Category Archives: Tazkiyatun Nafs

Tenggelam Dosa di Dunia, Banjir Keringat di AKhirat

Oleh: ustadz Abu Umar Abdillah

Mungkin Anda pernah berada dalam situasi yang sangat gerah, matahari memancarkan sinarnya yang panas, sementara Anda berada di tengah desak-desakan dengan banyaknya manusia di sekitar kita. Peluh keringat mengucur deras, tenaga serasa terkuras dan tenggorokan serasa kering dan susah untuk bernapas.
Tetapi, separah apapun yang pernah kita alami dan kita dengar itu semua tidak sebanding dengan apa yang kelak dialami oleh banyak manusia tatkala pada hari Kiamat, hari di mana manusia berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Panas Makhsyar yang Membakar
Kelak, setelah manusia dibangkitkan, mereka semua akan digiring ke satu tempat berkumpul (mahsyar) dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian dan dalam keadaan tidak berkhitan. Tak ada satupun yang tercecer, dari sejak manusia pertama hingga manusia terakhir dimuka bumi. Allah Ta’ala berfirman,

“dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka.”(QS al-Kahfi 47)

Bahkan, tak hanya manusia dan jin yang dikumpulkan kala itu, tapi juga hewan-hewan dan binatang.

Bayangkan betapa banyak manusia kala itu, dikumpulkan dalam satu tempat yang sama. Sementara mereka dalam keadaan berdiri, sedangkan matahari dekat sekali di atas kepala manusia. Rasulullah Shallallahu alaihiwasallam bersabda,

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ
“(Ketika itu) matahari didekatkan di atas makhluk dengan jarak satu mil.” (HR Muslim)

Sulaim bin Amir yang meriwayatkan hadits tersebut berkata, “Demi Allah saya tidak tahu makna ‘mil’ yang beliau maksud; apakah mil dengan pengertian satuan jarak di bumi, atau makna ‘mil’ yang berarti alat yang dipakai untuk bercelak. Jika sekarang matahari yang konon jaraknya dengan bumi sejauh 150.000.000 km saja sudah kita rasakan panasnya, bagaimana lagi jika jaraknya hanya 1 mil saja, atau bahkan 10 cm seperti panjang alat untuk bercelak.

Begitu dekat jarak antara matahari di atas manusia, sementara manusia tak memakai alas kaki, tak memakai sehelai benangpun di tubuhnya dan dalam keadaan tidak berkhitan.

Di dorong rasa malu yang tinggi, Aisyah radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Laki-laki dan perempuan sama wahai Rasulullah? Bagaimana jika mereka saling lihat satu sama lain?” Rasulullah bersabda,

“Wahai Aisyah, urusan yang mereka hadapi terlampau besar dari sekedar melihat satu sama lain.”(HR Bukhari dan Muslim)

Mereka berdiri dalam keadaan demikian selama 50.000 tahun dalam hitungan dunia, dan hanya ada siang saja, karena sekian lama itu hanyalah satu hari di akhirat. Suatu kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca firman Allah Ta’ala,

تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS al-Ma’arij 4)
Lalu beliau bersabda,

كَيْفَ بِكُمْ إِذاَ جَمَعَكُمُ اللهُ كَماَ يُجْمَعُ النَّبْلُ فِي الْكِناَنَةِ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ ثُمَّ لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْكُمْ
“Bagaimana kiranya tatkala Allah mengumpulkan kalian sebagaimana mengumpulkan anak panah dalam kinanah (wadahnya) selama limapuluh ribu tahun kemudian Allah tidak mau melihat kalian?” (HR al-Hakim beliau mengatakan shahih, disepakati pula oleh adz-Dzahabi dan al-Albani)

Manusia berdesak-desakan saking banyaknya, terik matahari membakar kulit manusia yang tanpa pakaian saking dekatnya, kepayahan tak terperi dirasakan lantaran berdiri begitu lamanya, rasa haus mencekik tenggorokan mereka. Tak ada tempat berteduh, tak ada pilihan tempat untuk bergeser, Tak ada waktu untuk duduk, apalagi berbaring, hingga keringat mengucur dari sekujur tubuh. Terjadilah banjir keringat yang makin menambah penderitaan manusia. Andai saja manusia bisa pingsan seperti di dunia, tentu ia bisa rehat. Namun tak lagi berlaku pingsan atau tidur di akhirat. Andai saja manusia ketika bisa terbakar kemudian mati, tentulah segera usai penderitaan. Akan tetapi, mati tak berlaku lagi setelah kematian di dunia, sedangkan penderitaan bisa dirasakan dengan ‘sempurna’. Belum lagi mereka masih mengkhawatirkan apa yang kelak diputuskan Allah atas mereka. Ingin sekali mereka menjadi seperti binatang yang tidak dimintai pertanggungjawaban. Yang tatkala mereka dikumpulkan di maskhsyar lalu dijadikan tanah oleh Allah, dan selesai sudah urusan mereka. Demi melihat bagaimana hewan-hewan dijadikan tanah, Allah mengisahkan tentang mereka,

“Alangkah baiknya sekiranya aku menjadi tanah”. (QS an-Naba’ 40)

Kadar Keringat Sesuai Kadar Maksiat
Mereka merasakan dampaknya sesuai dengan kadar dosa mereka. Semakin banyak mencicipi dosa di dunia dan tenggelam dalam syahwatnya, maka semakin dalam ia tenggelam oleh keringat di akhirat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا ». قَالَ وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ
“Maka manusia akan tenggelam dalam keringat sesuai kadar amalnya. Ada yang keringatnya membanjiri hingga mata kakinya, ada yang tenggelam hingga lututnya, ada yang sampai pinggulnya dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringatnya, “ Beliau bersabda sembari mengisyaratkan tangannya ke mulutnya.” (HR Muslim)

Saking banyaknya keringat manusia, maka bumi menjadi basah karenanya. Bahkan banjir melanda bawah bumi, di mana keringatmanusia ditelan bumi hingga kedalaman tujuhpuluh hasta, sementara di atas bumi banjir keringat mencapai mulut atau bahkan telinga manusia.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Manusia berkeringat pada hari Kiamat hingga keringatnya meresap ke dalam bumi sedalam 70 hasta, sementara mereka tenggelam oleh keringat hingga mencapai telinga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maka hakikatnya, setiap satu dosa yang dijamah manusia, artinya ia sedang menambah kadar keringat di akhirat yang berarti dirasakannya satu kadar rasa penat. Maka, silakan manusia bermaksiat sesuai dengan kadar kepayahan yang ingin dirasakan di akhirat. Balasan di akhirat, setimpal dengan kadar dosa ataupun taat di dunia. Andai saja kita banyak mengingat hal ini, tentu dosa akan tercegah. Andai saja hati kita senantiasa terjaga, bahwa keringat yang mengucur di dunia karena taat bisa meringankan penderitaan di hari itu, tentulah kita akan bersemangat di dalam taat.

Tak ada yang bisa menyelamatkan manusia dari penderitaan itu selain amal kebaikan yang mereka lakukan. Orang-orang mukmin yang konsisten dengan keimanannya. Bagi mereka ada keteduhan, ada kemudahan dan keringanan. Pernah seorang sahabat bertanya, “dimanakah orang-orang mukmin ketika itu?” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab,

يُوضَعُ لَهُمْ كَرَاسِيُّ مِنْ نُورٍ وَتُظَلِّلُ عَلَيْهِمُ الْغَمَامُ يَكُونُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَقْصَرَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ مِنْ سَاعَةٍ مِنْ نَهَارٍ
“Diletakkan untuk mereka kursi-kursi dari cahaya, lalu awan menaungi atas mereka sehingga hari itu dipendekkan atas orang-orang mukmin serasa sesaat di siang hari.” (HR Ibnu Hibban, al-Albani mengatakan haditsnya hasan)

Di saat para penghuni makhsyar berada di puncak kehausan, orang-orang mukmin bisa mendapatkan fasilitas minum di telaganya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana masing-masing Nabi juga memiliki haudh (telaga) yang disediakan bagi umatnya yang taat. Di saat yang lain merasa penderitaan yang terasa sangat-sangat lama, maka hal itu dirasakan ringan oleh orang-orang yang beriman, terasa singkat pula peristiwa besar itu dijalani. Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

حَوْضِى مَسِيرَةُ شَهْرٍ وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ وَمَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ الْوَرِقِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلاَ يَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا
“Telagaku (panjang dan lebarnya) adalah satu bulan perjalanan, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada kesturi, bejananya sebanyak bintang di langit, barangsiapa yang minum darinya, ia tidak akan merasa haus selamanya.” (HR. Bukhari)

Mereka tidak haus, tidak lapar dan tidak kepanasan, semoga Allah memasukkan kita ke dalamnya. Aamiin. (Abu Umar Abdillah)

Sumber: arrisalah.net

Advertisements

Ketika Keberkahan Dicabut

Ustadz Umar Muhammad Noor

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Hadits tentang hal ini cukup banyak, misalnya hadits riwayat Imam Ahmad dan Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan tiba hari kiamat hingga waktu semakin singkat. Satu tahun bagaikan satu bulan, satu bulan bagaikan satu minggu, satu minggu bagaikan satu hari, satu hari bagaikan satu jam. Dan satu jam bagaikan api yang membakar daun kurma.”

Dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Waktu akan semakin singkat, harta akan berlimpah ruah, fitnah akan menyebar, dan akan banyak terjadi pembunuhan.”

Para ulama tidak menafsirkan “singkatnya waktu” dengan bertambahnya kecepatan perputaran bumi sehingga jumlah masa dalam satu hari berkurang menjadi 23 jam misalnya. Penafsiran seperti ini tentu saja bertentangan dengan logika. Sebab jika kita memutar sebuah bola di sebuah titik tertentu, tentulah kecepatannya semakin lama semakin berkurang, bukan semakin bertambah. Oleh karena itu, para ulama hadits seperti Qadhi ‘Iyadh, Al-Nawawi, Ibn Abi Jamrah dan lain-lain menafsirkan singkatnya waktu ini dengan hilangnya keberkahan. Mereka berkata, “Maksud dari singkatnya waktu adalah hilangnya keberkahan dalam waktu tersebut. Sehingga satu hari misalnya tidak mampu dimanfaatkan melainkan seperti satu jam saja.”

Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Ibn Hajar rahimahullah dalam Fath Al-Bari. Ia berkata, “Pendapat yang benar adalah (hadits ini) bermaksud bahwa Allah Ta’ala mencabut semua keberkahan dari segala sesuatu, termasuk keberkahan waktu. Dan ini merupakan salah satu tanda dekatnya kiamat.”

Makna Berkah

Secara bahasa, kata “berkah” (barakah) bermakna bertambah (al-ziyadah) dan berkembang (al-nama). Kata ini lalu digunakan untuk menunjukkan “kebaikan yang banyak” seperti dalam firman Allah Ta’ala: “kitab penuh berkah” dan “malam penuh berkah”, yakni penuh kebaikan yang banyak. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam juga sering kali mendoakan para sahabatnya agar Allah Subhana wa ta’ala memberkahi mereka, seperti doa beliau untuk Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, “Ya Allah, berkahilah kulit dan rambutnya.” Sejak saat itu, kulit dan rambut Abu Qatadah tidak pernah berubah meski usianya makin bertambah. Al-Hafiz Ibn ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq bercerita bahwa Abu Qatadah wafat pada usia 70 tahun namun kulit dan rambutnya bagaikan anak berusia 17 tahun.

Kita dapat berkata bahwa keberkahan dalam sesuatu maknanya: kualitas sesuatu itu berkembang sehingga melampaui kuantitasnya. Jika sebelum makan kita meminta agar Allah memberkahi makanan kita, maknanya: kita meminta agar makanan itu menjadi sarana perbaikan untuk kualitas tubuh dan ibadah kita. Kuantitas dan bentuk makanan itu -begitu juga rasanya- mungkin tak berubah, namun kesan positif yang diakibatkannya akan segera dirasakan berbeda di tubuh dan perilaku orang yang memakannya. Tubuhnya akan semakin kuat dan terjaga dari berbagai penyakit, juga jiwanya terasa lebih ringan untuk melakukan kerja-kerja yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.

Saya tidak mengingkari bahwa kadang kala Allah juga memberikan keberkahan dalam makanan dengan mengembangkan jumlah kuantitas bersama kualitas makanan tersebut sebagai mukjizat bagi nabi-Nya dan karamah bagi hamba-hamba pilihan-Nya. Hadits-hadits tentang hal ini sangat banyak dan masyhur sehingga tidak perlu disebutkan lagi pada kesempatan ini.

Keberkahan Hidup dan Waktu

Keberkahan yang paling penting adalah keberkahan di dalam hidup dan waktu kita. Sebab, demi Allah, kita diciptakan untuk sebuah tugas maha penting, dan waktu adalah modal yang paling utama agar kita dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik. Tanpa keberkahan dan manajemen waktu yang baik, seseorang tidak akan dapat menunaikan tugas itu dengan sempurna. Oleh karena itu, bagi mata hamba-hamba Allah yang sejati, waktu jauh lebih mahal dan lebih berharga daripada uang dan harta benda apapun di dunia ini. Keberkahan dalam waktu menjadi dambaan mereka melebihi yang lainnya.

Imam Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata, “Andai seseorang kehilangan sekeping emas, ia akan menyesal dan memikirkannya sepanjang hari. Ia mengeluh: Inna lillah, emas saya hilang. Namun belum pernah seseorang mengeluhkan: satu hari telah berlalu, apa yang telah aku lakukan dengannya?”

Orang-orang seperti ini selalu menyesal jika sebuah detik dari waktunya berlalu tanpa manfaat. Seorang ahli hadits kenamaan Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah sering kali terlihat sedang membaca sambil berjalan sebab ia tidak ingin membuang waktunya percuma. Imam Ibn Rusyd, ahli fiqih dan filsafat terkenal, juga diceritakan tidak pernah meninggalkan membaca buku dan mengajar sepanjang hidupnya kecuali dua malam saja: yaitu ketika ia menikah dan ketika bapaknya meninggal dunia.

Imam Abdul Wahab Al-Sya’rani bercerita tentang gurunya Syeikh Zakaria Al-Anshari (pelajar fiqh mazhab Al-Syafii pasti mengenal nama ini),

Selama dua puluh tahun aku melayaninya, belum pernah aku melihat beliau dalam kelalaian atau melakukan sesuatu yang tak berguna, baik siang ataupun malam hari. Jika seorang tamu berbicara terlalu panjang kepadanya, beliau segera berkata dengan tegas: ‘Kau telah membuang-buang waktuku.

Keberkahan waktu dapat kita lihat di sejarah hidup tokoh-tokoh Islam sejak masa sahabat. Mereka berhasil melahirkan prestasi besar hanya dalam masa yang sangat singkat sehingga agak sukar diterima logika “zaman hilang-berkah” kita ini. Zaid bin Tsabit, misalnya, berhasil melaksanakan perintah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menguasai bahasa Yahudi (Suryaniah) –percakapan dan tulisan- hanya dalam 17 hari saja. Padahal pada saat itu belum ada alat bantu modern audio visual seperti sekarang ini. Bandingkan dengan diri kita yang memerlukan masa bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa Arab atau Inggris tanpa memperoleh hasil yang membanggakan.

Para penulis bioghrafi menceritakan bahwa Al Hafiz Ibn Syahin (seorang ulama hadits kenamaan) menulis 330 judul buku, salah satunya kitab tafsir Al Qur’an setebal seribu jilid. Di akhir hayatnya, ia meminta tukang tinta untuk menghitung berapa banyak tinta yang telah digunakannya untuk menulis. Ternyata jumlahnya mencapai 1800 liter tinta. Sebagian ulama meriwayatkan bahwa Syeikh Abdul Ghaffar Al Qushi menulis sebuah kitab fiqih dalam mazhab Syafii setebal seribu jilid di kota Akhmim.

Begitu juga, Imam Ibn Al-‘Arabi (ahli hadits dan fiqih mazhab Maliki asal Andalusia) berhasil menulis berbagai buku-buku besar dan penting, salah satunya sebuah tafsir setebal delapan puluh ribu lembar halaman. Imam Jalaluddin Al-Suyuthi berkata bahwa pemimpin Ahlusunnah wal jama’ah Syeikh Abul Hasan Al Asy’ari pernah menulis sebuah tafsir sebanyak 600 jilid. Al-Suyuthi berkata, “Sekarang buku itu masih berada di perpustakaan Al-Nizhamiah di Baghdad.”

Belum lagi Imam Al-Ghazali yang hanya hidup 55 tahun, dan Al-Nawawi yang hidup hanya 45 tahun, namun berhasil menulis banyak buku berharga berjilid-jilid. Juga Imam Ibn Al-Jauzi yang dikatakan Imam Al-Dzahabi, “Aku tidak mengetahui seorang ulama yang menulis sebanyak tulisan orang ini.”

Siapa yang pernah mencoba menulis buku pasti tahu betapa besar keberkahan yang Allah berikan kepada waktu para ulama ini. Sebagai manusia biasa, mereka memiliki waktu sama dengan kita: satu bulan terdiri dari empat minggu, satu minggu terdiri dari tujuh hari, dan satu hari terdiri dari 24 jam. Namun keberkahan dalam waktu memungkinkan mereka berkarya dan membuahkan prestasi lebih banyak dari kita. Keberkahan waktu benar-benar kita rasakan telah hilang pada masa kita ini sehingga sering kali sebuah buku tidak dapat kita selesaikan meski berbulan-bulan telah berlalu.

Sebab Keberkahan Dicabut

Kehilangan berkah dalam waktu adalah keluhan utama orang-orang kafir di akhirat. Seringkali Al-Qur’an menceritakan bahwa ketika kiamat terjadi, semua manusia merasa bahwa hidup mereka di dunia sangat singkat. Sebagian mereka merasa hidup di dunia hanya sepuluh hari saja (Qs. Thaha [20]: 103) Sebagian yang lain merasa hanya satu hari atau setengah hari saja,

Allah bertanya: berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab: kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari..” (Qs Al-Mukminun [23]: 112-113).

Di antara mereka ada juga yang berkata bahwa masa hidup mereka di dunia hanya beberapa jam saja, “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (Qs. Al-Nazi’at [79]: 46).

Sebagian yang lain bahkan berani bersumpah di hadapan Allah Subhana wata’ala bahwa mereka hanya tinggal di dunia satu jam saja, “Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; mereka tidak berdiam (di dunia) melainkan sesaat (saja).” (Qs. Al-Ruum [30]: 55).

Apakah yang menyebabkan hilangnya keberkahan dalam waktu mereka (juga kita) ini? Imam Ibn Abi Jamrah dalam Syarh Al-Bukhari berkata,

Penyebabnya adalah lemah iman dan menyebarnya berbagai pelanggaran syariat di berbagai bidang, salah satunya dalam hal makanan. Kita semua tahu sifat haram dan syubhat yang terdapat di makanan kita. Seringkali manusia tidak peduli (tentang hal ini) sehingga tanpa ragu-ragu mengambil makanan yang haram setiap kali ada kesempatan. Padahal keberkahan dalam waktu, rizki dan tumbuhan hanya datang melalui kekuatan iman dan ketundukan terhadap perintah dan larangan. Dalilnya firman Allah ta’ala: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (Al-A’raf [7]: 96).

Lemah iman memang membawa kepada berbagai maksiat dalam pekerjaan seperti melakukan korupsi, menerima rasuah dan lain-lain. Padahal perbuatan ini hanya memberi keuntungan semu yang akan sirna dalam masa singkat. Seorang wali Allah pada abad kesepuluh hijrian di Mesir Syeikh Afdhaluddin rahimahullah pernah berkata,

Pengkhianatan (dalam pekerjaan) menghapus berkah sebagaimana haram menghapus halal. Barangsiapa berkhianat dalam satu dirham, Iblis akan menyeretnya untuk berkhianat dalam seribu dirham. Begitu juga pencurian. Setiap pencuri yang kami temui, kami melihat bahwa keberkahan hilang dari usia, harta dan agamanya.”

Tak ada keberkahan selama haram menjadi santapan kita. Sebab makanan yang haram atau syubhat selalu menghalangi manusia untuk menggunakan waktunya dengan efektif. Fenomena malas dan tidur ketika beribadah, menuntut ilmu dan bekerja lahir akibat konsumsi makanan seperti ini.

Imam ahli hakikat Syeikh Abu Al-Hasan Asy Syadzili rahimahullah berkata, “Kami telah membuktikan bahwa tak ada obat yang paling mujarab untuk mengusir kantuk selain memakan halal dan menjauhi haram atau syubhat. Barangsiapa memakan haram dan syubhat, banyak tidurnya.”

Dan barangsiapa yang banyak tidurnya, berarti ia telah membuang-buang waktunya dengan sia-sia. Para ulama sepakat bahwa tidur yang melebihi kebutuhan dapat merusak mental dan kesehatan pelakunya, juga meluputkan dirinya daripada keuntungan duniawi dan ukhrawi.

Oleh karena itu, Imam Al-Sya’rani rahimahullah berkata, “Aku selalu menyesal untuk setiap tidur yang aku lakukan baik waktu siang ataupun malam. Sebab semua kesempurnaan berada dalam kesadaran dan terjaga. Barangsiapa yang suka tidur, berarti ia menyukai kekurangan, meniru orang mati, lalai dari amal kebaikan dan melewatkan keuntungan duniawi dan ukhrawinya.”

Tak ada keberkahan selama riba menjadi sumber rizki kita. Sebab Allah Ta’ala berjanji, “Allah akan memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 276).

Imam Fakhruddin Al-Razi rahimahullah di dalam Tafsir-nya berkata, “Ketahuilah bahwa Allah memusnahkan riba; dapat terjadi di dunia juga di akhirat. Adapun di dunia, dapat terjadi dengan berbagai cara. Salah satunya; orang yang mengambil riba meskipun hartanya berlimpah biasanya ia akan jatuh miskin pada akhir hayatnya dan hilang keberkahan dari hartanya. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Riba meskipun banyak akan mengecil.”

Sayyid Qutb rahimahullah menulis, “Orang yang hendak memikirkan hikmah Allah dan kesempurnaan agama ini dapat melihat kebenaran firman Allah ini lebih jelas daripada orang-orang yang mendengar firman ini pertama kali. Realitas dunia di depan matanya membenarkan setiap kalimat dari ucapan ini. Berbagai bangsa yang sesat dan memakan riba tertimpa berbagai musibah yang membinasakan sistem etika, agama, kesehatan dan perekonomian mereka.”

Sikap Kita

Jika kita telah menyadari bahwa keberkahan telah hilang, maka sungguh merugi jika kita membuang-buang waktu yang memang sudah sedikit itu. Sebaliknya, kita harus mampu menggunakan waktu ini dengan baik untuk berprestasi di dunia dan mengumpulkan bekal hidup di akhirat.

Abu Hazim Salamah bin Dinar berkata, “Segala sesuatu yang ingin kau bawa ke akhirat, siapkan dari sekarang. Dan sesuatu yang tidak ingin kau bawa, tinggalkan dari sekarang.”

Apalagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa kondisi ini akan bertambah buruk pada masa-masa yang akan datang. Beliau bersabda –sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah datang kepadamu sebuah zaman, melainkan zaman yang setelahnya lebih buruk dari itu hingga kamu berjumpa dengan tuhanmu.”

Beliau juga bersabda, “Cepatlah kalian beramal sebelum datang berbagai fitnah seperti kegelapan malam. Pada saat itu, seseorang mukmin pada pagi hari lalu kafir petang harinya. Ia mukmin pada petang hari lalu kafir pada pagi harinya. Ia menjual agamanya demi sedikit harta dunia.” (Ibn Hibban dan Al-Hakim dari Abu Hurairah)

—————-
Penulis : Ustadz Umar Muhammad Noor. Lulusan B.A Usuluddin (Tafsir-Hadis) dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan M.A Usuluddin (Hadis) di Unversitas Omm Durman, Sudan. Menimba ilmu hadis di Damaskus Syria, sejak tahun 2002 hingga 2007.

Sumber : umarmnoor.blogspot.com

Bersih Hati dari Iri dan Dengki

Lihatlah suasana orang yang dilanda iri dengki, hatinya selalu risau dan larut dalam kebencian. Terlebih lagi jika orang yang didengki memperoleh keberhasilan dan mendapat nikmat. Inginnya nikmat tersebut segera sirna musnah tak berbekas. Jika dibiarkan, perasaan iri akan menjadi menjadi bibit dosa lain dan awal bergulirnya pelanggaran perintah Allah. Iblis menjadi mahluk terlaknat berawal dari iri, begitu pula pembunuhan pertama yang dilakukan manusia juga bermotifkan iri.

Berhenti, Jangan Teruskan!

Rasa iri bisa membuat orang gelap mata dan memandang selalu dengan suudzan. Kadang kebencian ini ditularkan kepada orang lain. Dikatakannya bahwa keberhasilan yang diraih orang yang dibencinya lewat jalan yang tidak benar. Ada juga yang mencibir, menebar fitnah bahkan membuat makar. Bila sudah begitu  iri hati lebih berbahaya daripada sakit kronis yang susah diobati.

Dengki timbul karena tiupan setan, karena itu segera redam dengan ber-taawwudz kepada Allah. Caranya dengan membaca ayat kursi dan muawwidzatain. Atau membaca, “Audzu bikalimatillahi at tammah min syarri ma khalaq.” (aku berlindung kepada kalimat allah yang sempurna dari kejelekan mahluk-Nya). Selagi iri hati belum berkobar, hentikan sekarang juga dan jangan teruskan!

Takdir Allah Tak Pernah Salah

Seorang ahli hikmah mengatakan, jika dilihat dari sisi takdir orang yang iri berarti sedang menantang tuhan. Alasannya ialah; pertama, membenci nikmat-Nya yang diberikan kepada orang lain. Kedua, merasa bahwa Allah tidak adil dalam membagi karunia. Ketiga, menganggap bahwa Allah bakhil terhadap dirinya. Keempat, menganggap hina hamba Allah dan menyanjung dirinya sendiri dan kelima, lebih menuruti bisikan iblis daripada perintah Allah. Rasa iri dengki tersebut muncul karena melihat orang lain memiliki kelebihan yang tak ia miliki. Bisa jadi berupa harta, bakat atau keahlian tertentu. Kebencian ini menjadi lebih besar bila orang yang didengkinya lebih rendah kedudukannya.

Semua nikmat dan kelebihan yang dimiliki hamba tak lain adalah bagian dari qadha’ dan qadar. Manusia tidak dikatakan beriman jika tidak mengimaninya. Allah memiliki sifat al ‘alim (dzat yang maha tahu) yang menentukan segalanya dengan ilmu-Nya. Karena itu memberi hambanya segala sesuatu yang terbaik baginya. Tugas manusia adalah meyakini sepenuhnya bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan dibagikan sesuai dengan hikmah.

Tidak semua nikmat dapat membuat hamba bersyukur. Ada hamba yang lebih baik miskin daripada kaya. Sebab kemiskinan dapat membuatnya bersyukur bukan kekayaan. Misalnya adalah Qarun, yang dapat beriman tatkala miskin tapi melupakan Allah saat kunci-kunci gudang hartanya tidak sanggup dipanggul tujuh orang. Ada pula yang lebih tepat kaya, karena mampu mengatur kekayaannya sesuai tuntunan agama, misalnya sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

Allah berfirman yang artinya, “Dan Jikalau Allah melampangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentunya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakinya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. As Syura: 27)

Syukuri Apa yang Ada

Iri dan dengki membuat diri sendiri lupa terhadap banyaknnya nikmat yang diperoleh dan kelebihan yang dimiliki, hanya saja bentuk dan proporsinya berbeda. Ia lebih fokus pada kekurangannya bukan potensinya. Ia merasa kurang dan lemah, padahal bisa jadi orang yang didengki merasa tak lebih beruntung dari orang yang mendengki. Seperti itulah godaan setan, membisikkan bahwa ‘rumput tetangga lebih hijau’. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa tuntunan nafsu akan terhenti saat yang diinginkan dapat diperoleh. Sebab, tabiat nafsu selalu merasa kurang.

Karena itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan selalu melihat ke ‘bawah’. Agar kita selalu sadar bahwa ada banyak orang yang lebih sulit keadaannya. Sehingga kita mensyukuri apa yang telah dimiliki.

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan rupa, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Batin akan merasa tenang bila dapat menyeimbangkan antara keinginan dan kenyataan. Dengan bersabar dan bersyukur ujian Allah dapat dilalui dengan mudah. Alkisah, seorang wanita cantik menikah dengan pria yang buruk rupa. Semua orang menyayangkan dan mencibir. Bahkan ada yang berkata bahwa si wanita terkena guna-guna. Tapi hal itu tak dapat membuat suami-istri tersebut goyah. Suatu hari sang istri berkata kepada suaminya, “Suamiku allah memberi ujian kepadamu berupa istri yang cantik, bersyukurlah. Sedangkan aku diuji dengan anda tapi aku bersabar. Kita berdua mendapat pahala.”

Arahkan Kepada yang Positif

Segala sesuatu tidak terjadi secara instan. Seseorang tidak begitu saja terlahir pintar tanpa belajar. Orang yang pandai berceramah juga melalui proses. Orang punya banyak teman karena pandai menjaga sikap dan tingkah lakunya. Intinya keahlian diperoleh dari latihan yang tekun dan kontinyu. Kadang, itu semua dilihat sebagai bakat dan telah ada sejak lahir, namun pada hakekatnya hal itu adalah rahmat dan kemudahan dari Allah Subhana wata’ala. Kullun muyassarun lima khuliqa lahu (setiap manusia dimudahkan menuju untuk apa ia diciptakan). Jangan lihat hasilnya tapi proses untuk mencapainya, begitu berat dan kadang mengharukan.

Bila melihat orang lain beroleh nikmat kenapa rasa iri yang harus muncul? Alangkah indahnya jika  turut merasa bahagia. Hati akan merasa lebih tenang dan ikatan ukhuwwah menjadi kian erat.

Rasulullah shalallahhu ‘alaihi wasallam bersabda,

Tidak sempurna iman seorangpun dari kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah tingkatan iman yang tinggi. Untuk menggapainya dengan melatih diri dengan sifat itsar (altruisme), mementingkan orang lain dibanding diri sendiri. Wallahu A’lam

Sumber : arrisalah.net

Balasan Setimpal Perbuatan

Ustadz Abu Umar Abdillah

Adz-Dzahabi dalam Kitabnya al-Kaba’ir, dan juga Ibnu Hajar dalam Kitabnya az-Zawaajir menyebutkan suatu kisah, bahwa ada seorang laki-laki yang buntung tangannya hingga pangkal lengannya berkata, “Barangsiapa yang melihat keadaanku, maka jangan sekali-kali berlaku zhalim kepada seorang pun.” Lalu orang itu ditanya, “Apa yang terjadi atas dirimu?” Lalu dia bercerita, “Kisahku sangat menyedihkan. Dahulunya aku seorang  yang mudah sekali mendzalimi orang. Suatu hari aku melihat seorang nelayan mendapatkan ikan besar yang menakjubkanku. Akupun mendekatinya dan berkata, “Berikanlah ikan itu kepadaku.” Dia menjawab, “Tidak, karena ikan ini akan saya jual dan hasilnya untuk membeli makan bagi keluargaku.” Lalu aku memukulnya dan merebutnya dengan paksa dan langsung pergi. Ketika aku pulang membawa ikan tersebut, tiba-tiba ikan itu menggigit jempol tanganku dengan gigitan yang kuat. Sesampainya di rumah aku letakkan ikan itu, sementara jempol tanganku semakin terasa sakitnya hingga aku tidak bisa tidur karena nyeri.Pagi harinya aku mendatangi tabib dan mengeluhkan rasa sakitku, lalu sang tabib berkata, “Anda terkena infeksi, seharusnya jempol ini dipotong, kalau tidak niscaya akan menjalar ke tanganmu.” Maka saya harus merelakan jempolku diamputasi. Namun rasa sakit telah menjalar ke telapak tangan hingga aku tetap belum bisa tidur karena sakitnya. Akupun kembali mendatangi tabib dan tabib berkata, “potonglah telapak tanganmu, agar penyakit tidak menjalar ke hasta.” Akhirnya telapak tanganku diamputasi juga.”

Penyakit terus menjalar, hingga orang itu harus memotong tangannya sampai siku, lalu dipotong lagi di pangkal lengannya. Hingga seseorang menyarankan agar dia meminta maaf kepada orang yang dizhalimi. Allah berkehendak mempertemukan keduanya, dan penyakit tersebut tak lagi menjalar setelah orang yang dizhalimi memaafkannya.

Begitulah balasan orang yang berlaku zhalim, seperti pepatah ‘menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.”

 

Balasan Setimpal Dengan Kejahatan

Sayyid Husain al-Affaani dalam Kitabnya al-Jaza’ min Jinsil ‘Amal juga menyebutkan sebuah kisah,

“Ada seorang laki-laki yang memiliki orangtua yang sudah lanjut usia. Dia sudah merasa lelah untuk melayani dan menuruti kemauan ayahnya itu. Hingga suatu ketika ia membawa orangtuanya ke perbukitan. Sesampainya di tempat yang dituju, dia menurunkan orangtuanya dari kendaraan. Orangtuanya bertanya keheranan, Apa yang hendak engkau lakukan terhadapku wahai anakku?” Dia menjawab, “Aku ingin menyembelih ayah!” Ayahnya berkata, “Jika kamu bersikeras untuk menyembelihku, maka sembelihlah aku di bukit yang sana, karena dahulu aku juga menjadi seorang anak yang durhaka, dan aku telah menyembelih ayahku di sana. Tapi ingat, kelak kamu juga akan mengalami hal serupa wahai anakku.”

Betapa kejahatan dibalas dengan perlakuan serupa. Maka hendaknya kita pikirkan bagaimana kita memperlakukan orang lain, sebagaimana kaidah berlaku, ”fakamaa tadiinu tudaanu”, sebagaimana kamu berbuat, maka seperti itu pula kamu akan diperlakukan.

Kisah yang lain diangkat oleh at-Tanuukhi dalam bukunya al-Faraj Ba’da asy-Syiddah,

“Seorang menteri di Baghdad telah merampas dengan paksa harta kekayaan seorang wanita tua. Segala harta milik wanita itu dijarah dengan cara licik. Lalu wanita itu datang menuntut haknya di hadapan sang menteri sambil menangis. Namun sang menteri tak mau peduli, tidak jera dan tidak mau bertaubat atas kesalahannya itu. Kemudian wanita itu mengancam, “Jika engkau tidak mengembalikannya juga, aku akan memohon kepada Allah agar engkau celaka.” Menteri itu malah tertawa mengejek seraya berkata, “Berdo’alah pada sepertiga malam.” Begitulah ucapan yang keluar dari orang yang  fasik lagi pongah. Wanita itupun pergi meninggalkannya. Pada setiap sepertiga malam terakhir, ia selalu berdo’a. Tak berapa lama berselang, menteri itu dipecat dari jabatannya, dan seluruh harta bendanya disita. Ia diikat di tengah pasar dan dicambuk sebagai hukuman menurut ketentuan majelis hakim atas kekejamannya terhadap rakyatnya. Pada saat itu wanita tua itu lewat sambil melihat siapa yang sedang diikat itu. Begitu melihatnya, ia berkata, “Engkau benar, engkau telah menganjurkan kepadaku untuk berdo’a di sepertiga malam terakhir, ternyata terbukti bahwa sepertiga malam terakhir itu memang waktu yang terbaik.”

Begitulah, saat orang lalim yang merasa punya kuasa dan kekuatan dengan santai berbuat aniaya, dia lupa bahwa orang yang dizhalimi memiliki senjata ampuh untuk menjatuhkannya. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Takutlah kamu terhadap doa orang yang dizhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.” (HR Bukhari)

Maka orang yang menimpakan kezhaliman kepada orang lain, baik dalam bentuk menipu, mengambil harta orang lain dengan cara yang haram, menyakiti dengan lisan dan perbuatan, atau merusak kehormatan, dan yang ingin mencelakakan orang lain hakikatnya sedang menggali lubang untuk kuburannya sendiri. Sebagaimana dikatakan, “man hafara hufratan liakhiihi waqa’a fiiha,’ dan barangsiapa menggali lubang untuk saudaranya, ia sendiri yang akan terperosok ke dalamnya.

Belum Mengalami, Bukan Berarti Takkan Terjadi

Banyaknya kasus, kisah dan realita yang menimpa orang zhalim di dunia seringkali tidak membuat mata orang zhalim menjadi terbuka. Mungkin karena mereka merasa tidak bernasib sama. Meski telah berlaku aniaya, namun telah berselang lama tak tampak pula tanda-tanda akan bernasib celaka. Padangan inilah yang membuat mereka terus terlena.

Jika mereka belum merasakan balasan yang setimpal, itu bukan berarti Allah lupa, atau kejahatannya tidak mendatangkan efek apa-apa. Hingga mereka tak merasa perlu menyesali perbuatannya, apalagi menyudahi kezhaliman yang dilakukannya.

Padahal bisa jadi Allah hanya melepaskan ia sementara, hingga pada saat yang tak diduga ia akan dibalas sepadan dengan perbuatannya, dan ia tidak bisa berkutik apa-apa. Allah mengancam mereka dengan firman-Nya,

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُ‌هُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ‌

Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak..” (QS Ibrahim: 42)

As-Sa’di mengatakan tentang ayat ini,

”Sungguh, ini merupakan ancaman yang keras bagi orang yang berbuat zhalim, sekaligus penghibur bagi orang yang dizhalimi.” Karena orang yang dizhalimi akan mendapatkan keadilan yang sesungguhnya. Kalaupun hingga akhir hayat hukuman belum diturunkan, balasan di akhirat telah menanti. Keadilan hakiki akan ditegakkan. Maka kelak ada orang-orang yang merasakan dampak dari kezhaliman yang ia lakukan. Pahala kebaikan menjadi hilang, dan dosa keburukan banyak tersandang. Hingga ada yang disebut Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai muflis, yakni orang yang bangkrut. Beliau bertanya kepada para sahabat, ”Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab, ”Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun kekayaan.” Lalu beliau bersabda,

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّار

Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, shaum dan zakat. Namun ia juga mencela si anu, menuduh si anu, menjarah harta si anu, menumpahkan darah si fulan dan memukul si fulan. Maka kebaikannya dibagikan untuk ini dan itu hingga ketika kebaikannya habis sebelum cukup melunasi kezhalimannya, maka keburukan orang yang dizhalimi akan ditimpakan kepadanya, lalu dia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)

Allahumma inna na’udzubika min an-nazhlima au nuzhlama, ya Allah, kami memohon perlindungan kepada-Mu dari menzhalimi atau dizhalimi. Aamiin. (Abu Umar Abdillah)

Sumber : arrisalah.net