Category Archives: Nasehat

Indahnya Doa Nabi Yunus

Bismillahirrahmanirrahim..

Salah satu hal yang bisa kita dapatkan dalam Alquran adalah pelajaran berharganya. Begitu banyak kisah-kisah dalam Alquran yang bisa menjadi penguat keimanan serta ketakwaan kita. Begitu pula dengan kisah Nabi Yunus ‘alaihissallam. Beliau adalah nabi yang mulia, yang dikisahkan dalam Alquran.

Allah ta’ala berfirman,

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Laa ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazzhalimiin.“Sungguh tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88)

Dalam kisah tersebut, diceritakan bahwa Nabi Yunus ‘alaihissallam berada dalam 3 kegelapan. Bayangkan ketika kita di posisinya. Pertama, beliau berada dalam kegelapan malam. Gelap gulita. Andai kita tersesat di kota Jakarta, misalnya, yang gelap tidak ada lampu, tentu sudah menegangkan. Kegelapan kedua yakni kegelapan laut yang dalam. Pada pagi atau siang hari saja, sinar matahari tidak bisa menembus batas kedalaman tertentu. Bagaimana keadaan orang yang berada di laut dalam di tengah malam gelap gulita? Tentu sudah tidak ada lagi harapan bukan? Dan kegelapan terakhir, yakni kegelapan di perut (ikan) Paus. Jika orang biasa, tentu sudah tidak ada lagi harapan.

Namun inilah pelajaran sekaligus keutaamaan Nabi Yunus ‘alaihissallam. Kesabaran serta permohonan istigfarnya sungguh amat baik kita contoh. Di tengah keputusasaan itu, beliau ‘alaihissallam masih berharap pada Allah dengan doa yang sangat indah:

Laa ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazzhalimiin.

“Sungguh tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.”

Dan Allah pun mengangkat serta menolong nabi Yunus ‘alaihissalam. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.

Advertisements

Adakah Doa untuk Pergantian Malam Tahun Baru?

Ternyata-Ada-Ritual-3-Agama-di-Malam-Tahun-Baru

Telah diketahui bahwa baru saja kita lewati pergantian tahun baru Masehi. Banyak manusia, termasuk kaum muslimin yang merayakannya. Juga tidak sedikit yang menggantinya menjadi malam muhasabah atau refleksi diri. Pertanyaannya, adakah tuntunan dari Alquran atau hadits yang mengajarkan doa atau dzikir pada malam tahun baru atau pergantian tahun baru?

Menurut kami, tidak ada doa khusus yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sebagai penggantinya, ada banyak doa dan dzikir yang bisa kita amalkan setiap hari yang faidah dan manfaatnya sangat besar.

1). Doa dan Dzikir Memohom Ampunan (3x)

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ
Astaghfirullahal ‘Azhim alladzi laa ilaha illa huwa al hayyu al qayyum wa atuubu ilaih
Artinya : “Aku memohon ampunan Allah Yang Tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus (makhluk-Nya)”

Keutamaannya: “Barang siapa yang berkata: Astaghfirullahal ‘Azhim alladzi laa ilaha illa huwa al hayyu al qayyum wa atuubu ilaih, sebanyak tiga kali, niscaya diampuni dosa-dosanya walaupun dosanya semerbak merata.” HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 2550, katanya: shahih sesuai syarat Imam Muslim. Juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi No. 3577, katanya: hadits gharib. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3577)

2). Doa dan Dzikir Ungkapan Rasa Syukur (3x)

اَللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ
Allahumma maa ashbaha biy min ni’matin aw bi ahadin min khalqika faminka wahdaka laa syarikalak falakalhamdu wa lakasy syukru”
Artinya : “Ya Allah, nikmat yang kuterima atau diterima oleh seseorang di antara makhluk-Mu di pagi ini adalah dari-Mu. Maha Esa Engkau, tiada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu).”

Keutamaannya : Jika dia telah menunaikan syukur pada siang harinya, dan barangsiapa yang membacanya pada sore, maka dia telah menunaikan syukur pada malam harinya. Para ulama berbeda pendapat tentang status hadits ini. Tetapi umumnya mereka menyatakannya shahih. Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kumpulan Shahihnya. Al Hafizh Ibnu Hajar mengakui penshahihan ini. (Fathul Bari, 11/131. Darul Fikr). Sementara Al Hafizh menghasankan dalam An Nataij Al Afkar. (Raudhatul Muhadditsin No. 5376)

3). Doa dan Dzikir Memohon Kesehatan, terlepas dari Hutang dan Kekafiran serta Azab Kubur (3x)

اَللّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي, اَللّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي, اَللّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي (ثَلاَثًا)
اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ, وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ, لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ (ثَلاَثًا)
Allahumma ‘aafini fi badani, Allahumma ‘aafini fi sam’iy, Allahumma ‘aafini fi bashariy.” (3X)
“Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri, wa a’udzubika min ‘adzabil qabri, laa ilaha illa anta.” (3X)
Artinya : “Ya Allah berikanlah kesehatan bagi badanku, bagi pendengaranku, bagi penglihatanku, dan tidak ada Ilah kecuali Engkau”

 

Artinya: “Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefaqiran, Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari azab kubur, tidak ada Ilah kecuali Engkau”
Keutamaannya: disebutkan dalam hadits, Dia (Abu Bakrah) menjawab: “Benar, wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa dengan semua itu, maka aku suka jika aku berjalan di atas sunnahnya.” Diriwayatkan oleh (1) Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 20430, (2)Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 701, (3) Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 5090, (4) Imam An Nasa’i No. 22, 572, 651, (5) Imam Ibnus Sunni No. 69, (6) Imam Ibnu Abi Syaibah 7/26. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya hasan. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 20430). Syaikh Al Albani juga menghasankannya. (Adabul Mufrad, 1/244. Lihat juga Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 5090)
Semoga dengan doa dan dzikir ini, Allah ta’ala beri kemudahan kita menjalani hari-hari ke depannya.. Aamiin…
Sumber: https://dzikirshahih.blogspot.co.id/2018/01/adakah-doa-memasuki-tahun-baru.html

3 Hal yang Membuat Amalan Kecil Kita Besar di sisi Allah

Bismillahirrahmanirrahim.

Terkadang ada orang yang menurut pandangan kita memiliki amal sholeh yang amat besar sehingga amalan kita serasa kecil dibandingan mereka. Namun, amalan kita bisa saja menjadi besar di sisi Allah. Maka itu, janganlah kita bersedih tapi justru semakin bersemangat meningkatkan kualitas amal kita.

1). Memperbanyak Niat Baik

Apa maksudnya? Bukankah dengan niat saja sudah cukup mendatangkan pahala? Tentang niat, telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Jadi, suatu amal menjadi diterima atau tidak bergantung pada niatnya. Lalu bagaimana jika satu amalan didasarkan atas beberapa niat? Sebagai contoh, Amir, seorang pemuda, ingin berangkat bekerja. Dia memiliki keluarga yang dia nafkahi setiap hari. Bagaimana caranya jika berangkat bekerjanya Amir bisa mendatangkan beberapa keutamaan?  Jika Amir hanya meniatkan bekerja untuk mencari nafkah untuk keluarga maka itu sudah cukup, namun Amir hanya mendapat satu keutamaan. Padahal keutamaan bekerja dalam Islam amat banyak.

Keutamaan Bekerja:

(1) Sedekah kepada keluarga lebih utama dari sedekah sunnah lainnya. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995).

(2) Memenuhi keperluan dari keluarga dan sanak saudara dapat menghindari diri dari siksa neraka. Hal ini berdasarkan hadits,

Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْفَقَ عَلَى ابْنَتَيْنِ أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ذَوَاتَىْ قَرَابَةٍ يَحْتَسِبُ النَّفَقَةَ عَلَيْهِمَا حَتَّى يُغْنِيَهُمَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ يَكْفِيَهُمَا كَانَتَا لَهُ سِتْراً مِنَ النَّارِ

Barangsiapa mengeluarkan hartanya untuk keperluan kedua anak perempuannya, kedua saudara perempuannya atau kepada dua orang kerabat perempuannya dengan mengharap pahala dari Allah, lalu Allah mencukupi mereka dengan karunianya, maka amalan tersebut akan membentengi dirinya dari neraka” (HR. Ahmad 6: 293. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if)

Itulah beberapa keutamaan bekerja dan memberi nafkah di antara banyak keutamaan lainnya. Mengenai meniatkan beberapa hal dalam satu amalan,  seorang ulama memberikan keterangan.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

“Adapun dari sisi berlipat gandanya pahala, yaitu dengan banyaknya niat-niat baik. Karena satu ketaatan memungkinkan untuk diniatkan banyak kebaikan, maka baginya pahala untuk masing-masing niat. Karena setiap niat merupakan kabaikan, kemudian setiap kebaikan akan dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat” (Mukhtashor Minhaaj Al-Qosshidiin hal 362)

Sehingga dengan meniatkan bahwa pekerjaannya merupakan kewajiban dalam memberi nafkah kepada keluarga (sebagai sedekah) dan untuk menghindari dari siksa neraka, maka sebagai contoh di atas, Amir mendapatkan dua keutamaan sekaligus dalam satu amalan.

2). Pahala Bergantung pada Kesulitan

Hal berikutnya agar amalan kecil kita besar di sisi Allah adalah dengan melihat tingkat kesulitan atau kelelahan yang dihasilkan dari amalan tersebut. Contoh mudahnya: ada seorang buruh petani yang bersedekah sebesar 50 ribu rupiah, lalu di waktu yang sama ada pula seorang direktur perusahaan besar bersedekah dengan jumlah yang sama, manakah di sisi Allah yang lebih besar keutamannya jika keduanya sama-sama ikhlas dalam niatnya? Jawabannya adalah berdasarkan hadits berikut,

Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;
اْلأَجْرُ عَلَى قَدْرِ النَّصَبِ
“Pahala sesuai dengan kadar kepayahan” (HR Bukhari Muslim)

Maka dalam hal ini, sedekah yang dilakukan sang buruh tani tadi lebih utama di sisi Allah dibandingkan sang direktur. Hal ini dikarenakan untuk mendapat jumlah uang yang sama, buruh tani harus mengelurkan waktu serta tenaga lebih. Dan Allah ta’ala melihat hal ini sebagai suatu kelebihan. Contoh lain misalnya orang yang jarak dari masjid lebih jauh, maka pahalanya lebih besar dibanding yang lebih dekat. Atau orang datang ke masjid lebih awal, juga lebih baik dibanding yang lebih akhir.

Namun ada catatan mengenai hal ini. Yaitu jangan sampai kita sengaja mempersulit diri kita. Karena agama ini diturunkan di atas kemudahan, bukan kesulitan. Maksudnya adalah, jangan sampai kita mengorbankan hal yang bukan kewajiban di atas kewajiban. Misal, shalat subuh hukumnya fardhu ain. Namun karena kita hendak mengerjakan shalat qabliyah subuh di rumah sehingga terlambat atau tertinggal jamaah di masjid, justru hal ini lebih buruk di sisi Allah, karena kita meninggalkan yang wajib di atas yang bukan wajib.

3). Amalan Dilakukan Secara Terus Menerus (kontinu)

Amalan kecil namun jika dilakukan terus menerus amat dicintai Allah. Mengenai hal ini ada beberapa hadits, yaitu:

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit. (HR. Muslim no. 782)

Juga dalam hadits lainnya, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782)

Sungguh beruntung orang-orang yang dapat istiqomah dalam amalannya. Kita bisa melihat bagaimana para sahabat radiyallahu ‘anhu senantiasa merutinkan amalan-amalan mereka walau kecil.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Bilal :

يَا بِلاََلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّي

“Wahai Bilal, kabarkanlah kepadaku tentang amalan yang paling memberikan pengharapan padamu yang telah kau kerjakan, karena aku mendengar gerakan kedua sendalmu di hadapanku di surga”. Bilal berkata, “Tidaklah aku mengerjakan suatu amalan yang paling memberikan pengharapan padaku daripada jika aku bersuci kapan saja di malam hari atau siang hari kecuali aku sholat dengan bersuciku tersebut sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah” (HR Al-Bukhari no 1149 dan Muslim no 2458)

Maka dalam sudut pandang Islam, amalan yang serupa yang dilakukan  tiap insan manusia bisa berbeda-beda kadar kualitasnya. Maka saudaraku ikhwafillah, jangan berkecil hati terhadap amalan kecil kita. Jangan merasa rendah sehingga syaitan menggoda kita untuk tidak melanjutkan amalan kita. Walau hanya dengan 1000 perak per hari, namun ketika kita niatkan atas beberapa hal, dengan jerih payah kita, lalu kita istiqomah di dalamnya, bisa jadi hal justru menjadi amalan yang menyebabkan kita masuk surgaNya. Maka, tetaplah berlomba-lomba dalam kebaikan. Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi:

[1] https://firanda.com/index.php/artikel/aqidah/233-multi-niat-multi-pahala

[2] http://www.muslimfamilia.com/2016/01/pahalamu-sebanding-dengan-rasa-lelahmu.html

[3] https://rumaysho.com/2262-6-keutamaan-mencari-nafkah-bagi-suami.html

[4] https://muslim.or.id/3009-amalan-lebih-baik-kontinu-walaupun-sedikit.html

[5] http://ummatan-wasathan.blogspot.co.id/2011/03/penentu-nilai-pahala.html

 

Ciri Orang Munafik dalam Alquran

“A mind is like a parachute, it works when it’s open” – Frank Zappa

Sungguh sifat dan orang munafik merupakan sifat sangat tercela. Alih-alih terlihat baik di depan, ternyata menusuk dari belakang. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam senantiasa menjelaskan keburukan-keburukan serta akibat dari sifat tersebut. Salah satunya, Firman Allah ta’ala:

…”Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An Nisaa : 140).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu pada tingkat yang paling bawah dari neraka… Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka..” (QS An Nisaa : 145)

“……Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandarkan. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang bertubuh bagus.” (Shahih Muslim No.4976)

Tidak-kah kita takut jika terjangkit sifat tersebut?

 

Lalu bagaimana cara mengenali sifat tersebut agar kita terhindar darinya?

Alhamdulillah, Allah telah menurunkan Alquran sebagai obat bagi segala sesuatu, termasuk obat bagi penyakit jiwa.

Firman Allah ta’ala surat An Nisaa Ayat 138 – 140:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ العِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعًا
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللّهِ يُكَفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Artinya : “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An Nisaa : 138 – 140)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna dari firman Allah swt بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih” yaitu bahwa orang-orang munafik yang memiliki sifat :

(1) beriman kemudian kafir maka hati mereka tertutup kemudian Allah mensifatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung dengan meninggalkan orang-orang beriman artinya bahwa mereka (orang-orang munafik) pada hakekatnya bersama mereka (orang-orang kafir),

(2) memberikan loyalitas dan kasih sayangnya kepada mereka lalu jika bertemu dengan mereka maka orang-orang munafik itu mengatakan,”Sesungguhnya kami bersama kalian, sesungguhnya kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman dengan penampilan kami yang seolah-olah sejalan dengan mereka.”

Itulah gejala dan tanda dari sifat munafik. Kenalilah dan identifikasi agar kita terhindar darinya.

 

Kekuatan, Kebaikan, Perbaikan, Semua dari Allah

Banyak yang kemudian dari kita mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin kita dengan alasan: bukankah mereka lebih baik, dan tak ada muslim yang lebih baik? Akhirnya, mereka merelakan kaum muslimin dipimpin oleh orang-orang kafir. Prasangka yang amat jauh dari kebenaran. Apakah kehebatan dan kekuatan itu milik orang kafir tersebut, ataukah Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu?

Lihatlah, Allah subhana wata’ala mengingkari pemberian loyalitas mereka (orang-orang munafik) kepada orang-orang kafir dengan أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ “Apakah mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir?” kemudian Allah subhana wata’ala memberitahukan bahwa izzah (kekuatan) seluruhnya adalah milik Allah saja dan tak satu pun yang menyertainya dan juga milik orang-orang yang diberikan oleh-Nya, sebagaimana firman-Nya di ayat lain :

Artinya : “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS. Fathir : 10)

يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya : “Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS. Al Munafiqun : 8)

 

Lihatlah Realita

Allah ta’ala sudah patahkan argumen orang-orang munafik yang mengatakan orang-orang kafir lebih baik. Lalu bagaimana realita di lapangan? Silakan lihat berita ini.

Disebutkan bahwa di Kalimantan Tengah dimana Gubernurnya seorang non muslim padahal mayoritas masyarakatnya Muslim, para pejabat publik muslim dicopot dan digantikan yang non muslim, gereja-gereja dibangun tanpa sebab, dan sebagainya. Atau lihatlah bagaimana mereka meng-akali pelelangan ujian Kepala Sekolah demi naiknya kepala-kepala sekolah yang kafir? Silakan lihat disini.

Atau lihatlah bagaimana Masjid Amir Hamzah di TIM dibongkar dan direncanakan dijadikan gedung kesenian. Silakan lihat disini.

 

Memohon Pertolongan Allah

Kita telah ketahui bahwa musibah dan cobaan itu adalah ketetapan Allah. Maka ketahui juga bahwa musibah dan cobaan itu hanya Allah lah yang bisa menghilangkannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al An’am: 17).

Jika pada hakikatnya hanya Allah-lah yang dapat menghilangkan segala kemudharatan, maka orang yang berfikir waras dan logis, tentu akan meminta tolong kepada Allah dari segala kesulitan dan kesusahan serta bergantung pada-Nya.

Adapun orang yang meminta tolong kepada sesembahan-sesembahan selain Allah ketika mendapat musibah, ia adalah orang yang durhaka kepada Allah akibat hatinya lalai dari berdzikir kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَـٰهٌ مَعَ اللَّـهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS. An Naml: 62)

 

Semoga Allah menyatukan umat islam dan menolong kita dari orang-orang munafik dan orang-orang kafir..

Aamiin..

————

Referensi:

1. http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/tafsir-surat-an-nisa-138-140.htm#.UzDWwSg-a01

2. http://kangaswad.wordpress.com/2014/01/04/meminta-pertolongan-hanya-kepada-allah/