Category Archives: Tarbiyah

Indahnya Doa Nabi Yunus

Bismillahirrahmanirrahim..

Salah satu hal yang bisa kita dapatkan dalam Alquran adalah pelajaran berharganya. Begitu banyak kisah-kisah dalam Alquran yang bisa menjadi penguat keimanan serta ketakwaan kita. Begitu pula dengan kisah Nabi Yunus ‘alaihissallam. Beliau adalah nabi yang mulia, yang dikisahkan dalam Alquran.

Allah ta’ala berfirman,

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Laa ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazzhalimiin.“Sungguh tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88)

Dalam kisah tersebut, diceritakan bahwa Nabi Yunus ‘alaihissallam berada dalam 3 kegelapan. Bayangkan ketika kita di posisinya. Pertama, beliau berada dalam kegelapan malam. Gelap gulita. Andai kita tersesat di kota Jakarta, misalnya, yang gelap tidak ada lampu, tentu sudah menegangkan. Kegelapan kedua yakni kegelapan laut yang dalam. Pada pagi atau siang hari saja, sinar matahari tidak bisa menembus batas kedalaman tertentu. Bagaimana keadaan orang yang berada di laut dalam di tengah malam gelap gulita? Tentu sudah tidak ada lagi harapan bukan? Dan kegelapan terakhir, yakni kegelapan di perut (ikan) Paus. Jika orang biasa, tentu sudah tidak ada lagi harapan.

Namun inilah pelajaran sekaligus keutaamaan Nabi Yunus ‘alaihissallam. Kesabaran serta permohonan istigfarnya sungguh amat baik kita contoh. Di tengah keputusasaan itu, beliau ‘alaihissallam masih berharap pada Allah dengan doa yang sangat indah:

Laa ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazzhalimiin.

“Sungguh tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.”

Dan Allah pun mengangkat serta menolong nabi Yunus ‘alaihissalam. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.

Advertisements

Download Shahih Targhib wa Tarhib karya Syaikh Al-Bani

Bismillahirrahmanirrahim.

Salah satu karya yang patut kita pelajari adalah karya tulis oleh Syaikh Al-Bani rahimahullah yang berusaha meneliti kitab hadits berisikan anjuran serta ancaman yang semakin meningkatkan kadar ketaqwaan kita. Kitab Targhib wa Tarhib adalah kitab yang disusun oleh al-Hafiz Al-Munziri yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan kemudian, pada masa ini diteliti kembali tingkat keshahihan hadits-hadits oleh Syaikh Al-Bani sehingga makin bermanfaat bagi umat islam.

Download disini

3 Hal yang Membuat Amalan Kecil Kita Besar di sisi Allah

Bismillahirrahmanirrahim.

Terkadang ada orang yang menurut pandangan kita memiliki amal sholeh yang amat besar sehingga amalan kita serasa kecil dibandingan mereka. Namun, amalan kita bisa saja menjadi besar di sisi Allah. Maka itu, janganlah kita bersedih tapi justru semakin bersemangat meningkatkan kualitas amal kita.

1). Memperbanyak Niat Baik

Apa maksudnya? Bukankah dengan niat saja sudah cukup mendatangkan pahala? Tentang niat, telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Jadi, suatu amal menjadi diterima atau tidak bergantung pada niatnya. Lalu bagaimana jika satu amalan didasarkan atas beberapa niat? Sebagai contoh, Amir, seorang pemuda, ingin berangkat bekerja. Dia memiliki keluarga yang dia nafkahi setiap hari. Bagaimana caranya jika berangkat bekerjanya Amir bisa mendatangkan beberapa keutamaan?  Jika Amir hanya meniatkan bekerja untuk mencari nafkah untuk keluarga maka itu sudah cukup, namun Amir hanya mendapat satu keutamaan. Padahal keutamaan bekerja dalam Islam amat banyak.

Keutamaan Bekerja:

(1) Sedekah kepada keluarga lebih utama dari sedekah sunnah lainnya. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995).

(2) Memenuhi keperluan dari keluarga dan sanak saudara dapat menghindari diri dari siksa neraka. Hal ini berdasarkan hadits,

Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْفَقَ عَلَى ابْنَتَيْنِ أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ذَوَاتَىْ قَرَابَةٍ يَحْتَسِبُ النَّفَقَةَ عَلَيْهِمَا حَتَّى يُغْنِيَهُمَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ يَكْفِيَهُمَا كَانَتَا لَهُ سِتْراً مِنَ النَّارِ

Barangsiapa mengeluarkan hartanya untuk keperluan kedua anak perempuannya, kedua saudara perempuannya atau kepada dua orang kerabat perempuannya dengan mengharap pahala dari Allah, lalu Allah mencukupi mereka dengan karunianya, maka amalan tersebut akan membentengi dirinya dari neraka” (HR. Ahmad 6: 293. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if)

Itulah beberapa keutamaan bekerja dan memberi nafkah di antara banyak keutamaan lainnya. Mengenai meniatkan beberapa hal dalam satu amalan,  seorang ulama memberikan keterangan.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

“Adapun dari sisi berlipat gandanya pahala, yaitu dengan banyaknya niat-niat baik. Karena satu ketaatan memungkinkan untuk diniatkan banyak kebaikan, maka baginya pahala untuk masing-masing niat. Karena setiap niat merupakan kabaikan, kemudian setiap kebaikan akan dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat” (Mukhtashor Minhaaj Al-Qosshidiin hal 362)

Sehingga dengan meniatkan bahwa pekerjaannya merupakan kewajiban dalam memberi nafkah kepada keluarga (sebagai sedekah) dan untuk menghindari dari siksa neraka, maka sebagai contoh di atas, Amir mendapatkan dua keutamaan sekaligus dalam satu amalan.

2). Pahala Bergantung pada Kesulitan

Hal berikutnya agar amalan kecil kita besar di sisi Allah adalah dengan melihat tingkat kesulitan atau kelelahan yang dihasilkan dari amalan tersebut. Contoh mudahnya: ada seorang buruh petani yang bersedekah sebesar 50 ribu rupiah, lalu di waktu yang sama ada pula seorang direktur perusahaan besar bersedekah dengan jumlah yang sama, manakah di sisi Allah yang lebih besar keutamannya jika keduanya sama-sama ikhlas dalam niatnya? Jawabannya adalah berdasarkan hadits berikut,

Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;
اْلأَجْرُ عَلَى قَدْرِ النَّصَبِ
“Pahala sesuai dengan kadar kepayahan” (HR Bukhari Muslim)

Maka dalam hal ini, sedekah yang dilakukan sang buruh tani tadi lebih utama di sisi Allah dibandingkan sang direktur. Hal ini dikarenakan untuk mendapat jumlah uang yang sama, buruh tani harus mengelurkan waktu serta tenaga lebih. Dan Allah ta’ala melihat hal ini sebagai suatu kelebihan. Contoh lain misalnya orang yang jarak dari masjid lebih jauh, maka pahalanya lebih besar dibanding yang lebih dekat. Atau orang datang ke masjid lebih awal, juga lebih baik dibanding yang lebih akhir.

Namun ada catatan mengenai hal ini. Yaitu jangan sampai kita sengaja mempersulit diri kita. Karena agama ini diturunkan di atas kemudahan, bukan kesulitan. Maksudnya adalah, jangan sampai kita mengorbankan hal yang bukan kewajiban di atas kewajiban. Misal, shalat subuh hukumnya fardhu ain. Namun karena kita hendak mengerjakan shalat qabliyah subuh di rumah sehingga terlambat atau tertinggal jamaah di masjid, justru hal ini lebih buruk di sisi Allah, karena kita meninggalkan yang wajib di atas yang bukan wajib.

3). Amalan Dilakukan Secara Terus Menerus (kontinu)

Amalan kecil namun jika dilakukan terus menerus amat dicintai Allah. Mengenai hal ini ada beberapa hadits, yaitu:

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit. (HR. Muslim no. 782)

Juga dalam hadits lainnya, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782)

Sungguh beruntung orang-orang yang dapat istiqomah dalam amalannya. Kita bisa melihat bagaimana para sahabat radiyallahu ‘anhu senantiasa merutinkan amalan-amalan mereka walau kecil.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Bilal :

يَا بِلاََلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّي

“Wahai Bilal, kabarkanlah kepadaku tentang amalan yang paling memberikan pengharapan padamu yang telah kau kerjakan, karena aku mendengar gerakan kedua sendalmu di hadapanku di surga”. Bilal berkata, “Tidaklah aku mengerjakan suatu amalan yang paling memberikan pengharapan padaku daripada jika aku bersuci kapan saja di malam hari atau siang hari kecuali aku sholat dengan bersuciku tersebut sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah” (HR Al-Bukhari no 1149 dan Muslim no 2458)

Maka dalam sudut pandang Islam, amalan yang serupa yang dilakukan  tiap insan manusia bisa berbeda-beda kadar kualitasnya. Maka saudaraku ikhwafillah, jangan berkecil hati terhadap amalan kecil kita. Jangan merasa rendah sehingga syaitan menggoda kita untuk tidak melanjutkan amalan kita. Walau hanya dengan 1000 perak per hari, namun ketika kita niatkan atas beberapa hal, dengan jerih payah kita, lalu kita istiqomah di dalamnya, bisa jadi hal justru menjadi amalan yang menyebabkan kita masuk surgaNya. Maka, tetaplah berlomba-lomba dalam kebaikan. Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi:

[1] https://firanda.com/index.php/artikel/aqidah/233-multi-niat-multi-pahala

[2] http://www.muslimfamilia.com/2016/01/pahalamu-sebanding-dengan-rasa-lelahmu.html

[3] https://rumaysho.com/2262-6-keutamaan-mencari-nafkah-bagi-suami.html

[4] https://muslim.or.id/3009-amalan-lebih-baik-kontinu-walaupun-sedikit.html

[5] http://ummatan-wasathan.blogspot.co.id/2011/03/penentu-nilai-pahala.html

 

Tenggelam Dosa di Dunia, Banjir Keringat di AKhirat

Oleh: ustadz Abu Umar Abdillah

Mungkin Anda pernah berada dalam situasi yang sangat gerah, matahari memancarkan sinarnya yang panas, sementara Anda berada di tengah desak-desakan dengan banyaknya manusia di sekitar kita. Peluh keringat mengucur deras, tenaga serasa terkuras dan tenggorokan serasa kering dan susah untuk bernapas.
Tetapi, separah apapun yang pernah kita alami dan kita dengar itu semua tidak sebanding dengan apa yang kelak dialami oleh banyak manusia tatkala pada hari Kiamat, hari di mana manusia berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Panas Makhsyar yang Membakar
Kelak, setelah manusia dibangkitkan, mereka semua akan digiring ke satu tempat berkumpul (mahsyar) dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian dan dalam keadaan tidak berkhitan. Tak ada satupun yang tercecer, dari sejak manusia pertama hingga manusia terakhir dimuka bumi. Allah Ta’ala berfirman,

“dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka.”(QS al-Kahfi 47)

Bahkan, tak hanya manusia dan jin yang dikumpulkan kala itu, tapi juga hewan-hewan dan binatang.

Bayangkan betapa banyak manusia kala itu, dikumpulkan dalam satu tempat yang sama. Sementara mereka dalam keadaan berdiri, sedangkan matahari dekat sekali di atas kepala manusia. Rasulullah Shallallahu alaihiwasallam bersabda,

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ
“(Ketika itu) matahari didekatkan di atas makhluk dengan jarak satu mil.” (HR Muslim)

Sulaim bin Amir yang meriwayatkan hadits tersebut berkata, “Demi Allah saya tidak tahu makna ‘mil’ yang beliau maksud; apakah mil dengan pengertian satuan jarak di bumi, atau makna ‘mil’ yang berarti alat yang dipakai untuk bercelak. Jika sekarang matahari yang konon jaraknya dengan bumi sejauh 150.000.000 km saja sudah kita rasakan panasnya, bagaimana lagi jika jaraknya hanya 1 mil saja, atau bahkan 10 cm seperti panjang alat untuk bercelak.

Begitu dekat jarak antara matahari di atas manusia, sementara manusia tak memakai alas kaki, tak memakai sehelai benangpun di tubuhnya dan dalam keadaan tidak berkhitan.

Di dorong rasa malu yang tinggi, Aisyah radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Laki-laki dan perempuan sama wahai Rasulullah? Bagaimana jika mereka saling lihat satu sama lain?” Rasulullah bersabda,

“Wahai Aisyah, urusan yang mereka hadapi terlampau besar dari sekedar melihat satu sama lain.”(HR Bukhari dan Muslim)

Mereka berdiri dalam keadaan demikian selama 50.000 tahun dalam hitungan dunia, dan hanya ada siang saja, karena sekian lama itu hanyalah satu hari di akhirat. Suatu kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca firman Allah Ta’ala,

تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS al-Ma’arij 4)
Lalu beliau bersabda,

كَيْفَ بِكُمْ إِذاَ جَمَعَكُمُ اللهُ كَماَ يُجْمَعُ النَّبْلُ فِي الْكِناَنَةِ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ ثُمَّ لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْكُمْ
“Bagaimana kiranya tatkala Allah mengumpulkan kalian sebagaimana mengumpulkan anak panah dalam kinanah (wadahnya) selama limapuluh ribu tahun kemudian Allah tidak mau melihat kalian?” (HR al-Hakim beliau mengatakan shahih, disepakati pula oleh adz-Dzahabi dan al-Albani)

Manusia berdesak-desakan saking banyaknya, terik matahari membakar kulit manusia yang tanpa pakaian saking dekatnya, kepayahan tak terperi dirasakan lantaran berdiri begitu lamanya, rasa haus mencekik tenggorokan mereka. Tak ada tempat berteduh, tak ada pilihan tempat untuk bergeser, Tak ada waktu untuk duduk, apalagi berbaring, hingga keringat mengucur dari sekujur tubuh. Terjadilah banjir keringat yang makin menambah penderitaan manusia. Andai saja manusia bisa pingsan seperti di dunia, tentu ia bisa rehat. Namun tak lagi berlaku pingsan atau tidur di akhirat. Andai saja manusia ketika bisa terbakar kemudian mati, tentulah segera usai penderitaan. Akan tetapi, mati tak berlaku lagi setelah kematian di dunia, sedangkan penderitaan bisa dirasakan dengan ‘sempurna’. Belum lagi mereka masih mengkhawatirkan apa yang kelak diputuskan Allah atas mereka. Ingin sekali mereka menjadi seperti binatang yang tidak dimintai pertanggungjawaban. Yang tatkala mereka dikumpulkan di maskhsyar lalu dijadikan tanah oleh Allah, dan selesai sudah urusan mereka. Demi melihat bagaimana hewan-hewan dijadikan tanah, Allah mengisahkan tentang mereka,

“Alangkah baiknya sekiranya aku menjadi tanah”. (QS an-Naba’ 40)

Kadar Keringat Sesuai Kadar Maksiat
Mereka merasakan dampaknya sesuai dengan kadar dosa mereka. Semakin banyak mencicipi dosa di dunia dan tenggelam dalam syahwatnya, maka semakin dalam ia tenggelam oleh keringat di akhirat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا ». قَالَ وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ
“Maka manusia akan tenggelam dalam keringat sesuai kadar amalnya. Ada yang keringatnya membanjiri hingga mata kakinya, ada yang tenggelam hingga lututnya, ada yang sampai pinggulnya dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringatnya, “ Beliau bersabda sembari mengisyaratkan tangannya ke mulutnya.” (HR Muslim)

Saking banyaknya keringat manusia, maka bumi menjadi basah karenanya. Bahkan banjir melanda bawah bumi, di mana keringatmanusia ditelan bumi hingga kedalaman tujuhpuluh hasta, sementara di atas bumi banjir keringat mencapai mulut atau bahkan telinga manusia.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Manusia berkeringat pada hari Kiamat hingga keringatnya meresap ke dalam bumi sedalam 70 hasta, sementara mereka tenggelam oleh keringat hingga mencapai telinga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maka hakikatnya, setiap satu dosa yang dijamah manusia, artinya ia sedang menambah kadar keringat di akhirat yang berarti dirasakannya satu kadar rasa penat. Maka, silakan manusia bermaksiat sesuai dengan kadar kepayahan yang ingin dirasakan di akhirat. Balasan di akhirat, setimpal dengan kadar dosa ataupun taat di dunia. Andai saja kita banyak mengingat hal ini, tentu dosa akan tercegah. Andai saja hati kita senantiasa terjaga, bahwa keringat yang mengucur di dunia karena taat bisa meringankan penderitaan di hari itu, tentulah kita akan bersemangat di dalam taat.

Tak ada yang bisa menyelamatkan manusia dari penderitaan itu selain amal kebaikan yang mereka lakukan. Orang-orang mukmin yang konsisten dengan keimanannya. Bagi mereka ada keteduhan, ada kemudahan dan keringanan. Pernah seorang sahabat bertanya, “dimanakah orang-orang mukmin ketika itu?” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab,

يُوضَعُ لَهُمْ كَرَاسِيُّ مِنْ نُورٍ وَتُظَلِّلُ عَلَيْهِمُ الْغَمَامُ يَكُونُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَقْصَرَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ مِنْ سَاعَةٍ مِنْ نَهَارٍ
“Diletakkan untuk mereka kursi-kursi dari cahaya, lalu awan menaungi atas mereka sehingga hari itu dipendekkan atas orang-orang mukmin serasa sesaat di siang hari.” (HR Ibnu Hibban, al-Albani mengatakan haditsnya hasan)

Di saat para penghuni makhsyar berada di puncak kehausan, orang-orang mukmin bisa mendapatkan fasilitas minum di telaganya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana masing-masing Nabi juga memiliki haudh (telaga) yang disediakan bagi umatnya yang taat. Di saat yang lain merasa penderitaan yang terasa sangat-sangat lama, maka hal itu dirasakan ringan oleh orang-orang yang beriman, terasa singkat pula peristiwa besar itu dijalani. Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

حَوْضِى مَسِيرَةُ شَهْرٍ وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ وَمَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ الْوَرِقِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلاَ يَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا
“Telagaku (panjang dan lebarnya) adalah satu bulan perjalanan, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada kesturi, bejananya sebanyak bintang di langit, barangsiapa yang minum darinya, ia tidak akan merasa haus selamanya.” (HR. Bukhari)

Mereka tidak haus, tidak lapar dan tidak kepanasan, semoga Allah memasukkan kita ke dalamnya. Aamiin. (Abu Umar Abdillah)

Sumber: arrisalah.net