar ajaran Islam diambil dari kitab suci yang penuh hikmah dan dari sunnah Rasul Allah yang penuh dengan tuntunan. Di dalamnya terkandung pengertian-pengertian intelektual, metode-metode yang tinggi dan tata kehidupan yang luhur.

Di samping itu, tafakkur alam semesta sebagaimana banyak diketengahkan dalam Al-Qur’an, dipandang oleh Islam sebagai dasar pokok untuk menegakkan iman yang mantap dan kokoh.

Tidak hanya itu saja, di dalam ajaran Islam terdapat juga seruan kepada segenap ummat manusia supaya mengikuti kebenaran dan terus menerus mencarinya walaupun rumit dan tersembunyi. Islam menolak hipotesa-hipotesa berdasarkan pemikiran yang mengambang, dan melarang pemeluknya terjerumus mengikutinya. Islam meletakkan sistim pengawasan yang ketat terhadap pendengaran, penglihatan, dan hati. Itu saja sudah cukup untuk mewujudkan suatu masyarakat yang jauh dari ketakhayulan dan angan-angan kosong, bukan masyarakat yang tenggelam di dalam kepercayaan kepada jimat-jimat, dongeng-dongeng kosong dan segala macam kebatilan, atau masyarakat yang dikuasai oleh tradisi dan adat istiadat tidak karuan yang sama sekali bukan berasal dari ajaran Ilahi.

Agama Islam tidak akan memperoleh tempat yang mantap kecuali di kalangan manusia yang berilmu pengetahuan matang dan manusia berakal cerdas. Bila Anda memperhatikan masalah shalat, tentu Anda akan menemukan kenyataan bahwa baik shalatnya itu sendiri maupun adzan sebelumnya, dua-duanya merupakan amal perbuatan yang rasional. Adzan adalah kalimat-kalimat yang mengetuk pikiran serta membangkitkan hati dan perasaan, yaitu mengagungkan Allah (takbir), pernyataan kesaksian atas keesaan Allah (tauhid), dan ajakan untuk meraih keberuntungan. Dalam Islam aba-aba dimulainya shalat bukan dengan membunyikan lonceng yang dentangan suaranya memenuhi angkasa dan hanya mengetuk perasaan tanpa kata-kata yang jelas. Dalam shalat dibaca ayat-ayat yang diambil dari kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran kebajikan dan petunjuk-petunjuk yang dapat dicerna oleh akal pikiran.

Muhammad Al-Ghazali menegaskan, memang benar bahwa kemantapan seseorang dalam menghayati agama Islam banyak tergantung pada tingkat kecerdasan pikirannya, kebersihan hatinya dan kelurusan fitrahnya. Tidak mungkin orang pandir atau orang yang tidak sehat jiwanya akan mudah begitu saja memeluk Islam.[4]

Menyegarkan Kembali Semangat Tafaqquh Fiddin

Mari kita segarkan kembali semangat tafaqquh fiddin. Mulai dari diri sendiri! Mari kita tanamkan kebiasaan, sikap dan nilai yang baik berkaitan dengan thalabul ilmi.

Menuntut Ilmu

Tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan pintar, mahir, dan ahli. Semua manusia lahir dalam keadaan tidak mengetahui suatu apa pun. Hal ini dijelaskan Allah SWT dengan firman-Nya,

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl, 16: 78).

Manusia akan menjadi berilmu manakala mampu memanfaatkan pendengaran, penglihatan, dan hatinya dengan baik. Ia harus mencari ilmu dan terus mencari. Sadarilah, ilmu tidak akan pernah datang menghampiri.

Marilah kita teladani para salafu shalih. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu pergi ke Syam menempuh perjalanan selama satu bulan hanya untuk mendengarkan satu hadits saja dari Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu. Hadits tersebut ialah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia itu nanti akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tidak memakai pakaian dan tidak dikhitan”.[5]

Sedangkan Abu Ayyub Al-Anshori pergi dari Madinah ke Mesir menemui ‘Uqbah bin Amir hanya untuk mendengarkan satu hadits saja yaitu sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa menutup aib saudara muslimnya di dunia, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat”.[6]

Abul ‘Aliyah berkata: “Kalau kami mendengar sebuah hadits itu datang dari seorang sahabat, maka kami tidak puas kecuali kami pergi menemui sahabat yang memiliki hadits tersebut”.[7]

Membiasakan Menghafal

Kita tidak akan mampu membawa ilmu kalau ilmu tersebut hanya ada dalam catatan. Maka membiasakan menghafal adalah satu sikap yang harus dipegang teguh.

Abu Zur’ah berkata, “Adalah Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”. Berkata Sulaiman bin Syu’bah: “Sesungguhnya murid-murid Abu Dawud menyalin hadits dari Abu Dawud sebanyak 40.000 hadits. Sedangkan Abu Dawud tidak memiliki buku”. Sementara itu Abu Zur’ah Arrazi berkata: “Aku hafal 200.000 hadits seperti bagaimana orang lain menghafal surat Al-Ikhlash”. [8]

Membiasakan Menulis

Karena membuat karya tulis akan memperkuat kapasitas keilmuan. Inilah budaya yang harus dikembangkan di tengah-tengah ummat, khususnya di kalangan aktivis dakwah.

Ibnul ‘Arabi menulis dalam bidang tafsir sebanyak 80 juz (di luar karyanya yang lain dalam bidang Ushul, Hadits, dan juga Tarikh). Ibnu Abi Dunya menulis 1.000 karya tulis. Imam Hakim menulis lebih dari 1.000 macam. Ibnu Asakir menulis dalam bidang Tarikh sebanyak 80 jilid. [9]

Menjaga Semangat Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu dan mengembangkannya memerlukan semangat yang besar. Semangat musiman tidak akan mungkin dapat diandalkan untuk membangun kapasitas ilmu.

Ibnul ‘Aqil Al-Hambali berkata: “Sesungguhnya semangatku untuk menuntut ilmu di usiaku yang 80 tahun sama dengan semangatku ketika usiaku baru 20 tahun”.
 
Semangat itu sangat diperlukan sebagai modal awal menuntut ilmu. Suatu hari Ibnu Jarir Atthabari menawarkan kepada murid-murid dan teman-temannya: “Maukah kalian belajat tafsir?” Mereka menjawab: “Berapa banyaknya?” Atthabari menjawab: “30.000 lembar”. Murid-muridnya itu pun berkata: “Sungguh itu adalah jumlah yang sangat banyak yang mungkin usia kita akan habis sementara ia belum selesai.” Maka diringkaslah oleh Atthabari menjadi 3.000 lembar. Kemudian ketika mereka ditanya tentang apakah mereka mau belajar sejarah manusia semenjak masa Adam hingga masanya, mereka pun menjawab dengan hal yang sama. Mendengar hal itu berkatalah Atthabari: “Sungguh telah mati semangat dan kemauan kalian!” Kemudian ia meringkas sejarah itu menjadi sekitar 3.000 lembar pula.

Imam Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimanakah semangat Anda menuntut ilmu?” Beliau menjawab, “Saya mendengarkan huruf demi huruf seakan-akan huruf-huruf itu belum pernah saya temukan selama ini. Karena itu saya kerahkan seluruh anggota tubuh saya untuk menyimaknya.”

Beliau ditanya lagi, “Bagaimana minat Anda terhadap ilmu?” Imam Syafi’i menjawab, “Minat saya laksana orang mengumpulkan makanan dan berambisi menikmati kelezatannya secara sempurna.”

“Lalu bagaimana Anda mencarinya?” lanjut si penanya, “Saya mencarinya laksana seorang wanita yang kehilangan anak satu-satunya yang di dunia ini ia tidak memiliki apa pun selain dia.” Jawab Imam Syafi’i.[10]

Ibnu Mas’ud berkata, “Ketahuilah bahwa tidak ada satupun diantara kalian yang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan jalan belajar. Maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang ahli ilmu, atau orang yang menuntutnya, atau orang yangmendengarkannya. Belajarlah kalian, karena sesungguhnya kalian tidak tahu kapan ilmu kalian itu akan dibutuhkan”. [11]

Merenung, Berbuat, dan Berfikir Dalam Ilmu

Aktivitas peningkatan dan pencarian ilmu perlu dilakukan setiap saat. Sehingga kita hendaknya merenung dalam ilmu, berbuat dalam ilmu, dan berfikir dalam ilmu.

Ibnu ‘Aqil Al-Hambali berkata, “Sesungguhnya tidak benar bagiku jika menyia-nyiakan waktu walau sesaat dari usiaku. Kalaupun lisanku berhenti dari menghafal, atau mataku berhenti dari membaca, maka aku menyibukkan fikiranku pada saat istirahatku itu hingga ketika aku bangun pasti telah kumiliki dalam diriku apa yang akan aku tulis kemudian”.

Imam Bukhari apabila terjaga dari tidurnya, maka ia menyalakan lenteranya kemudian menulis apa-apa yang terbetik dalam dirinya dari berbagai ilmu. Kemudian ia tidur dan begitu seterusnya sampai kadang-kadang dalam satu malam ia melakukan hal itu sebanyak 20 kali.

Imam Juwaini berkata, “Biasanya aku tidak pernah tidur dan makan. Tetapi aku tidur karena tertidur dan makan karena aku memang membutuhkannya. Sehingga aku tidur dan makan kapan saja. Karena kenikmatanku ada pada menuntut ilmu.”

Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat

Generasi terdahulu telah memberikan teladan yang baik. Mereka mengajarkan kepada kita bahwa selama manusia masih bisa mencari ilmu, maka ia harus terus melakukannya.

Muhammad bin Ishaq telah mengambil ilmu dari 1700 orang guru. Ia pergi menuntut ilmu dalam usia 20 tahun dan pulang dalam usia 40 tahun. Sedangkan Imam Bukhari mengambil ilmu lebih dari 1000 orang Syaikh.
 
Ada sebuah kisah mengharukan tentang semangat menuntut ilmu. Menjelang wafatnya Ibnu Jarir Atthabari mendengar do’a yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Muhammad. Ia kemudia meminta orang yang ada di sekitarnya untuk mengambilkan pena dan kertas. Orang-orang pun berkata kepadanya, “Kondisimu sudah seperti ini, tidak usahlah melakukannya.” Atthabari kemudian menjawab, “Tidak semestinya seseorang meninggalkan datangnya ilmu meskipun sampai mati”. Beberapa saat kemudian beliau pun wafat.

Menjadi Bangsa yang Besar dengan Ilmu

Hari ini kita mungkin dalam keadaan terhina dan terpuruk. Tetapi jangan pesimis, karena tidak lama lagi kita akan segera bangkit dan memimpin dunia, menjadi ustadziyatul alam (guru dunia).

Di kedua tangan kita ada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber petunjuk yang memberkahi ilmu yang kita miliki. Tugas kita saat ini adalah belajar dan terus belajar.

Al-Hasan bin Ali berkata, “Belajarlah kalian, tuntutlah ilmu, sesungguhnya jika kini kalian adalah orang-orang yang kecil dan tidak diperhitungkan manusia, maka kelak kalian akan menjadi orang-orang besar yang diperlukan manusia.” [12]
 
Tanamkanlah semangat di dalam dadamu wahai muslimin! Mari kita rem nafsu menghambur-hamburkan waktu dengan hal-hal yang tidak perlu. Sungguh, fajar kemenangan bukanlah impian, jika kita mau belajar, menuntut ilmu, dan ber-tafaqquh fiddin….

Sumber: Menyegarkan Kembali Semangat Tafaqquh Fiddin. Al-intima.com 

———————
Maraji’:

1. Pentingnya Tafaqquh fiddin, Abdussalam Masykur

2. Semangat Tafaqquh Fiddin, H. Ahmad Kusyairi Suhail, MA.

3. Al-Qur’an Wa Tafsiruhu Jilid IV, Kementrian Agama RI

4. Akhlak Seorang Muslim, Muhammad Al-Ghazali

5. Waqfah Tarbawiyah, Edisi 07, Volume I, 1996
 
Footnote:
——————-
[1] Al-Qur’an wa tafsiruhu, hal. 231 – 232.

[2] Pentingnya Tafaqquh fiddin, Abdussalam Masykur

[3] Semangat Tafaqquh Fiddin, H. Ahmad Kusyairi Suhail, MA.

[4] Akhlak seorang Muslim, Muhammad Al-Ghazali, hal. 407 – 410

[5] Riwayat Muslim dari Aisyah (2589)

[6] Riwayat Bukhari (2310), Muslim (2580)

[7] Thabaqah Ibnu Sa’ad, VII/122

[8] Sifatusshofwah, II/337, IV/88

[9] Al-Ilmu Dhorurah Syar’iyyah, Dr. Nashir Al-Umar hal. 22 – 25.

[10] Tarikh Baghdad

[11] Al-Adab Assyar’iyyah, Ibnul Muflih II/34

[12] Jami’u bayanil ‘ilmi, Ibnu Abdul Barr I/82

7 Keutamaan Mempelajari Ilmu Agama

Manhajtarbiyah

Bismillahirrohmanirrohim.
Segala puji hanya milik Allah subhana wata’ala, Yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita. Shalawat serta salam mari kita curahkan kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam, teladan kita sepanjang hayat. Amma ba’du

Sesungguhnya Islam adalah agama yang tidak membiarkan umatnya dalam kebodohan, sehingga bukannya menimbulkan perbaikan, malah kerusakan. Islam adalah agama yang sempurna, dan sangat meninggikan ilmu, khususnya ilmu agama. Ini terbukti dari firman Allah dalam Al-Quran, sabda Rasululllah shallahu ‘alaihi wasallam, dan teladan para salafusshaleh (generasi pendahulu). Dan keutamaan mempelajari ilmu agama adalah sebagai berikut.

1. Mempelajari Ilmu Adalah Wajib Bagi Muslim

Oleh karena bahaya akibat kebodohan yang begitu besar, maka agama Islam memberikan resep obat untuk menghilangkan penyakit tersebut. Yaitu mewajibkan para pemeluknya untuk menuntut ilmu. Dan hukum wajib berarti sesuatu yang harus dilakukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.” [HR. Ibnu Majah, no.224)[1]

Dari hadits yang mulia ini didapatkan sebuah keterangan bahwasanya setiap orang yang bersyahadat, maka wajibnya baginya menuntut ilmu. Tentu kewajiban pertama adalah menuntut ilmu agama, yang dengannya ia dapat mengamalkan shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya. Dan barangsiapa yang tidak berlandaskan ilmu dalam beramal, maka bisa jadi amalannya tidak diterima.

2. Bukti Allah Memberikan Hidayah Kebaikan

Siapa yang tidak ingin diberikan hidayah oleh Allah subhana wata’ala, yang dengan hidayah kebaikan tersebut seorang muslim dapat terjaga dari kesesatan dan keburukan? Begitulah salah satu keutamaan orang yang mempelajari ilmu agama. Maka bagi mereka yang merasa jauh dari hidayah Allah, seharusnya bersegara mempelajari agama.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam)” (HR Bukhari no. 2948 dan Muslim no. 1037)

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalaani berkata: “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia, dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya.” (Fathul Baari (1/165)

3. Mereka Yang Berilmu Adalah Sumber Rujukan

Allah Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ‪‬

Maka, bertanyalah kepada ahli dzikr jika kalian tidak tahu.” (QS. An Nahl (16): 43)

Ahli dzikri dalam ayat ini adalah bermakna Ahlul ‘Ilmi (ilmuwan), juga ahli Al Quran, sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma[2]. Ini juga dimaksudkan bahwa semua ahli ilmu, bidang apapun, maka ia harus dijadikan rujukan pada bidangnya. Jika bertanya perihal mesin, maka tanyalah pada ahli permesinan. Jika perihal kesehatan badan, maka tanyalah pada dokter. Dan juga, secara khusus ayat ini juga menceritakan keunggulan Ahlul  Quran, dan Adz Dzikr adalah nama lain dari Al Quran.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rahmatullah ‘Alaih berkata:

“Secara umum, dalam ayat ini terdapat pujian terhadap ahlul ilmi (ilmuwan), dan jenis yang paling tinggi adalah pengetahuan terhadap Kitabullah (Al Quran). Maka, Allah memerintahkan orang yang tidak tahu untuk  mengembalikan kepada mereka dalam berbagai urusan, dan di dalamnya juga terdapat pujian dan mentazkiyah (membanggakan) ahli ilmu, yakni ketika Allah memerintahkan untuk menanyai mereka. Dan, dengan hal itu dapat mengeluarkan orang bodoh  dari sifat ikut-ikutan, dan menunjukkan bahwa Allah mengamanahkankan mereka atas wahyuNya dan kitabNya. Mereka juga diperintahkan untuk mentazkiyah para ulama dengan sifat-sifat yang baik. Sebaik-baiknya Ahludz Dzikr adalah ahlinya Al Quran Al ‘Azhim, merekalah ahli dzikri sebenarnya, dan mereka lebih utama disbanding selainnya dengan penamaan ini. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: (Kami menurunkan kepadamu Adz Dzikr) yaitu Al Quran yang di dalamnya terdapat peringatakan (Dzikr) yang dibutuhkan hamba-hamba Allah, berupa perkara agama dan dunia mereka, baik yang nampak maupun tersembunyi.” [3]

4. Allah Ta’ala Memerintahkan Agar Mentaati Ulama

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan Ulil Amri di antara kalian.” (QS. An Nisa (4): 59)

Siapakah yang dimaksud ulil Amri dalam ayat ini? Berikut penjelasannya dalam Tafsir Ibnu Katsir,

“Berkata Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas (dan Ulil Amri di antara kalian) yakni ahli fiqh (ilmu) dan agama. Demikian pula kata Mujahid, ‘Atha, Al Hasan Al Bashri, dan Abul ‘Aliyah (dan Ulil Amri di antara kalian) yakni ulama. Dan zahirnya ayat ini –wallahu a’lam- bahwa semua makna ulil Amri adalah  dari kalangan umara (penguasa) dan ulama (ilmuwan)”. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/345. Dar Ath Thayyibah)

Maka merekalah yang harus ditaati pada bidangnya masing-masing, karena mereka lebih tahu wilayah mereka. Ini adalah pujian dari Allah sekaligus perintah bagi orang-orang beriman. Dan syarat para ulama dan ilmuwan ditaati adalah ketika mereka tidak bertentangan dengan Alquran dan Hadits.

5. Derajat Mereka Ditinggikan oleh Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman:

فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al Mujadillah (58): 11)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

“Sesungguhnya Allah angkat derajat orang beriman di atas orang tidak beriman bertingkat-tingkat, dan mengangkat derajat orang-orang yang diberikan ilmu di atas orang beriman bertingkat-tingkat, maka barangsiapa yang menggabungkan  antara iman dan ilmu, maka dengan imannya Allah akan mengangkat derajatnya,  kemudian dengan ilmunya Dia meninggikan derajatnya.” [4]

Terdapat kisah, di zaman dahulu ada seseorang yang lehernya cacat, dan ia selalu menjadi bahan ejekan dan tertawaan. Kemudian ibunya berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.” Sejak itulah, orang itu belajar ilmu syar’i hingga ia menjadi orang alim, sehingga ia diangkat menjadi Qadhi (Hakim) di Makkah selama 20 (dua puluh) tahun. Apabila ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, maka gemetarlah tubuhnya hingga ia berdiri.[5]

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الذين يَعْلَمُونَ والذين لاَ يَعْلَمُونَ‪‬

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az Zumar (39): 9)

Dan wanita Anshar pun dipuji dan diberi kedudukan sebaik-baik wanita karena mereka tidak malu untuk bertanya tentang ilmu agama.

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha pernah mengatakan:

‫‬‫‬‫‬‫‬”نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ”

Sebaik-baiknya wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami agama.” (HR. Bukhari, Bab Al Haya’ Fil ‘Ilmi)

6. Jalan Menuju Surga dan Tidak Termasuk Yang Dilaknati

Maka barangsiapa yang ingin mendapatkan kemudahan menuju surga, maka segeralah mempelajari ilmu agama. Dari sana, kita dapat mengetahui yang halal dan haram, memilah mana yang prioritas dan tidak, dan mengamalkan yang benar dan yang menjauhi yang salah. Sehingga, dengan izin Allah, Allah mudahkan jalan baginya menuju surga-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة‪‬

Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699)[6]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إن الدنيا ملعونةٌ ملعونٌ ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالمٌ أو متعلمٌ‪‬

Sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknatlah  apa-apa yang ada di dalamnya, kecuali berdzikir kepada Allah dan apa-apa yang mendukungnya, orang berilmu, dan orang ang menuntut ilmu.” (HR. At Tirmidzi No. 2322, katanya: hasan gharib)[7]

7. Dimintakan Ampunan Oleh Penduduk Langit dan Bumi dan Merupakan Pewaris Para Nabi

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu, sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh siapa saja yang di langit, di bumi, ikan-ikan yang di laut, sesungguhnya keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah seumpama keutamaan rembulan di malam purnama dibanding semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, mereka mewariskan ilmu, barang siapa yang  mengambilnya maka ambillah dengan keuntungan yang banyak.” (HR. Abu Daud No. 36410)[8]

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Telah diketahui bahwa ilmu yang diwariskan oleh para Nabi adalah ilmu syari’at Allah ‘Azza wa Jalla, bukan lainnya. Sehinga para Nabi tidaklah mewariskan ilmu tekhnologi dan yang berkaitan dengannya kepada manusia.” [9]

Penutup

Begitulah sedikit keutamaan dari mempelajari ilmu, dan perlu diingat bahwa ilmu yang paling mulia adalah ilmu perihal agama, maka pelajarilah. Namun keutamaan ini tidak menutup dalam mempelajari ilmu yang bermanfaat lainnya, seperti ilmu manajemen, ilmu kesehatan, ilmu keuangan, dan sebagainya.

Akhir kata, jadilah orang yang berilmu dan juga beriman. Berilmu tanpa iman, maka hidup tanpa arah, ilmu yang dimilikinya tidak memiliki panduan kearah kebaikan. Lihatlah koruptor, bukankah  mereka itu orang pintar? Tapi imannya tipis, sehingga menjadi pintar tapi tidak benar. Sebaliknya, beriman tanpa ilmu, akan menjadi orang baik dan shalih, tapi tidak berdaya guna dan polos. Hidupnya hanya untuk dirinya sendiri, bahkan dia mudah diperdaya orang jahat.

Wallahu A’lam

[Banyak mengambil pelajaran dari : Ilmu dalam Perspektif Islam. Ustadz Farid Nu’man. Abuhudzaifi.multiply.com]

Footnote:
—————–
[1] HR. Ibnu Majah, no:224, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah

[2] Imam Al Qurthubi, Jami’ul Ahkam, 10/108. Cet. 1. 1420H-2000M. Muasasah Ar Risalah

[3] Syaikh  Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Taisir Al Karim Ar Rahman,  1/441. Cet. 1, 1420H-2000M. Muasasah Ar Risalah

[4] Fathul Qadir, 7/175. Mauqi’ Ruh Al Islam

[5] Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa

[6] HR. Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 2689, Abu Daud No. 3641, Ibnu Majah No. 223, Ibnu Hibban No. 84, Ibnu Abi Syaibah, 118/6

[7] HR. At Tirmidzi No. 2322, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani menghasankan dalam Shahihul Jami’ No. 1609, Misykah Al Mashabih No. 5176

[8] HR. Abu Daud No. 3641, Ibnu Majah No. 223, Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6297

[9] Kitabul ilmi, hal: 11, karya Syeikh Al-Utsaimin

Balasan Setimpal Perbuatan

Ustadz Abu Umar Abdillah

Adz-Dzahabi dalam Kitabnya al-Kaba’ir, dan juga Ibnu Hajar dalam Kitabnya az-Zawaajir menyebutkan suatu kisah, bahwa ada seorang laki-laki yang buntung tangannya hingga pangkal lengannya berkata, “Barangsiapa yang melihat keadaanku, maka jangan sekali-kali berlaku zhalim kepada seorang pun.” Lalu orang itu ditanya, “Apa yang terjadi atas dirimu?” Lalu dia bercerita, “Kisahku sangat menyedihkan. Dahulunya aku seorang  yang mudah sekali mendzalimi orang. Suatu hari aku melihat seorang nelayan mendapatkan ikan besar yang menakjubkanku. Akupun mendekatinya dan berkata, “Berikanlah ikan itu kepadaku.” Dia menjawab, “Tidak, karena ikan ini akan saya jual dan hasilnya untuk membeli makan bagi keluargaku.” Lalu aku memukulnya dan merebutnya dengan paksa dan langsung pergi. Ketika aku pulang membawa ikan tersebut, tiba-tiba ikan itu menggigit jempol tanganku dengan gigitan yang kuat. Sesampainya di rumah aku letakkan ikan itu, sementara jempol tanganku semakin terasa sakitnya hingga aku tidak bisa tidur karena nyeri.Pagi harinya aku mendatangi tabib dan mengeluhkan rasa sakitku, lalu sang tabib berkata, “Anda terkena infeksi, seharusnya jempol ini dipotong, kalau tidak niscaya akan menjalar ke tanganmu.” Maka saya harus merelakan jempolku diamputasi. Namun rasa sakit telah menjalar ke telapak tangan hingga aku tetap belum bisa tidur karena sakitnya. Akupun kembali mendatangi tabib dan tabib berkata, “potonglah telapak tanganmu, agar penyakit tidak menjalar ke hasta.” Akhirnya telapak tanganku diamputasi juga.”

Penyakit terus menjalar, hingga orang itu harus memotong tangannya sampai siku, lalu dipotong lagi di pangkal lengannya. Hingga seseorang menyarankan agar dia meminta maaf kepada orang yang dizhalimi. Allah berkehendak mempertemukan keduanya, dan penyakit tersebut tak lagi menjalar setelah orang yang dizhalimi memaafkannya.

Begitulah balasan orang yang berlaku zhalim, seperti pepatah ‘menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.”

 

Balasan Setimpal Dengan Kejahatan

Sayyid Husain al-Affaani dalam Kitabnya al-Jaza’ min Jinsil ‘Amal juga menyebutkan sebuah kisah,

“Ada seorang laki-laki yang memiliki orangtua yang sudah lanjut usia. Dia sudah merasa lelah untuk melayani dan menuruti kemauan ayahnya itu. Hingga suatu ketika ia membawa orangtuanya ke perbukitan. Sesampainya di tempat yang dituju, dia menurunkan orangtuanya dari kendaraan. Orangtuanya bertanya keheranan, Apa yang hendak engkau lakukan terhadapku wahai anakku?” Dia menjawab, “Aku ingin menyembelih ayah!” Ayahnya berkata, “Jika kamu bersikeras untuk menyembelihku, maka sembelihlah aku di bukit yang sana, karena dahulu aku juga menjadi seorang anak yang durhaka, dan aku telah menyembelih ayahku di sana. Tapi ingat, kelak kamu juga akan mengalami hal serupa wahai anakku.”

Betapa kejahatan dibalas dengan perlakuan serupa. Maka hendaknya kita pikirkan bagaimana kita memperlakukan orang lain, sebagaimana kaidah berlaku, ”fakamaa tadiinu tudaanu”, sebagaimana kamu berbuat, maka seperti itu pula kamu akan diperlakukan.

Kisah yang lain diangkat oleh at-Tanuukhi dalam bukunya al-Faraj Ba’da asy-Syiddah,

“Seorang menteri di Baghdad telah merampas dengan paksa harta kekayaan seorang wanita tua. Segala harta milik wanita itu dijarah dengan cara licik. Lalu wanita itu datang menuntut haknya di hadapan sang menteri sambil menangis. Namun sang menteri tak mau peduli, tidak jera dan tidak mau bertaubat atas kesalahannya itu. Kemudian wanita itu mengancam, “Jika engkau tidak mengembalikannya juga, aku akan memohon kepada Allah agar engkau celaka.” Menteri itu malah tertawa mengejek seraya berkata, “Berdo’alah pada sepertiga malam.” Begitulah ucapan yang keluar dari orang yang  fasik lagi pongah. Wanita itupun pergi meninggalkannya. Pada setiap sepertiga malam terakhir, ia selalu berdo’a. Tak berapa lama berselang, menteri itu dipecat dari jabatannya, dan seluruh harta bendanya disita. Ia diikat di tengah pasar dan dicambuk sebagai hukuman menurut ketentuan majelis hakim atas kekejamannya terhadap rakyatnya. Pada saat itu wanita tua itu lewat sambil melihat siapa yang sedang diikat itu. Begitu melihatnya, ia berkata, “Engkau benar, engkau telah menganjurkan kepadaku untuk berdo’a di sepertiga malam terakhir, ternyata terbukti bahwa sepertiga malam terakhir itu memang waktu yang terbaik.”

Begitulah, saat orang lalim yang merasa punya kuasa dan kekuatan dengan santai berbuat aniaya, dia lupa bahwa orang yang dizhalimi memiliki senjata ampuh untuk menjatuhkannya. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Takutlah kamu terhadap doa orang yang dizhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.” (HR Bukhari)

Maka orang yang menimpakan kezhaliman kepada orang lain, baik dalam bentuk menipu, mengambil harta orang lain dengan cara yang haram, menyakiti dengan lisan dan perbuatan, atau merusak kehormatan, dan yang ingin mencelakakan orang lain hakikatnya sedang menggali lubang untuk kuburannya sendiri. Sebagaimana dikatakan, “man hafara hufratan liakhiihi waqa’a fiiha,’ dan barangsiapa menggali lubang untuk saudaranya, ia sendiri yang akan terperosok ke dalamnya.

Belum Mengalami, Bukan Berarti Takkan Terjadi

Banyaknya kasus, kisah dan realita yang menimpa orang zhalim di dunia seringkali tidak membuat mata orang zhalim menjadi terbuka. Mungkin karena mereka merasa tidak bernasib sama. Meski telah berlaku aniaya, namun telah berselang lama tak tampak pula tanda-tanda akan bernasib celaka. Padangan inilah yang membuat mereka terus terlena.

Jika mereka belum merasakan balasan yang setimpal, itu bukan berarti Allah lupa, atau kejahatannya tidak mendatangkan efek apa-apa. Hingga mereka tak merasa perlu menyesali perbuatannya, apalagi menyudahi kezhaliman yang dilakukannya.

Padahal bisa jadi Allah hanya melepaskan ia sementara, hingga pada saat yang tak diduga ia akan dibalas sepadan dengan perbuatannya, dan ia tidak bisa berkutik apa-apa. Allah mengancam mereka dengan firman-Nya,

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُ‌هُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ‌

Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak..” (QS Ibrahim: 42)

As-Sa’di mengatakan tentang ayat ini,

”Sungguh, ini merupakan ancaman yang keras bagi orang yang berbuat zhalim, sekaligus penghibur bagi orang yang dizhalimi.” Karena orang yang dizhalimi akan mendapatkan keadilan yang sesungguhnya. Kalaupun hingga akhir hayat hukuman belum diturunkan, balasan di akhirat telah menanti. Keadilan hakiki akan ditegakkan. Maka kelak ada orang-orang yang merasakan dampak dari kezhaliman yang ia lakukan. Pahala kebaikan menjadi hilang, dan dosa keburukan banyak tersandang. Hingga ada yang disebut Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai muflis, yakni orang yang bangkrut. Beliau bertanya kepada para sahabat, ”Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab, ”Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun kekayaan.” Lalu beliau bersabda,

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّار

Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, shaum dan zakat. Namun ia juga mencela si anu, menuduh si anu, menjarah harta si anu, menumpahkan darah si fulan dan memukul si fulan. Maka kebaikannya dibagikan untuk ini dan itu hingga ketika kebaikannya habis sebelum cukup melunasi kezhalimannya, maka keburukan orang yang dizhalimi akan ditimpakan kepadanya, lalu dia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)

Allahumma inna na’udzubika min an-nazhlima au nuzhlama, ya Allah, kami memohon perlindungan kepada-Mu dari menzhalimi atau dizhalimi. Aamiin. (Abu Umar Abdillah)

Sumber : arrisalah.net

Amal Islami Bukan Aktivitas Sesaat

Dr. Najih Ibrahim

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan itu hanyalah permainan dan senda gurau; perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yg tanamannya mengagumkan para petani. Kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kalian lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab ygg keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yg menipu” (QS Al Hadid : 20)

Amal islami bukanlah aktivitas yang cukup dikerjakan di saat Anda memiliki waktu luang dan bisa Anda tinggalkan saat sibuk. Tidak, amal islami terlalu agung dan teramat mulia jika diperlakukan seperti itu.

Perkataan intima’ (bergabung) kepada din ini tentu saja jauh lebih serius daripada seperti itu. Islam tidak seperti klub ilmiyah, klub olahraga, atau kepanduan yang cukup dikerjakan saat masih menjadi pelajar atau mahasiswa, lalu bisa ditinggalkan setelah lulus. Atau cukup dikerjakan saat masih bujang dan boleh ditinggalkan setelah menikah. Atau Anda curahkan waktu sebelum Anda mendapat pekerjaan dan setelah mendapatkannya, atau Anda membuka klinik, apotek, biro konsultasi, atau Anda disibukkan dengan pelajaran-pelajaran khusus, maka Anda boleh meninggalkannya atau meremehkannya. Sekali-kali tidak! Amal islami bukanlah seperti itu.

Perkara amal islami dan intima’ kepadanya sama denga perkara ‘ubudiyah kepada Allah yang sebenarnya. Oleh karena itu, seorang muslim hanya boleh melepaskan diri dari amal islami seiring dengan kepergiannya dari kehidupan ini. Bukankah Allah subhana wata’ala telah berfirman:

وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai kematian datang kepadamu!” (QS Al Hijr : 11)

Sampai datang kematian!

AlQuran tidak mengatakan, “Beribadahlah kepad Rabbmu sampai kamu keluar dari Perguruan Tinggi atau saat menjadi pegawai atau sampai kamu menikah atau sampai kamu membuka klinik atau sampai kamu membuka biro konsultasi dan seterusnya.

Para pendahulu kita, assalafushalih memahami benar hakikat yang sederhana namun sangat urgen dalam diinullah ini.

Kita dapati Ammar bin Yasir masih berangkat perang saat usia beliau mencapai 90 tahun. Perang! Bukanlah berdakwah atau mengajar atau beramar ma’ruf nahi munkar. Beliau berangkat perang saat tulang-belulang beliau sudah rapuh, tubuh sudah renta, rambut telah memutih, dan kekuatan sudah jauh berkurang.

Abu Sufyan masih membakar semangat para pasukan untuk berperang saat beliau berumur 70 tahun. Begitu juga Yaman dan Tsabit bin Waqasy; keduanya tetap berangkat ke medan Uhud meskipun telah lanjut usia. Meskipun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menempatkan mereka bersama kaum wanita di bagian belakang pasukan.

Mengapa kita mesti pergi jauh? Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan pertempuran sebanyak 27.[1] Semua peperangan itu dijalani setelah usia beliau lewat 54 tahun. Bahkan perang Tabuk adalah perang yang paling berat bagi kaum muslimin, diikut dan dipimpin langsung oleh beliau saat umur beliau telah mencapai 60 tahun.

Bagaiman dengan keadaan kita hari ini? Kita dapat saksikan banyak sekali ikhwah yang meninggalkan amal islami setelah lulus kuliah, menikah, sibuk dengan perdagangan, tugas, dan sebagainya

Kepada mereka saya katakan, “Sesungguhnya urusan din dan Islam itu bukan urusan main-main.”

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“Kalian menyangka hal itu urusan yang remeh, padahal di sisi Allah hal itu adalah urusan yang agung.” (QS An Nur : 15)

Saya katakan juga, “Mana janji kalian? Janji yang telah kalian ikrarkan di hadapan Allah dan janji di hadapan orang yang banyak dulu?”

وَكَانَ عَهْدُ اللَّهِ مَسْئُولا

“Dan adalah perjanjian dengan Allah itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al Ahzab : 15)

Juga, “Mana sajak pendek yang selama ini kalian perdengarkan?”

Di jalan Allah kami tegak berdiri
Mencitakan panji-panji menjulang tinggi
Bukan untuk golongan tertentu, semua amal kami
Bagi din ini, kami menjadi pejuang sejati
Sampai kemuliaan din ini kembali
Atau mengalir tetes-tetes darah kami.

Sesungguhnya akibat dari penguduran diri adalah keburukan. Apalagi bagi orang yang telah mengerti kebenaran lalu berpaling darinya. Bagi orang yang telah merasakan manisnya kebenaran lalu tenggalam dalam kebatilan. Sesungguhnya membatalkan janji kepada Allah termasuk dosa terbesar di sisi Allah dan di pandangan orang-orang yang beriman”

فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ

“Maka barangsispa melanggar janji, akibatnya akan mengenai dirinya sendiri.” (QS Al Fath : 10)

Siapa saja yang dikuasai oleh nafsu ammarah bissu atau ditipu oleh setan atau mengundurkan diri dari medan amal islami, hendaklah ia merenungkan firman Allah ini :

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagaian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shaleh.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling. Mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS At-Taubah : 75-76)

Setelah itu, hendaklah merenenungkan firman Allah ‘azza wa jalla tentang hukuman yang akan diterima,

فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai waktu mereka menemui Allah karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (QS At-Taubah : 77)

Sesungguhnya perkara amal islami adalah perkara yang sangat urgen. Sayang seribu sayang, mereka yang lemah imannya—beberapa di antaranya bergabung saat masih kuliah—beranggapan bahwa amal islami itu tak ubahnya dengan sarikat dagang untuk satu masa tertentu. Begitu masa kuliah selesai, selesai pulalah amal islami; ada juga yang mengira masa amal islami adalah masa terjalinnya persahabatan atau pertemanan saat masih kuliah. Begitu lulus, jalinan pun lepas. Semuanya lepas, tuntas!

Saya menyebut mereka sebagai orang-orang yang lemah iman lantaran penyakit ini umumnya bermula dari lemahnya iman. Sakitnya hati, lemahnya semangat, dan tidak mengakarnya iman, terletak di dalam hati bukan akal. Kerusakan ini seringkali—bahkan selalu—terletak pada hati bukan akal, disebabkan oleh kurangnya iman bukan ilmu, dikarenakan syahwat bukan syubhat; dan buah dari cinta dunia bukan kurang kesadaran. Maka siapa yang ingin menjalani terapi atau berobat, ia mesti memerhatikan hatinya, membersihkannya dari berbagai kotoran, dan mengobati penyakit-penyakitnya itu.

Sayangnya, sedikit sekali dokter yang ada di zaman ini. Tentu saja maksud saya adalah dokter untuk penyakit hati. Jumlah dokter penyakit jasmani banyak sekali. Tetapi, mereka sendiri sedang “sakit parah” juga.

Sungguh, seseorang meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya laksana seseorang yang mendahulukan kelezatan sesaat, kesenangan semusim, dan mencari kegembiraan dengan membayar kesedihan sepanjang masa. Menceburkan diri ke sumur maksiat dan berpaling dari cita-cita mulia kepada keinginan rendah lagi hina. Dia akan berada di bawah kungkungan setan, di lembah kebingungan, dan terbelenggu dalam penjara hawa nafsu.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya, keadaan orang-orang seperti mereka jauh lebih buruk daripada orang-orang awam. Kiranya itulah hukuman dari Allah bagi mereka.

Bagi rajawali yang rontok bulunya
Setiap kali ada burung terbang
Dia meratapi semua kegagalannya

Referensi:
Risalah illa kulli man ya’malu lil Islam. Dr Najih Ibrahim. Kepada Aktivis Muslim. Aqwam. Cetakan III, h 77-82
——————
Footnote:
[1] Muhammad bin Ishaq berkata, “Jumlah seluruh perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah ada 27.” Lalu beliau menyebutnya satu-persatu. Al-Bidayah wan Nihayah: V/217.