Category Archives: Dakwah

Ciri Orang Munafik dalam Alquran

“A mind is like a parachute, it works when it’s open” – Frank Zappa

Sungguh sifat dan orang munafik merupakan sifat sangat tercela. Alih-alih terlihat baik di depan, ternyata menusuk dari belakang. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam senantiasa menjelaskan keburukan-keburukan serta akibat dari sifat tersebut. Salah satunya, Firman Allah ta’ala:

…”Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An Nisaa : 140).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu pada tingkat yang paling bawah dari neraka… Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka..” (QS An Nisaa : 145)

“……Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandarkan. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang bertubuh bagus.” (Shahih Muslim No.4976)

Tidak-kah kita takut jika terjangkit sifat tersebut?

 

Lalu bagaimana cara mengenali sifat tersebut agar kita terhindar darinya?

Alhamdulillah, Allah telah menurunkan Alquran sebagai obat bagi segala sesuatu, termasuk obat bagi penyakit jiwa.

Firman Allah ta’ala surat An Nisaa Ayat 138 – 140:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ العِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعًا
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللّهِ يُكَفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Artinya : “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An Nisaa : 138 – 140)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna dari firman Allah swt بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih” yaitu bahwa orang-orang munafik yang memiliki sifat :

(1) beriman kemudian kafir maka hati mereka tertutup kemudian Allah mensifatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung dengan meninggalkan orang-orang beriman artinya bahwa mereka (orang-orang munafik) pada hakekatnya bersama mereka (orang-orang kafir),

(2) memberikan loyalitas dan kasih sayangnya kepada mereka lalu jika bertemu dengan mereka maka orang-orang munafik itu mengatakan,”Sesungguhnya kami bersama kalian, sesungguhnya kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman dengan penampilan kami yang seolah-olah sejalan dengan mereka.”

Itulah gejala dan tanda dari sifat munafik. Kenalilah dan identifikasi agar kita terhindar darinya.

 

Kekuatan, Kebaikan, Perbaikan, Semua dari Allah

Banyak yang kemudian dari kita mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin kita dengan alasan: bukankah mereka lebih baik, dan tak ada muslim yang lebih baik? Akhirnya, mereka merelakan kaum muslimin dipimpin oleh orang-orang kafir. Prasangka yang amat jauh dari kebenaran. Apakah kehebatan dan kekuatan itu milik orang kafir tersebut, ataukah Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu?

Lihatlah, Allah subhana wata’ala mengingkari pemberian loyalitas mereka (orang-orang munafik) kepada orang-orang kafir dengan أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ “Apakah mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir?” kemudian Allah subhana wata’ala memberitahukan bahwa izzah (kekuatan) seluruhnya adalah milik Allah saja dan tak satu pun yang menyertainya dan juga milik orang-orang yang diberikan oleh-Nya, sebagaimana firman-Nya di ayat lain :

Artinya : “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS. Fathir : 10)

يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya : “Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS. Al Munafiqun : 8)

 

Lihatlah Realita

Allah ta’ala sudah patahkan argumen orang-orang munafik yang mengatakan orang-orang kafir lebih baik. Lalu bagaimana realita di lapangan? Silakan lihat berita ini.

Disebutkan bahwa di Kalimantan Tengah dimana Gubernurnya seorang non muslim padahal mayoritas masyarakatnya Muslim, para pejabat publik muslim dicopot dan digantikan yang non muslim, gereja-gereja dibangun tanpa sebab, dan sebagainya. Atau lihatlah bagaimana mereka meng-akali pelelangan ujian Kepala Sekolah demi naiknya kepala-kepala sekolah yang kafir? Silakan lihat disini.

Atau lihatlah bagaimana Masjid Amir Hamzah di TIM dibongkar dan direncanakan dijadikan gedung kesenian. Silakan lihat disini.

 

Memohon Pertolongan Allah

Kita telah ketahui bahwa musibah dan cobaan itu adalah ketetapan Allah. Maka ketahui juga bahwa musibah dan cobaan itu hanya Allah lah yang bisa menghilangkannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al An’am: 17).

Jika pada hakikatnya hanya Allah-lah yang dapat menghilangkan segala kemudharatan, maka orang yang berfikir waras dan logis, tentu akan meminta tolong kepada Allah dari segala kesulitan dan kesusahan serta bergantung pada-Nya.

Adapun orang yang meminta tolong kepada sesembahan-sesembahan selain Allah ketika mendapat musibah, ia adalah orang yang durhaka kepada Allah akibat hatinya lalai dari berdzikir kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَـٰهٌ مَعَ اللَّـهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS. An Naml: 62)

 

Semoga Allah menyatukan umat islam dan menolong kita dari orang-orang munafik dan orang-orang kafir..

Aamiin..

————

Referensi:

1. http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/tafsir-surat-an-nisa-138-140.htm#.UzDWwSg-a01

2. http://kangaswad.wordpress.com/2014/01/04/meminta-pertolongan-hanya-kepada-allah/

Advertisements

Pentingnya Keberadaan Dokter di Negara Khilafah

Oleh: dr. Yanuar Ariefudin

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Sesungguhnya manusia tidak diberikan sesuatu yang terbaik sesudah keyakinan (iman) kecuali kesehatan.” (Musnad Ahmad, Juz 1, Hal. 37).

Mohonlah kepada Allah keselamatan dan kesehatan. Sesungguhnya tiada sesuatu pemberian Allah sesudah keyakinan (iman) lebih baik daripada kesehatan. (HR. Ibnu Majah)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menempatkan kesehatan sebagai nikmat yang terbaik sesudah nikmat keimanan. Subhanallah..
Ketika dikarunia nikmat iman dan nikmat sehat, maka sudah sepantasnya amanah tersebut digunakan hanya untuk perkara-perkara yang menuju kepada ketaatan.

Kesehatan menjadi hal yang istimewa setelah keimanan. Tidak sedikit ulama yang membahas mengenai kesehatan dan pentingnya menjaga kesehatan. Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Kitabnya Ath-Thibbun Nabawi, beliau menjelaskan bahwa penyakit ada 2 macan yaitu penyakit hati dan penyakit jasmani. Kedua penyakit itu disebutkan dalam Al-Quran.

Penyakit Hati sendiri terbagi menjadi dua : (1) Penyakit syubhat yang disertai keragu-raguan dan (2) penyakit syahwat yang disertai kesesatan.

Berkenaan dengan penyakit syubhat, Allah berfirman, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya” (QS. Al-Baqarah: 10) Allah juga berfirman, “Supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.”” (QS. Al-Mudatsir: 31)

Semua ayat ini berkaitan dengan penyakit syubhat dan keraguan. Adapun penyakit syahwat, difirmanka oleh Allah, “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya…” (QS. Al-Ahzab: 32).

Ayat ini berkenaan dengan penyakit syahwat zina.

Berkenaan dengan penyakit jasmani, Allah berfirman, “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61). Wallahua’lam.

Perhatian ulama terhadap kesehatan sedemikian besar. Maka sejarah pun mencatat bahwa dokte mempunyai posisi yang dekat dengan khalifah :
ﻭﻗﺪ ﺍﺭﺗﻔﻌﺖ ﻣﻜﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺒﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺘﻤﻊ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ، ﻭﺃﺻﺒﺢ
ﺃﻗﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺨﻠﻴﻔﺔ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ، ﺑﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ﻣﻦ
ﺃﺻﺒﺤﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﺯﺭﺍﺀ ﺍﻟﻤﻮﺛﻮﻕ ﺑﻬﻢ .

“Dokter memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat Islam. Mereka menjadi salah satu orang yang dekat dengan para khalifah dan hakim. Bahkan ada di antara para dokter yang menjadi menteri yang terpercaya.” (kids.islamweb.net/subjects/eshamatteb.html)

Imam Syafi’i pun berkata,
ﻻ ﺗﺴﻜﻨﻦ ﺑﻠﺪﺍ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻴﻪ ﻋﺎﻟﻢ ﻳﻔﺘﻴﻚ ﻋﻦ ﺩﻳﻨﻚ، ﻭﻻ ﻃﺒﻴﺐ
ﻳﻨﺒﺌﻚ ﻋﻦ ﺃﻣﺮ ﺑﺪﻧﻚ
“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” (Adab Asy-Syafi’i wa manaqibuhu hal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. I, 1424 H, Syamilah)

Pentingnya keberadaan ulama dan dokter di negara Khilafah sudah menjadi sebuah keniscayaan. Oleh karena itu keberadaan ulama dan dokter di negara Khilafah yang akan datang pun harus menjadi prioritas, mengingat jumlah dokter spesialis di negeri ini masih minim. Mendukung para pejuang syariah dan khilafah menjadi dokter ideologis menjadi sebuah keharusan karena memang ilmu kedokteran telah menjadi perhatian ulama. Bahkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa ilmu kedokteran termasuk ilmu syar’i.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﻋﻠﻤﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺤﻼﻝ ﻭﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﺃﻧﺒﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺐ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻗﺪ ﻏﻠﺒﻮﻧﺎ ﻋﻠﻴﻪ .
“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu halal dan haram- yang lebih berharga selain ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita” (Siyar A’lam An-Nubala 8/528, Darul Hadits, Kairo, 1427 H, Syamilah)

Hari ini, 90 tahun sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924, ilmu kedokteran masih berkembang di Barat. Seluruh dunia hampir merujuk ke Amerika dan Eropa dalam hal perkembangan ilmu kedokteran. Mempelajari ilmu kedokteran bagi muslim adalah fardhu kifayah.

Akan tetapi bagi dokter ataupun mahasiswa kedokteran menjadi fardhu ‘ain untuk mempelajari ilmu ini. Mendalami ilmu Penyakit Dalam bisa jadi fardhu kifayah bagi dokter umum, namun menjadi fardhu ‘ain bagi dokter Spesialis Penyakit Dalam.

Mendalami penyakit endokrin bagi dokter spesialis penyakit dalam bisa jadi fardhu kifayah tetapi menjadi fardhu ‘ain bagi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sub Endokrin. Hal ini menjadi hal yang wajar karena luasnya ilmu kedokteran menjadikan ilmu ini terus mengalami pembaruan dari tahun ke tahun dan membutuhkan spesialisasi bahkan sub spesialis.

Imam Syafi’i pun menyebut ilmu kedokteran sebagai ilmu syar’i. Beliau rahimahullah berkata,

ﺿﻴﻌﻮﺍ ﺛﻠﺚ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﻭﻛﻠﻮﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ.
“Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.” (Siyar A’lam An-Nubala Adz-Dzahabi 8/258, Darul Hadits, Kairo, 1427 H, Asy-Syamilah)

Syaikh Muhammad Ast-Syinqitiy rahimahullah berkata menjelaskan perkataan Imam Asy-Syafi’i,

“Mengapa sepertiga ilmu? Karena ilmu syar’i ada dua : (1) ilmu yang berkaitan dengan keyakinan, dan (2) ilmu yang berkaitan dengan badan dan anggota badan.

Maka menjadi, ilmu dzahir dan ilmu batin. Ilmu tauhid dan cabangnya yang merupakan realisasi dari tauhid. Maka dua ilmu ini adalah pengobatan ruh dan jasad. Tersisa pengobatan badan dari bagian ilmu dzahir yaitu ilmu ketiga. Inilah yang dimaksud oleh perkataan Imam Asy-Syafi’i dari pemahamannya,

“Umat Islam telah menyia nyiakan sepertiga ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.”

Yaitu maksudnya butuh terhadap orang Yahudi dan Nashrani (jika ingin berobat, karena tidak ada/sedikit kaum muslim yang menguasai ilmu kedokteran).” (Durus Syaikh Muhammad Asy-Syinqitiy)

Meskipun perkataan ulama bukan sebuah dalil, namun beliau seorang yang ahli dalam ilmu hadits dan ilmu fiqih. Maka pendapat beliau pun insya Allah lebih berhati-hati daripada pendapat kita yang sangat jauh derajat keilmuannya dibanding beliau.

Menjadi sangat istimewa ketika ilmu tersebut adalah ilmu syar’i. Beliau rahimahullah berkata,

ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺻﻠﺎﺓ ﺍﻟﻨﺎﻓﻠﺔ
“Menuntut ilmu (ilmu syar’i) itu lebih utama daripada shalat sunnah.” (Shahih Jami’ Al-Bayan 31/48).

Orang yang mengerjakan shalat sunnah dan semisalnya, tidak ada yang merasakan manfaatnya kecuali hanya dirinya sendiri.

Menjadi dokter itu biasa
Menjadi dai saja pun biasa
Menjadi dokter dan dai itu luar biasa
Menjadi dokter dan dai selevel Ibn Qayyim Al-Jauziyah itu istimewa

Referensi :
1. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. 2004. Terjemah Ath Thibbun Nabawi.
2. Raehanul Bahraen,dr. Perhatian Ulama Terhadap Ilmu Kedokteran. Link muslimafiyah.com
3. Sehat Ala Nabi. Link hidayatullah.com
4. Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. Keutamaan Belajar Islam. Link rumaysho.com

Menyegarkan Kembali Semangat Memahami Agama

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah, 9: 122)
 
Ibnu Katsir rahimahullah meriwayatkan dari Ikrimah, ia berkata, “Bahwa ketika turun ayat ‘Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih’ (QS At Taubah, 9: 39), orang-orang munafik berkomentar, ‘Sungguh binasa orang-orang kampung yang tidak turut dan berangkat perang bersama Muhammad’. Hal ini ditujukan kepada beberapa orang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tetap tinggal di kampung halamannya mengajari kaumnya tentang urusan agama, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat 122 dari surat At Taubah di atas.” (Tafsir Ibnu Katsir III/65).

Versi riwayat lain menyebutkan, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Di saat Allah mengancam dengan keras orang-orang yang tidak berangkat untuk berperang, mereka kemudian bertekad sambil berkata, “Tidak akan ada seorang pun dari kami yang akan tinggal dan tidak ikut berangkat dalam suatu misi militer selama-lamanya”. Dan mereka benar-benar membuktikan ucapannya sehingga semuanya berangkat dan membiarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tinggal sendirian, maka turunlah ayat tersebut (At Tafsir Al Munir, DR Wahbah Az Zuhaili XI/77).

 
Kandungan Lafazh Tafaqquh Fiddin

Akar kata yang terdiri dari fa-qa-ha menunjukkan arti mengetahui dan memahami sesuatu. Seorang yang alim dan cerdas disebut faqih. Pada mulanya istilah tafaqquh fiddin adalah untuk pekerjaan mengerti, memahami, dan mendalami seluk-beluk ajaran agama Islam. Namun pada periode berikutnya, istilah fiqih digunakan untuk ilmu-ilmu syariat sebagai lawan dari ilmu tauhid yang berkaitan dengan aqidah.

Dalam Al-Qur’an, istilah tafaqquh fiddin disebut hanya sekali. Arti dari liyatafaqqahu fiddin ialah “agar mereka memahami tentang agama”. Kata ad-din dalam rangkaian istilah tersebut berarti “agama” dalam arti yang luas, bukan “agama’ dalam arti sempit, seperti mempelajari seluk-beluk wudu dan masalah-masalah shalat, atau hanya menyangkut masalah fiqih. Agama yang oleh ungkapan tersebut didorong untuk didalami dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada saat beliau berada di tempat/Madinah karena tidak berangkat memimpin perang, meliputi berbagai informasi yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang telah diterima Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada periode Mekah selama 13 tahun, dan juga masalah-masalah agama yang mungkin dapat disampaikan Nabi pada saat para sahabat yang berminat melakukan tafaqquh fiddin.[1]

Dalam kajian Ibnu ‘Asyur, lafazah ‘tafaqquh’ (dalam kalimat: liyatafaqqahuu fiddiin) mengikuti wazan tafa’ul yang menyiratkan makna takalluf (bersungguh-sungguh dan mengerahkan semua potensi) guna memperoleh pemahaman yang benar dalam urusan agama. Sebab, memahami agama secara baik dan benar bukan sesuatu yang dapat diraih dengan mudah, melainkan ia memerlukan usaha yang keras, biaya yang tidak murah dan waktu yang lama (Lihat: Tafsir Ibnu ‘Asyur X/229).

Tafaqquh Fiddin, Penting!

Ayat ini merupakan bayan dari Allah Ta’ala tentang pentingnya ‘tafaqquh fiddin’ sebagai upaya untuk memahami agama; menegaskan urgensi mencari ilmu dan ‘tazawwud bil fahmi wal ilmi wa ats-tsaqafah’ (berbekal ilmu, pemahaman dan pengetahuan) tentang agama yang hanif, agama yang fithrah dan agama yang menjadi ‘manhajjatan baidho’ (pedoman hidup yang putih dan bersih).[2]

Yang menarik, menurut Ustadz Ahmad Kusyairi Suhail, bahwa ayat tafaqquh fiddin ini berada di tengah-tengah pembahasan tentang jihad bil qital (perang) yang menjadi tema sentral dari surat At-Taubah. Sebelum ayat tersebut, Allah Ta’ala menyinggung tentang perang Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H dan suasana yang menyelimuti kaum muslimin pada saat perang maupun pasca perang, lalu pada ayat sesudahnya (QS At Taubah: 123), kembali Allah Ta’ala menyinggung masalah perang. Hal ini, lanjut Ustadz Suhail, memberikan pemahaman kepada kita, bahwa seorang mukmin tidak boleh terlalu asyik masyuk dengan satu bentuk ibadah, lalu melupakan ibadah yang lain. Melainkan, ia harus senantiasa tawazun (seimbang) dan syamil (menyeluruh dan utuh), dan tidak terperangkap dengan hal yang juz’i (parsial). Karenanya, semangat mencari ilmu harus selalu dikobarkan dan tidak boleh padam dalam suasana segenting apa pun.

Ustadz Suhail menegaskan, “Jika di tengah kobaran semangat jihad yang menyala-nyala, Allah Subhana wata’ala mengingatkan pentingnya tafaqquh fiddin dan tidak boleh dilalaikan, apatah lagi dalam berbagai aktivitas lainnya, tentu lebih tidak diperbolehkan lagi untuk meninggalkan mencari ilmu. Kesibukan kita dalam jihad siyasi (politik) tidak boleh melunturkan semangat tafaqquh fiddin. Kesibukan kaum ibu dalam jihad ‘aili (berjuang dalam mengurus rumah tangga) tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak memperdalam pengetahuan mereka tentang agama. Kesibukan mencari nafkah juga tidak boleh membuat seorang mukmin tidak pernah mengalokasikan waktu guna mencari ilmu. Walhasil, tafaqquh fiddin tidak dibatasi oleh usia, waktu, tempat, situasi dan kondisi.” [3]

Setiap muslim dan khususnya para aktivis dakwah hendaknya menyadari bahwa salah satu kunci sukses generasi terbaik binaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam; para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sehingga mereka mampu melakukan perubahan dalam peradaban dunia dan mendatangkan banyak kemenangan, kemajuan dan kejayaan di semua aspek kehidupan, termasuk keberhasilan dalam memenej rumah tangga mereka, adalah berawal dari semangat membara mereka dalam mencari ilmu dan tafaqquh fiddin.

Mencari Ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Ia merupakan kegiatan sepanjang hidup manusia dari kecil sampai dewasa. Bahkan, begitu amat pentingnya ilmu,  sampai-sampai lafazh ‘ilmu dan kata jadiannya disebut dalam Al Qur’an sekitar 427 kali, mengalahkan penyebutan lafazh ‘shalat’, ‘zakat’ dan lainnya.

Ilmu itu kehidupan dan cahaya, sementara al-jahl (kebodohan) itu kematian dan kegelapan. Adalah hal yang aksiomatis, bahwa semua keburukan itu penyebabnya adalah tidak adanya kehidupan dan cahaya, sedang semua kebaikan penyebabnya adalah cahaya dan kehidupan. Perhatikan firman Allah Ta’ala:

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya?” (QS Al An’aam, 6: 122).
 
Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya  menyediakan waktu untuk menuntut ilmu, terutama ilmu-ilmu syar’i untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah sebagai ‘al-marji’iyyah al-‘ulyaa’ (referensi utama) bagi setiap muslim; dan sebagai ‘al-mi’yar al-asasi’ (standar utama) untuk melihat ilmu-ilmu yang lainnya dan mengarahkan serta melandasinya. 

Ustadz Abdussalam Masykur menyebutkan bahwa selain menyebutkan tentang pentingnya menuntut ilmu ayat tersebut di atas juga menunjukkan pentingnya proses ‘ta’lim muta’allim’ (belajar mengajar) dan pentingnya tujuan atau target dan sasaran, karena selain ber-‘tafaqquh fiddin’ juga harus ada ‘wa liyundziruu qaumahum’ (memberi peringatan kepada kaumnya), kemudian ‘la’allahum yahdzarun’ (agar mereka menjaga dirinya). Ini sebuah proses yang teratur dan luar biasa. Ini adalah manhaj rabbani dalam mencari ilmu dan memahami agama.

 
Ilmu dan Tegaknya Keimanan

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq, 96: 1 – 5)

Sejak awal kemunculannya di jazirah Arab, ajaran Islam yang dibawa Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengumandangkan penghargaannya yang tinggi terhadap qalam (alat tulis). Islam memancangkan ajaran pertama yang dijadikan dasar pokok dalam membina manusia adalah dengan baca tulis dan menuntut ilmu.

Muhammad Al-Ghazali mengatakan bahwa watak ajaran Islam mewajibkan pemeluknya menjadi ummat yang terpelajar, dimana jumlah orang yang berpendidikan semakin meningkat, sedangkan jumlah orang yang tidak berpendidikan terus berkurang dan akhirnya lenyap. Hal itu menurutnya disebabkan oleh kenyataan, bahwa hakekat ajaran Islam, baik dasar-dasar pokok maupun cabang-cabangnya, bukanlah upacara-upacara kebaktian pusaka nenek moyang dan bukan pula mantera-mantera yang disebarluaskan atas dasar angan-angan dan khayal. Dasar-dasar ajaran Islam diambil dari kitab suci yang penuh hikmah dan dari sunnah Rasul Allah yang penuh dengan tuntunan. Di dalamnya terkandung pengertian-pengertian intelektual, metode-metode yang tinggi dan tata kehidupan yang luhur.

Di samping itu, tafakkur alam semesta sebagaimana banyak diketengahkan dalam Al-Qur’an, dipandang oleh Islam sebagai dasar pokok untuk menegakkan iman yang mantap dan kokoh.

Tidak hanya itu saja, di dalam ajaran Islam terdapat juga seruan kepada segenap ummat manusia supaya mengikuti kebenaran dan terus menerus mencarinya walaupun rumit dan tersembunyi. Islam menolak hipotesa-hipotesa berdasarkan pemikiran yang mengambang, dan melarang pemeluknya terjerumus mengikutinya. Islam meletakkan sistim pengawasan yang ketat terhadap pendengaran, penglihatan, dan hati. Itu saja sudah cukup untuk mewujudkan suatu masyarakat yang jauh dari ketakhayulan dan angan-angan kosong, bukan masyarakat yang tenggelam di dalam kepercayaan kepada jimat-jimat, dongeng-dongeng kosong dan segala macam kebatilan, atau masyarakat yang dikuasai oleh tradisi dan adat istiadat tidak karuan yang sama sekali bukan berasal dari ajaran Ilahi.

Agama Islam tidak akan memperoleh tempat yang mantap kecuali di kalangan manusia yang berilmu pengetahuan matang dan manusia berakal cerdas. Bila Anda memperhatikan masalah shalat, tentu Anda akan menemukan kenyataan bahwa baik shalatnya itu sendiri maupun adzan sebelumnya, dua-duanya merupakan amal perbuatan yang rasional. Adzan adalah kalimat-kalimat yang mengetuk pikiran serta membangkitkan hati dan perasaan, yaitu mengagungkan Allah (takbir), pernyataan kesaksian atas keesaan Allah (tauhid), dan ajakan untuk meraih keberuntungan. Dalam Islam aba-aba dimulainya shalat bukan dengan membunyikan lonceng yang dentangan suaranya memenuhi angkasa dan hanya mengetuk perasaan tanpa kata-kata yang jelas. Dalam shalat dibaca ayat-ayat yang diambil dari kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran kebajikan dan petunjuk-petunjuk yang dapat dicerna oleh akal pikiran.

Muhammad Al-Ghazali menegaskan, memang benar bahwa kemantapan seseorang dalam menghayati agama Islam banyak tergantung pada tingkat kecerdasan pikirannya, kebersihan hatinya dan kelurusan fitrahnya. Tidak mungkin orang pandir atau orang yang tidak sehat jiwanya akan mudah begitu saja memeluk Islam.[4]

Menyegarkan Kembali Semangat Tafaqquh Fiddin

Mari kita segarkan kembali semangat tafaqquh fiddin. Mulai dari diri sendiri! Mari kita tanamkan kebiasaan, sikap dan nilai yang baik berkaitan dengan thalabul ilmi.

Menuntut Ilmu

Tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan pintar, mahir, dan ahli. Semua manusia lahir dalam keadaan tidak mengetahui suatu apa pun. Hal ini dijelaskan Allah SWT dengan firman-Nya,

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl, 16: 78).

Manusia akan menjadi berilmu manakala mampu memanfaatkan pendengaran, penglihatan, dan hatinya dengan baik. Ia harus mencari ilmu dan terus mencari. Sadarilah, ilmu tidak akan pernah datang menghampiri.

Marilah kita teladani para salafu shalih. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu pergi ke Syam menempuh perjalanan selama satu bulan hanya untuk mendengarkan satu hadits saja dari Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu. Hadits tersebut ialah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia itu nanti akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tidak memakai pakaian dan tidak dikhitan”.[5]

Sedangkan Abu Ayyub Al-Anshori pergi dari Madinah ke Mesir menemui ‘Uqbah bin Amir hanya untuk mendengarkan satu hadits saja yaitu sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa menutup aib saudara muslimnya di dunia, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat”.[6]

Abul ‘Aliyah berkata: “Kalau kami mendengar sebuah hadits itu datang dari seorang sahabat, maka kami tidak puas kecuali kami pergi menemui sahabat yang memiliki hadits tersebut”.[7]

Membiasakan Menghafal

Kita tidak akan mampu membawa ilmu kalau ilmu tersebut hanya ada dalam catatan. Maka membiasakan menghafal adalah satu sikap yang harus dipegang teguh.

Abu Zur’ah berkata, “Adalah Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”. Berkata Sulaiman bin Syu’bah: “Sesungguhnya murid-murid Abu Dawud menyalin hadits dari Abu Dawud sebanyak 40.000 hadits. Sedangkan Abu Dawud tidak memiliki buku”. Sementara itu Abu Zur’ah Arrazi berkata: “Aku hafal 200.000 hadits seperti bagaimana orang lain menghafal surat Al-Ikhlash”. [8]

Membiasakan Menulis

Karena membuat karya tulis akan memperkuat kapasitas keilmuan. Inilah budaya yang harus dikembangkan di tengah-tengah ummat, khususnya di kalangan aktivis dakwah.

Ibnul ‘Arabi menulis dalam bidang tafsir sebanyak 80 juz (di luar karyanya yang lain dalam bidang Ushul, Hadits, dan juga Tarikh). Ibnu Abi Dunya menulis 1.000 karya tulis. Imam Hakim menulis lebih dari 1.000 macam. Ibnu Asakir menulis dalam bidang Tarikh sebanyak 80 jilid. [9]

Menjaga Semangat Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu dan mengembangkannya memerlukan semangat yang besar. Semangat musiman tidak akan mungkin dapat diandalkan untuk membangun kapasitas ilmu.

Ibnul ‘Aqil Al-Hambali berkata: “Sesungguhnya semangatku untuk menuntut ilmu di usiaku yang 80 tahun sama dengan semangatku ketika usiaku baru 20 tahun”.
 
Semangat itu sangat diperlukan sebagai modal awal menuntut ilmu. Suatu hari Ibnu Jarir Atthabari menawarkan kepada murid-murid dan teman-temannya: “Maukah kalian belajat tafsir?” Mereka menjawab: “Berapa banyaknya?” Atthabari menjawab: “30.000 lembar”. Murid-muridnya itu pun berkata: “Sungguh itu adalah jumlah yang sangat banyak yang mungkin usia kita akan habis sementara ia belum selesai.” Maka diringkaslah oleh Atthabari menjadi 3.000 lembar. Kemudian ketika mereka ditanya tentang apakah mereka mau belajar sejarah manusia semenjak masa Adam hingga masanya, mereka pun menjawab dengan hal yang sama. Mendengar hal itu berkatalah Atthabari: “Sungguh telah mati semangat dan kemauan kalian!” Kemudian ia meringkas sejarah itu menjadi sekitar 3.000 lembar pula.

Imam Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimanakah semangat Anda menuntut ilmu?” Beliau menjawab, “Saya mendengarkan huruf demi huruf seakan-akan huruf-huruf itu belum pernah saya temukan selama ini. Karena itu saya kerahkan seluruh anggota tubuh saya untuk menyimaknya.”

Beliau ditanya lagi, “Bagaimana minat Anda terhadap ilmu?” Imam Syafi’i menjawab, “Minat saya laksana orang mengumpulkan makanan dan berambisi menikmati kelezatannya secara sempurna.”

“Lalu bagaimana Anda mencarinya?” lanjut si penanya, “Saya mencarinya laksana seorang wanita yang kehilangan anak satu-satunya yang di dunia ini ia tidak memiliki apa pun selain dia.” Jawab Imam Syafi’i.[10]

Ibnu Mas’ud berkata, “Ketahuilah bahwa tidak ada satupun diantara kalian yang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan jalan belajar. Maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang ahli ilmu, atau orang yang menuntutnya, atau orang yangmendengarkannya. Belajarlah kalian, karena sesungguhnya kalian tidak tahu kapan ilmu kalian itu akan dibutuhkan”. [11]

Merenung, Berbuat, dan Berfikir Dalam Ilmu

Aktivitas peningkatan dan pencarian ilmu perlu dilakukan setiap saat. Sehingga kita hendaknya merenung dalam ilmu, berbuat dalam ilmu, dan berfikir dalam ilmu.

Ibnu ‘Aqil Al-Hambali berkata, “Sesungguhnya tidak benar bagiku jika menyia-nyiakan waktu walau sesaat dari usiaku. Kalaupun lisanku berhenti dari menghafal, atau mataku berhenti dari membaca, maka aku menyibukkan fikiranku pada saat istirahatku itu hingga ketika aku bangun pasti telah kumiliki dalam diriku apa yang akan aku tulis kemudian”.

Imam Bukhari apabila terjaga dari tidurnya, maka ia menyalakan lenteranya kemudian menulis apa-apa yang terbetik dalam dirinya dari berbagai ilmu. Kemudian ia tidur dan begitu seterusnya sampai kadang-kadang dalam satu malam ia melakukan hal itu sebanyak 20 kali.

Imam Juwaini berkata, “Biasanya aku tidak pernah tidur dan makan. Tetapi aku tidur karena tertidur dan makan karena aku memang membutuhkannya. Sehingga aku tidur dan makan kapan saja. Karena kenikmatanku ada pada menuntut ilmu.”

Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat

Generasi terdahulu telah memberikan teladan yang baik. Mereka mengajarkan kepada kita bahwa selama manusia masih bisa mencari ilmu, maka ia harus terus melakukannya.

Muhammad bin Ishaq telah mengambil ilmu dari 1700 orang guru. Ia pergi menuntut ilmu dalam usia 20 tahun dan pulang dalam usia 40 tahun. Sedangkan Imam Bukhari mengambil ilmu lebih dari 1000 orang Syaikh.
 
Ada sebuah kisah mengharukan tentang semangat menuntut ilmu. Menjelang wafatnya Ibnu Jarir Atthabari mendengar do’a yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Muhammad. Ia kemudia meminta orang yang ada di sekitarnya untuk mengambilkan pena dan kertas. Orang-orang pun berkata kepadanya, “Kondisimu sudah seperti ini, tidak usahlah melakukannya.” Atthabari kemudian menjawab, “Tidak semestinya seseorang meninggalkan datangnya ilmu meskipun sampai mati”. Beberapa saat kemudian beliau pun wafat.

Menjadi Bangsa yang Besar dengan Ilmu

Hari ini kita mungkin dalam keadaan terhina dan terpuruk. Tetapi jangan pesimis, karena tidak lama lagi kita akan segera bangkit dan memimpin dunia, menjadi ustadziyatul alam (guru dunia).

Di kedua tangan kita ada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber petunjuk yang memberkahi ilmu yang kita miliki. Tugas kita saat ini adalah belajar dan terus belajar.

Al-Hasan bin Ali berkata, “Belajarlah kalian, tuntutlah ilmu, sesungguhnya jika kini kalian adalah orang-orang yang kecil dan tidak diperhitungkan manusia, maka kelak kalian akan menjadi orang-orang besar yang diperlukan manusia.” [12]
 
Tanamkanlah semangat di dalam dadamu wahai muslimin! Mari kita rem nafsu menghambur-hamburkan waktu dengan hal-hal yang tidak perlu. Sungguh, fajar kemenangan bukanlah impian, jika kita mau belajar, menuntut ilmu, dan ber-tafaqquh fiddin….

Sumber: Menyegarkan Kembali Semangat Tafaqquh Fiddin. Al-intima.com 

———————
Maraji’:

1. Pentingnya Tafaqquh fiddin, Abdussalam Masykur

2. Semangat Tafaqquh Fiddin, H. Ahmad Kusyairi Suhail, MA.

3. Al-Qur’an Wa Tafsiruhu Jilid IV, Kementrian Agama RI

4. Akhlak Seorang Muslim, Muhammad Al-Ghazali

5. Waqfah Tarbawiyah, Edisi 07, Volume I, 1996
 
Footnote:
——————-
[1] Al-Qur’an wa tafsiruhu, hal. 231 – 232.

[2] Pentingnya Tafaqquh fiddin, Abdussalam Masykur

[3] Semangat Tafaqquh Fiddin, H. Ahmad Kusyairi Suhail, MA.

[4] Akhlak seorang Muslim, Muhammad Al-Ghazali, hal. 407 – 410

[5] Riwayat Muslim dari Aisyah (2589)

[6] Riwayat Bukhari (2310), Muslim (2580)

[7] Thabaqah Ibnu Sa’ad, VII/122

[8] Sifatusshofwah, II/337, IV/88

[9] Al-Ilmu Dhorurah Syar’iyyah, Dr. Nashir Al-Umar hal. 22 – 25.

[10] Tarikh Baghdad

[11] Al-Adab Assyar’iyyah, Ibnul Muflih II/34

[12] Jami’u bayanil ‘ilmi, Ibnu Abdul Barr I/82

7 Keutamaan Mempelajari Ilmu Agama

Manhajtarbiyah

Bismillahirrohmanirrohim.
Segala puji hanya milik Allah subhana wata’ala, Yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita. Shalawat serta salam mari kita curahkan kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam, teladan kita sepanjang hayat. Amma ba’du

Sesungguhnya Islam adalah agama yang tidak membiarkan umatnya dalam kebodohan, sehingga bukannya menimbulkan perbaikan, malah kerusakan. Islam adalah agama yang sempurna, dan sangat meninggikan ilmu, khususnya ilmu agama. Ini terbukti dari firman Allah dalam Al-Quran, sabda Rasululllah shallahu ‘alaihi wasallam, dan teladan para salafusshaleh (generasi pendahulu). Dan keutamaan mempelajari ilmu agama adalah sebagai berikut.

1. Mempelajari Ilmu Adalah Wajib Bagi Muslim

Oleh karena bahaya akibat kebodohan yang begitu besar, maka agama Islam memberikan resep obat untuk menghilangkan penyakit tersebut. Yaitu mewajibkan para pemeluknya untuk menuntut ilmu. Dan hukum wajib berarti sesuatu yang harus dilakukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.” [HR. Ibnu Majah, no.224)[1]

Dari hadits yang mulia ini didapatkan sebuah keterangan bahwasanya setiap orang yang bersyahadat, maka wajibnya baginya menuntut ilmu. Tentu kewajiban pertama adalah menuntut ilmu agama, yang dengannya ia dapat mengamalkan shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya. Dan barangsiapa yang tidak berlandaskan ilmu dalam beramal, maka bisa jadi amalannya tidak diterima.

2. Bukti Allah Memberikan Hidayah Kebaikan

Siapa yang tidak ingin diberikan hidayah oleh Allah subhana wata’ala, yang dengan hidayah kebaikan tersebut seorang muslim dapat terjaga dari kesesatan dan keburukan? Begitulah salah satu keutamaan orang yang mempelajari ilmu agama. Maka bagi mereka yang merasa jauh dari hidayah Allah, seharusnya bersegara mempelajari agama.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam)” (HR Bukhari no. 2948 dan Muslim no. 1037)

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalaani berkata: “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia, dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya.” (Fathul Baari (1/165)

3. Mereka Yang Berilmu Adalah Sumber Rujukan

Allah Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ‪‬

Maka, bertanyalah kepada ahli dzikr jika kalian tidak tahu.” (QS. An Nahl (16): 43)

Ahli dzikri dalam ayat ini adalah bermakna Ahlul ‘Ilmi (ilmuwan), juga ahli Al Quran, sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma[2]. Ini juga dimaksudkan bahwa semua ahli ilmu, bidang apapun, maka ia harus dijadikan rujukan pada bidangnya. Jika bertanya perihal mesin, maka tanyalah pada ahli permesinan. Jika perihal kesehatan badan, maka tanyalah pada dokter. Dan juga, secara khusus ayat ini juga menceritakan keunggulan Ahlul  Quran, dan Adz Dzikr adalah nama lain dari Al Quran.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rahmatullah ‘Alaih berkata:

“Secara umum, dalam ayat ini terdapat pujian terhadap ahlul ilmi (ilmuwan), dan jenis yang paling tinggi adalah pengetahuan terhadap Kitabullah (Al Quran). Maka, Allah memerintahkan orang yang tidak tahu untuk  mengembalikan kepada mereka dalam berbagai urusan, dan di dalamnya juga terdapat pujian dan mentazkiyah (membanggakan) ahli ilmu, yakni ketika Allah memerintahkan untuk menanyai mereka. Dan, dengan hal itu dapat mengeluarkan orang bodoh  dari sifat ikut-ikutan, dan menunjukkan bahwa Allah mengamanahkankan mereka atas wahyuNya dan kitabNya. Mereka juga diperintahkan untuk mentazkiyah para ulama dengan sifat-sifat yang baik. Sebaik-baiknya Ahludz Dzikr adalah ahlinya Al Quran Al ‘Azhim, merekalah ahli dzikri sebenarnya, dan mereka lebih utama disbanding selainnya dengan penamaan ini. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: (Kami menurunkan kepadamu Adz Dzikr) yaitu Al Quran yang di dalamnya terdapat peringatakan (Dzikr) yang dibutuhkan hamba-hamba Allah, berupa perkara agama dan dunia mereka, baik yang nampak maupun tersembunyi.” [3]

4. Allah Ta’ala Memerintahkan Agar Mentaati Ulama

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan Ulil Amri di antara kalian.” (QS. An Nisa (4): 59)

Siapakah yang dimaksud ulil Amri dalam ayat ini? Berikut penjelasannya dalam Tafsir Ibnu Katsir,

“Berkata Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas (dan Ulil Amri di antara kalian) yakni ahli fiqh (ilmu) dan agama. Demikian pula kata Mujahid, ‘Atha, Al Hasan Al Bashri, dan Abul ‘Aliyah (dan Ulil Amri di antara kalian) yakni ulama. Dan zahirnya ayat ini –wallahu a’lam- bahwa semua makna ulil Amri adalah  dari kalangan umara (penguasa) dan ulama (ilmuwan)”. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/345. Dar Ath Thayyibah)

Maka merekalah yang harus ditaati pada bidangnya masing-masing, karena mereka lebih tahu wilayah mereka. Ini adalah pujian dari Allah sekaligus perintah bagi orang-orang beriman. Dan syarat para ulama dan ilmuwan ditaati adalah ketika mereka tidak bertentangan dengan Alquran dan Hadits.

5. Derajat Mereka Ditinggikan oleh Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman:

فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al Mujadillah (58): 11)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

“Sesungguhnya Allah angkat derajat orang beriman di atas orang tidak beriman bertingkat-tingkat, dan mengangkat derajat orang-orang yang diberikan ilmu di atas orang beriman bertingkat-tingkat, maka barangsiapa yang menggabungkan  antara iman dan ilmu, maka dengan imannya Allah akan mengangkat derajatnya,  kemudian dengan ilmunya Dia meninggikan derajatnya.” [4]

Terdapat kisah, di zaman dahulu ada seseorang yang lehernya cacat, dan ia selalu menjadi bahan ejekan dan tertawaan. Kemudian ibunya berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.” Sejak itulah, orang itu belajar ilmu syar’i hingga ia menjadi orang alim, sehingga ia diangkat menjadi Qadhi (Hakim) di Makkah selama 20 (dua puluh) tahun. Apabila ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, maka gemetarlah tubuhnya hingga ia berdiri.[5]

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الذين يَعْلَمُونَ والذين لاَ يَعْلَمُونَ‪‬

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az Zumar (39): 9)

Dan wanita Anshar pun dipuji dan diberi kedudukan sebaik-baik wanita karena mereka tidak malu untuk bertanya tentang ilmu agama.

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha pernah mengatakan:

‫‬‫‬‫‬‫‬”نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ”

Sebaik-baiknya wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami agama.” (HR. Bukhari, Bab Al Haya’ Fil ‘Ilmi)

6. Jalan Menuju Surga dan Tidak Termasuk Yang Dilaknati

Maka barangsiapa yang ingin mendapatkan kemudahan menuju surga, maka segeralah mempelajari ilmu agama. Dari sana, kita dapat mengetahui yang halal dan haram, memilah mana yang prioritas dan tidak, dan mengamalkan yang benar dan yang menjauhi yang salah. Sehingga, dengan izin Allah, Allah mudahkan jalan baginya menuju surga-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة‪‬

Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699)[6]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إن الدنيا ملعونةٌ ملعونٌ ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالمٌ أو متعلمٌ‪‬

Sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknatlah  apa-apa yang ada di dalamnya, kecuali berdzikir kepada Allah dan apa-apa yang mendukungnya, orang berilmu, dan orang ang menuntut ilmu.” (HR. At Tirmidzi No. 2322, katanya: hasan gharib)[7]

7. Dimintakan Ampunan Oleh Penduduk Langit dan Bumi dan Merupakan Pewaris Para Nabi

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu, sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh siapa saja yang di langit, di bumi, ikan-ikan yang di laut, sesungguhnya keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah seumpama keutamaan rembulan di malam purnama dibanding semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, mereka mewariskan ilmu, barang siapa yang  mengambilnya maka ambillah dengan keuntungan yang banyak.” (HR. Abu Daud No. 36410)[8]

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Telah diketahui bahwa ilmu yang diwariskan oleh para Nabi adalah ilmu syari’at Allah ‘Azza wa Jalla, bukan lainnya. Sehinga para Nabi tidaklah mewariskan ilmu tekhnologi dan yang berkaitan dengannya kepada manusia.” [9]

Penutup

Begitulah sedikit keutamaan dari mempelajari ilmu, dan perlu diingat bahwa ilmu yang paling mulia adalah ilmu perihal agama, maka pelajarilah. Namun keutamaan ini tidak menutup dalam mempelajari ilmu yang bermanfaat lainnya, seperti ilmu manajemen, ilmu kesehatan, ilmu keuangan, dan sebagainya.

Akhir kata, jadilah orang yang berilmu dan juga beriman. Berilmu tanpa iman, maka hidup tanpa arah, ilmu yang dimilikinya tidak memiliki panduan kearah kebaikan. Lihatlah koruptor, bukankah  mereka itu orang pintar? Tapi imannya tipis, sehingga menjadi pintar tapi tidak benar. Sebaliknya, beriman tanpa ilmu, akan menjadi orang baik dan shalih, tapi tidak berdaya guna dan polos. Hidupnya hanya untuk dirinya sendiri, bahkan dia mudah diperdaya orang jahat.

Wallahu A’lam

[Banyak mengambil pelajaran dari : Ilmu dalam Perspektif Islam. Ustadz Farid Nu’man. Abuhudzaifi.multiply.com]

Footnote:
—————–
[1] HR. Ibnu Majah, no:224, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah

[2] Imam Al Qurthubi, Jami’ul Ahkam, 10/108. Cet. 1. 1420H-2000M. Muasasah Ar Risalah

[3] Syaikh  Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Taisir Al Karim Ar Rahman,  1/441. Cet. 1, 1420H-2000M. Muasasah Ar Risalah

[4] Fathul Qadir, 7/175. Mauqi’ Ruh Al Islam

[5] Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa

[6] HR. Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 2689, Abu Daud No. 3641, Ibnu Majah No. 223, Ibnu Hibban No. 84, Ibnu Abi Syaibah, 118/6

[7] HR. At Tirmidzi No. 2322, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani menghasankan dalam Shahihul Jami’ No. 1609, Misykah Al Mashabih No. 5176

[8] HR. Abu Daud No. 3641, Ibnu Majah No. 223, Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6297

[9] Kitabul ilmi, hal: 11, karya Syeikh Al-Utsaimin