Category Archives: Fiqh

3 Hal yang Membuat Amalan Kecil Kita Besar di sisi Allah

Bismillahirrahmanirrahim.

Terkadang ada orang yang menurut pandangan kita memiliki amal sholeh yang amat besar sehingga amalan kita serasa kecil dibandingan mereka. Namun, amalan kita bisa saja menjadi besar di sisi Allah. Maka itu, janganlah kita bersedih tapi justru semakin bersemangat meningkatkan kualitas amal kita.

1). Memperbanyak Niat Baik

Apa maksudnya? Bukankah dengan niat saja sudah cukup mendatangkan pahala? Tentang niat, telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Jadi, suatu amal menjadi diterima atau tidak bergantung pada niatnya. Lalu bagaimana jika satu amalan didasarkan atas beberapa niat? Sebagai contoh, Amir, seorang pemuda, ingin berangkat bekerja. Dia memiliki keluarga yang dia nafkahi setiap hari. Bagaimana caranya jika berangkat bekerjanya Amir bisa mendatangkan beberapa keutamaan?  Jika Amir hanya meniatkan bekerja untuk mencari nafkah untuk keluarga maka itu sudah cukup, namun Amir hanya mendapat satu keutamaan. Padahal keutamaan bekerja dalam Islam amat banyak.

Keutamaan Bekerja:

(1) Sedekah kepada keluarga lebih utama dari sedekah sunnah lainnya. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995).

(2) Memenuhi keperluan dari keluarga dan sanak saudara dapat menghindari diri dari siksa neraka. Hal ini berdasarkan hadits,

Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْفَقَ عَلَى ابْنَتَيْنِ أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ذَوَاتَىْ قَرَابَةٍ يَحْتَسِبُ النَّفَقَةَ عَلَيْهِمَا حَتَّى يُغْنِيَهُمَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ يَكْفِيَهُمَا كَانَتَا لَهُ سِتْراً مِنَ النَّارِ

Barangsiapa mengeluarkan hartanya untuk keperluan kedua anak perempuannya, kedua saudara perempuannya atau kepada dua orang kerabat perempuannya dengan mengharap pahala dari Allah, lalu Allah mencukupi mereka dengan karunianya, maka amalan tersebut akan membentengi dirinya dari neraka” (HR. Ahmad 6: 293. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if)

Itulah beberapa keutamaan bekerja dan memberi nafkah di antara banyak keutamaan lainnya. Mengenai meniatkan beberapa hal dalam satu amalan,  seorang ulama memberikan keterangan.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

“Adapun dari sisi berlipat gandanya pahala, yaitu dengan banyaknya niat-niat baik. Karena satu ketaatan memungkinkan untuk diniatkan banyak kebaikan, maka baginya pahala untuk masing-masing niat. Karena setiap niat merupakan kabaikan, kemudian setiap kebaikan akan dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat” (Mukhtashor Minhaaj Al-Qosshidiin hal 362)

Sehingga dengan meniatkan bahwa pekerjaannya merupakan kewajiban dalam memberi nafkah kepada keluarga (sebagai sedekah) dan untuk menghindari dari siksa neraka, maka sebagai contoh di atas, Amir mendapatkan dua keutamaan sekaligus dalam satu amalan.

2). Pahala Bergantung pada Kesulitan

Hal berikutnya agar amalan kecil kita besar di sisi Allah adalah dengan melihat tingkat kesulitan atau kelelahan yang dihasilkan dari amalan tersebut. Contoh mudahnya: ada seorang buruh petani yang bersedekah sebesar 50 ribu rupiah, lalu di waktu yang sama ada pula seorang direktur perusahaan besar bersedekah dengan jumlah yang sama, manakah di sisi Allah yang lebih besar keutamannya jika keduanya sama-sama ikhlas dalam niatnya? Jawabannya adalah berdasarkan hadits berikut,

Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;
اْلأَجْرُ عَلَى قَدْرِ النَّصَبِ
“Pahala sesuai dengan kadar kepayahan” (HR Bukhari Muslim)

Maka dalam hal ini, sedekah yang dilakukan sang buruh tani tadi lebih utama di sisi Allah dibandingkan sang direktur. Hal ini dikarenakan untuk mendapat jumlah uang yang sama, buruh tani harus mengelurkan waktu serta tenaga lebih. Dan Allah ta’ala melihat hal ini sebagai suatu kelebihan. Contoh lain misalnya orang yang jarak dari masjid lebih jauh, maka pahalanya lebih besar dibanding yang lebih dekat. Atau orang datang ke masjid lebih awal, juga lebih baik dibanding yang lebih akhir.

Namun ada catatan mengenai hal ini. Yaitu jangan sampai kita sengaja mempersulit diri kita. Karena agama ini diturunkan di atas kemudahan, bukan kesulitan. Maksudnya adalah, jangan sampai kita mengorbankan hal yang bukan kewajiban di atas kewajiban. Misal, shalat subuh hukumnya fardhu ain. Namun karena kita hendak mengerjakan shalat qabliyah subuh di rumah sehingga terlambat atau tertinggal jamaah di masjid, justru hal ini lebih buruk di sisi Allah, karena kita meninggalkan yang wajib di atas yang bukan wajib.

3). Amalan Dilakukan Secara Terus Menerus (kontinu)

Amalan kecil namun jika dilakukan terus menerus amat dicintai Allah. Mengenai hal ini ada beberapa hadits, yaitu:

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit. (HR. Muslim no. 782)

Juga dalam hadits lainnya, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782)

Sungguh beruntung orang-orang yang dapat istiqomah dalam amalannya. Kita bisa melihat bagaimana para sahabat radiyallahu ‘anhu senantiasa merutinkan amalan-amalan mereka walau kecil.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Bilal :

يَا بِلاََلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّي

“Wahai Bilal, kabarkanlah kepadaku tentang amalan yang paling memberikan pengharapan padamu yang telah kau kerjakan, karena aku mendengar gerakan kedua sendalmu di hadapanku di surga”. Bilal berkata, “Tidaklah aku mengerjakan suatu amalan yang paling memberikan pengharapan padaku daripada jika aku bersuci kapan saja di malam hari atau siang hari kecuali aku sholat dengan bersuciku tersebut sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah” (HR Al-Bukhari no 1149 dan Muslim no 2458)

Maka dalam sudut pandang Islam, amalan yang serupa yang dilakukan  tiap insan manusia bisa berbeda-beda kadar kualitasnya. Maka saudaraku ikhwafillah, jangan berkecil hati terhadap amalan kecil kita. Jangan merasa rendah sehingga syaitan menggoda kita untuk tidak melanjutkan amalan kita. Walau hanya dengan 1000 perak per hari, namun ketika kita niatkan atas beberapa hal, dengan jerih payah kita, lalu kita istiqomah di dalamnya, bisa jadi hal justru menjadi amalan yang menyebabkan kita masuk surgaNya. Maka, tetaplah berlomba-lomba dalam kebaikan. Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi:

[1] https://firanda.com/index.php/artikel/aqidah/233-multi-niat-multi-pahala

[2] http://www.muslimfamilia.com/2016/01/pahalamu-sebanding-dengan-rasa-lelahmu.html

[3] https://rumaysho.com/2262-6-keutamaan-mencari-nafkah-bagi-suami.html

[4] https://muslim.or.id/3009-amalan-lebih-baik-kontinu-walaupun-sedikit.html

[5] http://ummatan-wasathan.blogspot.co.id/2011/03/penentu-nilai-pahala.html

 

Advertisements

Apakah Ahli Fiqh dan Ahli Hadits Berbeda?

Ustadz Farid Nu’man

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa ashhabihi wa man waalah, wa ba’d:

Pada dasarnya, pada sisi sumber pokoknya tidak ada perbedaan antara para ulama dalam menyimpulkan hukum pada sebuah permasalahan.

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ Al Fatawa, 3/6) sumber-sumber dalam pengambilan hukum adalah (secara ringkas):

1. Al Quran,
Telah disepakati oleh para imam dan seluruh kaum muslimin, tak ada yang menentangnya kecuali orang sesat

2. Sunah,
Yang tidak bertentangan dengan zhahir ayat Al Quran, tetapi menafsirkan Al Quran, seperti jumlah shalat, jumlah rakaat, nishab zakat, manasik haji, Umrah, dan hukum-hukum lainnya.

3. Ijma’ (kesepakatan),
Ini disepakati umumnya kaum muslimin dari kalangan ahli fiqih, ahli hadits, sufi, ahli kalam. Sedangkan ahli bid’ah seperti mu’tazilah  dan syi’ah menolaknya. Sebagian ulama mengatakan ijma’ hanya bisa terjadi pada masa sahabat saja, ada pula yang mengatakan, bisa pada masa sahabat dan tabi’in.

4.      Qiyas (analogi)
Yaitu analogi terhadap nash dan Ijma’, ini diakui oleh mayoritas ahli fiqih, bahkan kaum rasionalis berlebihan dalam menggunakannya, sampai mereka membantah nash. Sedangkan kaum zhahiri (tekstualis) menolaknya.

5.     Al Istish-hab,
Hukum asal dari sesuatu selama belum ada ketetapan yang merubahnya, yang halal adalah halal selamanya jika tidak ada alasan yang merubah statusnya, begitu pula yang haram.

6.      Al Mashalih Mursalah,
Yaitu pendapat seorang mujtahid bahwa sebuah perbuatan memiliki manfaat yang kuat dan nash syara’ tidak melarangnya. Para fuqaha berbeda pendapat kebolehan menggunakan metode ini. (selesai dari Imam Ibnu Taimiyah)

Sementara ulama lain menambahkan dengan Al Istihsan (perbuatan yang dipandang baik), Al ‘Urf (tradisi), Asy Syar’u man qablana (syariat orang terdahulu), Al Qaul Ash Shahabiy (pendapat sahabat), Al ‘Amal ahlul Madinah (perbuatan penduduk Madinah) dan Dzari’ah (menolak yang mubah untuk menghindar keharaman).

Point satu sampai tiga (Al Quran, As Sunnah, dan Ijma’) yang disebutkan Imam Ibnu Taimiyah, telah disepakati oleh semua ulama dari berbagai disiplin ilmu. Ada pun point lain setelahnya diperselisihkan oleh mereka, sebagaimana dirinci dalam berbagai kitab Ushul Fiqh. Nah, perbedaan mereka dalam penerimaan terhadap sumber-sumber selain tiga point itu, berdampak pada perbedaan hasil hukum yang mereka ijtihadkan. Perbedaan itu terjadi walau dengan sesama ahli fiqih.

Ingin saya tegaskan di sini, dahulu para ulama yang concern dengan hadits, mereka juga perhatian dan memahami fiqih dengan baik. Sebagaimana para ahli fiqih juga sangat perhatian dengan hadits. Oleh karena itu nama-nama seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Al Bukhari, Imam At Tirmidzi, atau yang setelah mereka seperti Imam Ibnu Hazm, Imam An Nawawi, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim,  Imam Ibnu Hajar,  dan banyak lagi, mereka adalah lautan  dalam ilmu hadits, tetapi mereka juga bintangnya para fuqaha (ahli fiqih).

Juga nama-nama seperti Imam Asy Syafi’i, Imam Al Auza’i, Imam Al Laits bin Sa’ad, dan lainnya, mereka adalah lautan dalam ilmu fiqih, tetapi mereka juga bintangnya para ahli hadits.

Bahkan Imam Sufyan bin ‘Uyainah mengancam akan memukul dengan pelepah kurma, orang yang belajar hadits tetapi tidak memahami fiqih, atau orang yang belajar fiqih tetapi tidak memahami ilmu hadits. Sebab, bagaimana mungkin seorang belajar fiqih tanpa mendalami hadits, sebab dari hadits-lah berbagai permasalahan fiqih paling banyak dibahas. Dan, bagaimana mungkin pula seorang belajar hadits tanpa mendalami fiqih hadits tersebut, bagaikan seorang memiliki barang berharga tetapi tidak mengerti nilai, harga, dan kegunaan barang tersebut.  Oleh karenanya, seharusnya ahli fiqih dan ahli hadits bukanlah dua kelompok yang di posisikan vis a vis (saling berbenturan), namun mereka adalah satu kesatuan yang saling menguatkan. Jika pun nantinya tetap ada perbedaan, maka itu merupakan bagian dari keragaman yang memang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan.

Kenyataan hari ini, tak bisa diingkari, seakan keduanya adalah hal terpisah. Ahli fiqih ada di sebuah lembah, ahli hadits ada di lembah lain. Sampai-sampai dianggap bahwa para ahli hadits adalah orang yang miskin fiqihnya dan berbahaya mengambil ilmu fiqih dari mereka. Mereka dianggap kelompok yang gegabah dalam memahami fiqih, hanya dari hadits tanpa menimbang berbagai variabel lain, padahal  untuk melahirkan keputusan fiqih mesti melihat dari berbagai sisi (holistik), seperti kaidah, maqashid-nya, kondisi dan kebiasaan masyarakat.  Sebaliknya, sebagaian menganggap bahwa para ahli fiqih adalah orang bodoh dalam hadits, maka curigailah kekuatan dalil dan argumentasinya, karena mereka  bagaikan pencari kayu bakar di malam hari (maksudnya, tidak bisa membedakan antara hadits shahih dan dhaif, bagaikan pencari kayu bakar yang tidak bisa membedakan mana kayu bakar mana rumput basah).

Lalu, masing-masing pihak punya pendukung fanatiknya.  Jika mengutip fiqih mereka lebih suka mengambil dari Syaikh Al Qaradhawi, Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Musthafa Az Zarqa’, Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh ‘Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan, dan fuqaha lainnya. Jika mengutip hadits manusia yang lain lebih tenang mengutip dari Syaikh Al Albani, Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Syaikh Abdul Fatah Abu Ghuddah, Syaikh Habiburrahman Al A’zhami, dan muhaddits kontemporer lainnya. Namun kita yakin dan percaya, bahwa  para ulama ini adalah manusia yang juga mempelajari fiqih dan hadits sekaligus, hanya saja nama mereka sudah terlanjur dikenal di masyarakat sebagai ahli fiqih saja, atau ahli hadits saja, padahal tidak demikian. Dan, seharusnya memang jangan sampai diposisikan dua pihak adalah pihak yang selalu berseberangan.

Kita berharap –walaupun sangat sulit mencari yang mumpuni dikeduanya- paling tidak masih bisa memadukan kedua kelompok ini. Syaikh Muhammad Al Ghazali Rahimahullah menganologikan hubungan antara ahli hadits dan ahli fiqih, bagaikan pemiliki barang bangunan dan tukang bangunan. Pemilik bangunan adalah pihak yang paling tahu barang mana yang paling bagus, kuat, dan layak dipakai, sedangkan tukang bangunan yang paling tahu memanfaatkan barang-barang bangunan untuk jadi apa, di bentuk bagaimana, dan seterusnya, sehingga layak dihuni dan indah dipandang. Itulah ahli hadits – si pemilik barang bangunan- dan ahli fiqih –si tukang bangunannya.

Bisa juga  diumpamakan seperti tukang sayur yang paling tahu kualitas sayur dan berbagai bahan makanan, dengan juru masak yang paling tahu bagaimana mengolah sayur dan bahan makanan tersebut menjadi makanan lezat dan sehat. Itulah ahli hadits dan ahli fiqih.

Wallahu A’lam

Sumber: abuhudzaifi.multiply.com