Tetap Belajar Walau Ajal Di Depan Mata

study-stuff

Ustadz Thoriq

Saat berada di ambang kematian pun, beberapa ulama masih berusaha memanfaatkan waktu. Ada yang berdikusi masalah fiqh, menghafal beberapa bait syair, atau menukil ilmu.

Tetap Mengajar Walau Telah Diracun

Imam As Subki saat itu menderita demam selama beberapa hari. Beliau sendiri memiliki majelis yang membahas Sirah Ibnu Hisyam. Waktu itu, seorang penulis para periwayat datang dan ia tahu beliau sedang demam. “Orang-orang telah berkumpul, saya hampir saja membatalkannya.” Katanya. As Subki menjawab,”Demi Allah, saya tidak akan membatalkan majelis yang disebutkan di dalamnya perjalanan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW).” Akhirnya, beliau dengan kepayahan membaca di majelis tersebut.

Setelah beberapa bulan di Damaskus, beliau melakukan perjalanan ke Mesir. Beliau seakan-akan merasa bahwa ajal sudah dekat, hingga beliau mengatakan kepada putranya Taaj Ad Din As Subki, bahwa beliau tidak meninggal kecuali di negeri itu. Akhirnya, setelah sampai Mesir, beberapa hari kemudian beliau wafat. Peristiwa itu terjadi tahun 756 H.

Setelah ditelisik, diketahui, beliau sakit karena diracuni. Sebelum meninggal, beliau berpesan kepada beberapa sahabat, bahwa beliau telah diracuni, dan beliau sendiri mengetahui siapa pelakunya, tapi beliau enggan menyebutnya. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 10/315,316)

Berdebat Masalah Fiqih Sebelum Wafat

Adalah Imam Abu Yusuf, salah satu murid dan sahabat Abu Hanifah. Penyebar madzhab Hanafi ini diangkat menjadi hakim kekhalifahan Abbasiyah semasa pemerintahan Al Hadi, Al Mahdi dan Ar Rasyid.

Ulama yang lahir tahun 113 H ini masih terus menyebarkan ilmu, bahkan sampai di saat detik-datik akhir umurnya. Murid beliau, Qadhi Ibrahim bin Al Jirah Al Mishri menuturkan,”Abu Yusuf sakit, lalu saya datang untuk menjenguknya. Saya temui beliau dalam keadaan pingsan. Setelah sadar, beliau berkata kepada saya,’Wahai Ibrahim, bagaimana pendapatmu tentang sebuah kasus?’ Saya menjawab, ’Dalam keadaan seperti ini?!’ Beliau membalas,’Tidak mengapa, mudah-mudahan hal itu bisa menyelamatkan.’”

Abu Yusuf mengatakan,”Wahai Ibrahim, mana yang lebih utama, melempar jimarat dengan berjalan kaki atau melempar dengan naik kendaraan?” Ibrahim menjawab,”Naik kendaraan.” Beliau mengatakan,”Salah.” Ibrahim menjawab, ”Berjalan.” Beliau mengatakan, ”Salah.” Ibrahim akhirnya mengatakan,”Sampaikan pendapat Anda mengenai masalah ini, semoga Allah meridhai Anda.”

Lalu Abu Yusuf mengatakan,” Jika bermaksud berhenti, untuk berdoa di tempat itu, maka labih utama berjalan. Jika tidak, maka lebih utama naik kendaraan.”

Setelah itu Ibrahim beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Abu Yusuf. Namun ketika sampai di pintu rumah gurunya itu, beliau mendengar suara jeritan untuk Abu Yusuf. Ternyata Abu Yusuf telah wafat. Rahimahullah Ta’ala. (Qimah Az Zaman indza Al Ulama’, hal. 28).

Mengutip Ilmu Sesaat Sebelum Meninggal

Ulama lain yang tidak membiarkan satu detik yang dimilikinya, kecuali untuk memperoleh ilmu, walau di saat ajal sudah dekat adalah Imam Ibnu Jarir Ath Thabari (310 H). Abu Ja’far mengisahkan, di saat Ibnu Jarir sakit, beliau menjenguknya. Di sana beliau sempat menunjukkan doa yang diriwayatkan Ja’far bin Muhammad. Beliau langsung meminta untuk diambilkan tampat tinta dan kertas, untuk menulisnya. Saat itu ada yang mengatakan kepada beliau.”Apakah saat ini tepat waktunya?” Beliau menjawab,”Tidak sepantasnya bagi manusia meninggalkan kutipan ilmu, hingga kematian menjemputnya.” Sesaat kemudian, Ibnu Jarir wafat. Rahimahullah Ta’ala. (Kunuz Al Ajdad, hal. 123).

Pantaslah, dengan kedisiplinan beliau, tiap harinya, beliau mampu menulis sebanyak 14 lembar. Total, seluruh karya beliau  mencapai 358 ribu lembar. Tarikh beliau kini dicetak dalam 10 jilid, sedangkan tafsir beliau mencapai 30 jilid.

Belajar Faraidh Saat Menjelang Ajal

Adalah Abu Ar Raihan Al Biruni, seorang ahli falak, sejarawan sekaligus sastrawan. Di hari-hari beliau, pena hampir tidak bisa berpisah dari tangan. Hanya setahun sekali mencari nafkah dengan mengikuti festival, sisanya beliau gunakan untuk mencari ilmu.

Penilaian seorang ulama fiqih, Abu Al Hasan Al Walwaliji mengenai semangat ulama yang lahir 362 H ini dalam mencari ilmu, cukup layak untuk disimak. Saat itu, tepatnya pada tahun 440H, beliau menjenguk Abu Raihan. Ulama ini sakit keras di tengah usianya yang mencapai 78 tahun. Kala itu nafasnya terdengar mengorok di tenggorokan dan beliau terlihat susah bernafas. Dalam keadaan demikian, beliau mengatakan kepada Al Walwaliji,”Apa yang pernah engkau katakan kepadaku pada suatu hari, mengenai pembagian jaddat fasidah (nenek dari jalur ibu)?”

”Apakah dalam kondisi seperti ini pantas (membahas hal itu)?” Jawab Al Walwaliji, menaruh belas kasihan. ”Wahai Al Walwaji! Saya meninggalkan dunia dalam keadaan mengetahui masalah ini, lebih baik daripada saya meninggalkannya dalam keadaan jahil terhadapnya.”

Akhirnya Al Walwaliji mengulangi apa yang pernah beliau sampaikan sebelumnya kepada Abu Raihan. Dan beliau menghafalnya. Tidak lama kemudian, Al Walwaliji keluar, dan saat di jalan beliau mendengar teriakan. Ternyata Abu Raihan telah wafat.  Rahimahullah Ta’ala. (Mu’jam Al Udaba`, 17/181,182).

Menghafal Delapan Bait di Hari Kematian

Diantara para ulama besar, yang tetap menjaga waktu mereka, walau ajal hendak menjemput adalah Ibnu Malik, ulama nahwu, yang lahir pada tahun 600 H. Ulama ini semasa hidupnya banyak membaca dan mengulang.

Fenomena yang mungkin amat aneh di zaman ini, adalah semangat beliau dalam memperoleh ilmu. Dimana beliau sempat menghafal delapan bait, di hari kematian beliau. Di saat beliau sedang sakit keras, putranya membantu mendiktekan bait tersebut. Rahimahullah Ta’ala. (Nafh At Thayib, 2/222, 229).

Kitab Alfiyah, yang kini menjadi salah satu referensi induk dalam bidang nahwu adalah salah satu karya beliau. Kini kitab itu digunakan di ratusan atau bahkan mungkin ribuan pesantren di dunia Islam. Kesungguhan Ibnu Malik telah memudahkan para pencari ilmu menghafal kaidah-kaidah bahasa Arab.

Sumber : almanar.wordpress.com

Doa Dzikir Pagi Sore – Shahih Al Ma’tsurat

ManhajTarbiyah

Bismillahirrohmanirrohim.

Telah kita ketahui bersama, berdoa dan berdzikir merupakan aktivitas yang mulia di sisi Allah Ta’ala dan merupakan amalan yang amat dianjurkan dalam Islam. Di zaman sekarang, banyak manusia yang menggunakan risalah kumpulan dzikir pagi dan sore yang disusun oleh Imam Hasan al-Banna rahimahullah yang dinamakan al ma’tsurat. Namun, ternyata dalam al ma’tsurat tersebut masih ada dzikir-dzikir yang derajat haditsnya dhaif (lemah) bahkan maudhu’ (palsu).

Untuk itu, dalam risalah singkat ini, kami akan memaparkan doa dan dzikir yang shahih dalam al ma’tsurat, yang hadits-hadits tersebut telah di-takhrij oleh al-ustadz Farid Nu’man dalam blognya. Dan juga, dalam risalah ini kamu juga cantumkan dzikir dan doa dari Hisnul Muslim dan doa-doa lainnya yang terkadang tak terkait waktu pagi dan sore. Semoga kita semua dapat mengamalkannya.

1. Membaca Al Fatihah

﴿بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ , الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ, مَـلِكِ يَوْمِ الدِّينِ, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ, اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ, صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ﴾

Artinya : “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. yang menguasai di hari Pembalasan. hanya Engkaulah yang Kami sembah , dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah (1): 1-7) [1]

2. Membaca 10 ayat dari Surat Al Baqarah (Ayat 2-5, 255-257, 284-286)

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5) 

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255) لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256) اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (257)

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (284) آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِين(286)
[2]

3. Membaca Surat Ali Imran ayat 1-2

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, الم, اللهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Alif laam miim. Allahu laa ilaha illaa huwal hayyul qayyum

Artinya : Alif laam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (QS. Ali Imran (3): 1-2)[3]

4. Membaca surat Thaha ayat 111-112

وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا, وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا يَخَافُ ظُلْمًا وَلا هَضْمًا

Wa-‘anatil wujuwhu lilhayyil qayyumi waqad khaaba man hamala dzulman, waman ya’mal minashshoolihaati wahuwa mu’minun falaa yakhofu dzulman walaa hadhmaa

Artinya : “Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluknya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang-orang yang melakukan kezha-liman, dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang shalih dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thaha: 111-112) [4]

5. Membaca surat At Taubah ayat 129 (7x)

حَسْبِيَ اللهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (سَبْعًا

Hasbiyallaahu laa ilaaha illaahuwa ‘alayhi tawakkaltu wahuwa robbul ‘arsyil ‘adziim

Artinya : “Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS. At Taubah: 129) (dibaca tujuh kali) [5]

6. Membaca surat Al Kafirun ayat 1-6

بِـــــســْمِ اللهِ الرَّحْــــمنِ الرَّحِـــيْمِ, قُــــــلْ يَــــا أَيُّــــــهَا الْــــكَافِـــــرُونَ, لا أَعْـــــــــبُدُ مَا تَعْبُدُونَ, وَلا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْـــــبُدُ, وَلا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ, وَلا أَنــتـــُمْ عَـــابِدُونَ مَا أَعْبُدُ, لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Artinya : “Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. “Katakanlah, ‘Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak akan menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku.’” (QS. Al Kafirun: 1-6). Namun tidak shahih untuk dibaca pada dzikir pagi dan sore [6]

7. Membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, dan An Naas (masing-masing tiga kali)

بسم الله الرحمن الرحيم , قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ , اللهُ الصَّمَدُ , لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ , وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (ثلاثا)

بسم الله الرحمن الرحيم , قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ , مِن شَرِّ مَا خَلَقَ , وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ , وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ , وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (ثلاثا)

بسم الله الرحمن الرحيم , قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ , مَلِكِ النَّاسِ , إِلَهِ النَّاسِ , مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ , الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ , مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ (ثلاثا)

Artinya : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)

Artinya : “Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (QS. Al Falaq: 1-5)

Artinya : “Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. raja manusia. sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. An Naas: 1-6) [7]

8. Membaca Dzikir Pagi dan Sore

Jika pagi membaca:

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ ِللهِ، وَالْحَمْدُ ِللهِ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Ashbahna wa Ashbahal Mulku Lillahi wal hamdu lillahi Laa Syarika Lahu Laa Ilaha Illa Huwa waIilaihin nusyur

Artinya : “Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Tuhan melainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali”

Jika sore membaca:

قال أَمْسَيْنَا وأَمْسَى الْمُلْكُ ِللهِ، وَالْحَمْدُ ِللهِ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ وَإِلَيْهِ الْمَصِيْر.

Amsayna wa Amsal Mulku Lillahi wal Hamdu Lillahil Laa Syarika Lahu Laa Ilaha Illa Huwa wa Ilaihil mashir.”

Artinya : “Kami bersore hari dan bersore hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Tuhan melainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali” [8]

9. Membaca Dzikir

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ.

Ashbahna ‘ala Fithrotil Islam wa ‘ala Kalimatil Ikhlash wa ‘ala Dini Nabiyyina Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam wa ‘ala Millati Abina Ibrahima Hanifa wa Maa Kaana minal Musyrikin.”

Artinya : “Di waktu pagi kami memegang agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agama ayah kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” [9]

10. Membaca Dzikir Sebagai Rasa Syukur (3x)

اَللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ

Allahumma maa ashbaha biy min ni’matin aw bi ahadin min khalqika faminka wahdaka laa syarikalak falakalhamdu wa lakasy syukru”

Artinya : “Ya Allah, nikmat yang kuterima atau diterima oleh seseorang di antara makhluk-Mu di pagi ini adalah dari-Mu. Maha Esa Engkau, tiada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu).” [10]

11. Membaca Dzikir Pujian

يَا رَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ

Ya Rabbi Lakal Hamdu Kamaa Yanbaghi Li Jalali Wajhika wa Li ‘Azhimi Sulthanika.”

Artinya : “Ya Tuhanku, Segala puji bagiMu sebagaimana seyogyanya kemuliaan wajahMu dan keagungan kekuasaanMu” [11]

12. Dzikir Agar Di-Ridhoi Allah (3x)

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًاإِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ

Radhiitu billahi Rabba wabil Islami Diina wa bi Muhammadin Rasuula.”

Artinya : “ Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” [12]

13. Membaca Dzikir Tasbih (3x)

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wazinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi.”

Artinya : “Maha Suci Allah dan Segala Puji bagiNya, sebanyak bilangan makhlukNya, seridha diriNya, setimbangan ‘arsyNya, dan sebanyak tinta dari kata-kataNya” [13]

14. Membaca Doa Perlindungan dari Musibah (3x)

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillahilladzi La Yadhurru Ma’asmihi Syai’un fil Ardhi wa Laa fis Sama’i wa Huwas Sami’ul ‘Alim.”

Artinya : “Dengan nama Allah Yang bersama NamaNya sesuatu apa pun tidak akan celaka baik di bumi dan di langit. Dialah Maha Medengar lagi maha Mengetahui” [14]

15. Membaca Doa Agar Terhindar dari Syirik

اللهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

Allahumma inna na’udzubika an nusyrika bika syai’an na’lamuh wa nastagfiruka lima laa na’lamuh.”

Artinya : “Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunanMu dari apa-apa yang tidak kami ketahui.” [15]

16. Membaca Doa Perlindungan dari Keburukan-Keburukan(3x)

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

A’udzu bikalimatillahi taammah min syarri maa khalaq.”

Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari keburukan apa-apa yang Dia ciptakan.” [16]

17. Membaca Doa Agar Terhindar Dari Kesulitan

اللهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِن الهَمّ وَ الحَزَنْ, وَ العَجْزِ وَ الكَسلْ, وَ البُخْلْ وَ الجُبْنِ,وَ ضَلَعِ الدَينِ, وَ غَلَبَتِ الرِ جَا لْ

Allahumma inni a-‘udzuubika minal hammi walhazan, wal-‘ajzi wal kasal, wal bukhli wal jubni, wa dhola’iddayin, wa gholabatilrrijal

Artinya : “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari rasa gelisah dan sedih, lemah dan malas, pengecut dan kikir, dibebani hutang (dhala’id dain) dan dikuasai manusia (ghalabatir rijal).” [17]

18. Membaca Doa Memohon Kesehatan dan Perlindungan dari Kekufuran, Kefakiran, dan Azab Kubur (3x)

اَللّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي, اَللّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي, اَللّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي (ثَلاَثًا)

اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ, وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ, لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ (ثَلاَثًا)

Allahumma ‘aafini fi badani, Allahumma ‘aafini fi sam’iy, Allahumma ‘aafini fi bashariy.” (3X)

“Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri, wa a’udzubika min ‘adzabil qabri, laa ilaha illa anta.” (3X)

Artinya : “Ya Allah berikanlah kesehatan bagi badanku, bagi pendengaranku, bagi penglihatanku, dan tidak ada Ilah kecuali Engkau”

Artinya: “Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefaqiran, Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari azab kubur, tidak ada Ilah kecuali Engkau” [18]

19. Membaca Sayyidul Istighfar

اَللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ, خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أََبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَ أَبُوْءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Allahumma anta Rabbiy, laa ilaha illa anta, khalaqtaniy wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’udzubika min syarri maa shana’tu, abu’u laka bini’matika ‘alayya, wa abu’u bidzambiy, faghfirliy fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta

Artinya : “Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan kecuali Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janjiMu, semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui banyaknya nikmat (yang Engkau anugerahkan) kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau” [19]

20. Membaca Doa (3x)

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ

Astaghfirullahal ‘Azhim alladzi laa ilaha illa huwa al hayyu al qayyum wa atuubu ilaih

Artinya : “Aku memohon ampunan Allah Yang Tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus (makhluk-Nya)”

21. Membaca Tasbih (100x)

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

“Subhanallaahi wabihamdih”

Artinya : “Maha suci Allah, aku memujiNya.” [21]

22. Membaca Dzikir (10x atau 1x)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

“Laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahulmulku wa huwalhamdu wahuwa ‘alaa kulli syay-‘in qadiyr”

Artinya : “Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10x atau 1 x jika dalam keadaan malas) [22]

23. Membaca Doa Memohon Pertolongan, dan Perbaikan Urusan

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ.

Ya Hayyu Ya Qayyuum, birohmatika astaghiytsu, ashliy sya’niy kullahu, wa laa takilniy ilaa nafsiy thorqota ‘aini

Artinya : “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” [23]

24. Membaca Doa Permohonan Ilmu, Rizki, dan Amal

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Allahumma innii as-aluka ‘ilman nafian, warizqon thayyiban, wa ‘amalan mutaqobala

Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain, pen), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” [24]

25. Membaca Istigfar (100x)

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

“Astagfirullaah wa atuubu ilayhi

Artinya : “Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.” [25]

26. Membaca Doa Agar Hati Diteguhkan

يَا مُقَلّبَ القُلُوْبَ , ثَبّتْ قَلْبِي عَلَي دِينِكَ

Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik

Artinya : “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [26]

27. Membaca Shalawat (10x)

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, كَمَا صَلَّــيْتَ عَـلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْــرَاهِيْمَ, وَبَـارِكْ عَلَى سَـيِّدِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْـرَاهِيْمَ وَعَــلَى آلِ سَيـِّدِنَا إِبْـرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ, إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ (عَشْرًا)

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad, kama shallaita ‘ala sayyidina Ibrahim wa ‘ala aali sayyidina Ibrahim, wa baarik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala Aali sayyidina Muhammad, kama baarakta ‘ala sayyidina Ibrahim wa ‘ala aali sayyidina Ibrahim il ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.” [27]

Wallahu a’lam
—————–
Footnote:

[1] Keutamannya : Dia disebut A’zhamus Surah (Surat yang paling agung) (HR. Bukhari No. 4204, 4370, 4426, 4720. Abu Daud No. 1458. Ad Darimi dalam Sunannya No. 3371), Sebagai Ruqyah, sehingga dibolehkan membacanya jika kita sedang sakit (Bukhari No. 2156, 4721, 5404, 5417), Surat istimewa yang tidak pernah Allah Ta’ala turunkan sebelumnya dalam Taurat, zabur, dan Injil, bahkan tidak ada yang sepertinya di dalam Al Quran sendiri (HR. At Tirmidzi No. 2875, dari jalur Abu Hurairah. Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih. Imam Ad Darimi No. 3373. Dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi No. 2875, 3125. Imam Ahmad, dalam Musnadnya, No. 20180, 20181. dari Ubai bin Ka’ab. Ibnu Hibban No. 775, dari Ubai bin Ka’ab), Disebut sebagai induknya Al Quran (HR. Bukhari No. 4427. Ahmad No. 9788, Ad Darimi No. 3374).

[2] Keutamaannya : rumah dijauhi setan (HR Ad Darimi, No. 3382. Imam Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, No hadits. 8592. Imam Nuruddin Al Haitsami mengatakan: rijal (periwayat) hadits ini adalah shahih, hanya saja Asy Sya’bi tidak mendengar langsung dari Ibnu Mas’ud. Lihat Majma’ Az Zawaid, 10/118. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah), Mencukupi (HR. At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Fadhail Al Quran ‘an Rasulillah Bab Maa Ja’a fi Akhiri Suratil Baqarah, No. 2881. Katanya: hasan shahih. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi No. 2881)

[3] Keutamaannya : terdapat asma Allah yang agung bersama Al Baqarah, Ali Imran, Thaha (Hadits Hasan oleh Syaikh Al-Bani. Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3856, As Silsilah Ash Shahihah No. 746), juga riwayat lain, (HR. Abu Daud No. 1496, At Tirmidzi No. 3478, katanya: hasan shahih. Ad Darimi No. 3389, Ahmad No. 27611)

[4] Idem dengan [3]

[5] Keutamaannya : “Barangsiapa yang membaca pada setiap hari ketika pagi dan sore: (Hasbiyallah Laa Ilaha Illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Azhim) tujuh kali, maka Allah akan mencukupi apa yang diinginkan dari perkara dunia dan akhirat.” (HR Ibnu Sunni : Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad mengatakan dhaif (Syarh Sunan Abi Daud [577], Maktabah Misykah). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini munkar. (As Silsilah Adh Dhaifah No. 5287). Juga dalam HR Abu Daud secara mauquf no. 5081 : Syaikh Al Albani telah meneliti riwayat ini sebagai riwayat maudhu’ (palsu). (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 5081). Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya terhadap surat At Taubah ayat 129, khususnya ketika membahas riwayat Ibnu ‘Asakir ini: “ini (hadits) munkar.” (Tafsir Al Quran Al ’Azhim, 4/244. Darut Thayyibah). Namun Syaikh Syu’aib dan ‘Abdul Qodir Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini shahih dalam Zaadul Ma’ad (2/376))

[6] Keutamaannya : “Bahwa dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku ucapkan jika aku berbaring di atas kasurku.” Beliau bersabda: “Bacalah Qul yaa ayyuhal kaafiruun, sesungguhnya itu merupakan pemutus dari kesyirikan.” (HR. At Tirmidzi No. 3403. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3403. Juga diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 2150, dari Jabalah bin Haritsah). Demikian keutamaan surat Al Kafirun, dan tak satu pun yang menyebutkan keutamaannya dibaca pagi dan sore secara rutin.

[7] Keutamaannya : Beliau bersabda: katakanlah “Qul Huwallahu Ahad dan Al Mu’awwidzatain (Al Falaq dan An Nas) pada sore hari dan pagi hari tiga kali, maka hal itu telah mencukupimu dari segala sesuatu.”. (Abu Daud No. 5082. Syaikh Al Albani mengatakan: hasan, dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud, No. 5082., Tirmidzi no. 3575, berkata: Hadits ini hasan shahih gharib. Syaikh Al Albani menghasankan dalam Shahih Wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3575)

[8] Diriwayatkan Imam Al Bazzar, sanadnya Jayyid (baik). Imam Al Haitsami, Majma’ Az Zawaid, 10/114. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, dan diriwayatkan Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al Adab Bab Ma Yaqulu Idza Ashbah, No. 5071, dengan tanpa lafaz: Laa Ilaha Illa Huwa wa ilaihin nusyur. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud No. 5071.

[9] Imam Ahmad dalam Musnadnya, No. 15360, 15363, 15364. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih, sesuai syarat Bukhari-Muslim. (Tahqiq Musnad Ahmad, 24/77). Dan Imam Al Haitsami mengatakan: diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath Thabarani, perawi keduanya adalah shahih. Majma’ Az Zawaid, 10/116

[10] Keutamaannya : Jika dia telah menunaikan syukur pada siang harinya, dan barangsiapa yang membacanya pada sore, maka dia telah menunaikan syukur pada malam harinya. Para ulama berbeda pendapat tentang status hadits ini. Tetapi umumnya mereka menyatakannya shahih. Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kumpulan Shahihnya. Al Hafizh Ibnu Hajar mengakui penshahihan ini. (Fathul Bari, 11/131. Darul Fikr). Sementara Al Hafizh menghasankan dalam An Nataij Al Afkar. (Raudhatul Muhadditsin No. 5376)

[11] Keutamaannya : Dua malaikat tidak sanggup mencatatnya dan tidak tahu cara mencatat pahala ucapan ini (saking besarnya). Diriwayatkan (1) Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitabul Adab Bab Fadhlu Al Hamidin, No. 3801. (2) Imam Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, No. 13118. Juga dalam Al Mu’jam Al Awsath, No. 11305. Syamilah. (3) Imam Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 4215. Syamilah. (4) Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal, No. 5127, 6441. (5) Abul Fadhl As Sayyid Abul Ma’athi An Nuri, Al Musnad Al Jami’, No. 8100. Dalam sanad hadits ini terdapat Qudamah bin Ibrahim, dalam Az Zawaid disebutkan bahwa Ibnu Hibban memasukkannya dalam At Tsiqat (orang-orang terpercaya). Dan, Shadaqah bin Basyir belum ada orang yang menjarh (kritik)-nya, dan mentsiqahkannya. Sedangkan semua perawi lainnya adalah tsiqat. (Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdul Hadi As Sindi, Hasyiah ‘Ala Ibni Majah, No. 3791. Mawqi’ Ruh Al Islam) Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkan hadits ini. (Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3801).

[12] Keutamaannya : Allah pasti akan meridhainya. Diriwayatkan (1) Abu Daud no. 5072, (2) Nasa’I no. 9832, (3) Tirmidzi no. 3499 katanya Hasan Gharib, (4) Musnad Imam Ahmad no. 18967-8, (5) Thabrani no. 13852, (6) Ibnu Majah no. 3870, (7) Al Hakim no. 1904, katanya Shahih sanadnya, tapi tidak dikeluarkan shahihain. Dishahihkan Al Hafizh Al Mizzi bagian awalnya, dan perawi Imam Ahmad dan Imam Ath Thabarani adalah tsiqat. (Imam Al Haitsami, Majma’ Az Zawaid, 10/116. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah) yang dimaksud bagan awal adalah bacaan radhitu billahi rabba tersebut. Az Zawaid: isnadnya shahih, dan perawinya adalah tsiqat. Didhaifkan Syaikh al albani. Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani: sanad riwayat Abu Daud adalah kuat namun mendhaifkan riwayat At Tirmidzi.

[13] Keutamaannya : Dari Juwairiyah Radhiallahu ‘Anha (isteri nabi), bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar darinya pagi-pagi sekali ketika shalat subuh, saat itu dia sedang di tempat shalatnya. Lalu ketika dhuha Nabi kembali dan dia masih duduk. Maka Nabi bersabda kepadanya: “Kau masih duduk saja sebagaimana tadi aku tinggalkan.” Juwairiyah menjawab: “Ya.” Lalu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Saya telah katakan setelahmu empat kalimat sebanyak tiga kali, yang seandainya kalimat itu ditimbang dengan apa yang kamu lakukan sejak tadi niscaya lebih berat. Diriwayatkan : (1) Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 647, (2) Shahih Muslim no. 2726, (3) Abu Daud no. 1503. (4) Tirmidzi no.3626, (5) Nasai no. 1335, (6) Ibnu Majah no. 3808, dll.

[14] Keutamaannya : Niscaya tidak ada sesuatu pun yang mencelakakannya. Diriwayatkan oleh (1) Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 660, (2) Tirmidzi dalam Sunannya No. 3388. Katanya: hasan shahih gharib, (3) Abu Daud No. 5088, (4) Ibnu Majah No. 3869, (5) Ibnu Abi Syaibah No. 2, (6) Al Hakim dalam Al Mustadrak ‘alash Shahihain, No. 1895. Katanya: isnadnya shahih, tetapi Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya, (7) Ibnu Hibban dalam Shahihnya, No. 852, 862, (8) Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 446, (9) Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, No. 346. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya. (Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3388, Shahih wa Dhaif Sunan Abu Daud No. 5088, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3869, Shahihul Jami’ No. 5745)

[15] Diriwayatkan (1) Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 19606, (2) Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath No. 3503, (3) Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, Juz 7, Bab 61, No. 1, (4) Imam Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir, Juz. 9, Hal. 58. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth, lantaran kemajhul-an Abu Ali Al Kahili. Syaikh Al Albani telah menilai hadits Abu Musa ini sebagai hasan li ghairih. (Shahih At Targhib wat Tarhib No. 36) lantaran adanya penguat dari jalur Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu.

[16] Keutamaannya : Barangsiapa membaca (doa di atas) Maka dia tidak akan dicelakakan oleh gigitan beracun pada malam itu. Diriwayatkan (1) At Tirmidzi No. 3605, Imam At Tirmidzi mengatakan: hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan. (Shahihul Jami’ No. 6427). (2) Imam Muslim dalam Shahihnya No. 2708, (3) Imam Ahmad dalam Musnadnya, No. 15709, 23083, 23650, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. (4) Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3518, dari Abu Hurairah. Juga No. 3547, dari Khaulah binti Hakim, semuanya shahih. (5) Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 2566, dari Khaulah binti Hakim, (6) Imam Malik dalam Al Muwaththa’ No. 1763, (7) Imam Ad Darimi dalam Sunannya No. 2680, (8) Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 2700, (9) Al Hakim dalam Al Mustadraknya No. 8280, dari Abu Hurairah, katanya shahih sesuai syarat Imam Muslim, (10) Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 10102, (11) Imam Abu Ya’la dalam Musnadnya No. 6688, dari Abu Hurairah.

[17] HR. Bukhari No. 364, 2736, 6002, Muslim No. 1365, Ahmad No. 12616, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 12535, Abu Ya’la No. 3703, Ath Thabarani dalam Ad Du’a No. 1349, dan lain-lain.

[18] Keutamaannya: disebutkan dalam hadits, Dia (Abu Bakrah) menjawab: “Benar, wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa dengan semua itu, maka aku suka jika aku berjalan di atas sunnahnya.” Diriwayatkan oleh (1) Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 20430, (2)Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 701, (3) Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 5090, (4) Imam An Nasa’i No. 22, 572, 651, (5) Imam Ibnus Sunni No. 69, (6) Imam Ibnu Abi Syaibah 7/26. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya hasan. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 20430). Syaikh Al Albani juga menghasankannya. (Adabul Mufrad, 1/244. Lihat juga Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 5090)

[19] Keutamaannya : “Barangsiapa membacanya ketika sore hari dan kemudian meninggal pada malam itu, maka ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa membacanya pada pagi hari serta meyakini kandungannya, kemudian meninggal pada hari itu, maka ia akan masuk surga.” Hadits shahih ini diriwayatkan oleh (1) Imam Al Bukhari dalam Shahihnya No. 5947, 5964, (2) Abu Daud dalam Sunannya No. 5070, (3) At Tirmidzi dalam Sunannya No. 3393, (4) Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3872, (5) Nasa’i dalam Sunannya No. 5522, (6) Ahmad dalam Musnadnya No. 23013, (7) Baihaqi dalam Ad Da’awat Al Kabir No. 31, (8) Thabarani dalam Ad Du’a No. 309, (9) Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1309.

[20] Keutamaannya: “Barang siapa yang berkata: Astaghfirullahal ‘Azhim alladzi laa ilaha illa huwa al hayyu al qayyum wa atuubu ilaih, sebanyak tiga kali, niscaya diampuni dosa-dosanya walaupun dosanya semerbak merata.” HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 2550, katanya: shahih sesuai syarat Imam Muslim. Juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi No. 3577, katanya: hadits gharib. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3577)

[21] Keutamaannya : “Barangsiapa yang mengucapkan kalimat ‘subhanallah wa bi hamdih’ di pagi dan sore hari sebanyak 100x, maka tidak ada yang datang pada hari kiamat yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali orang yang mengucapkan semisal atau lebih dari itu.” (HR. Muslim (4/2071, no. 2692)

[22] Keutamaannya: Dalam hadits disebutkan bahwa barangsiapa yang menyebutkan dzikir tersebut sebanyak 10 x, Allah akan mencatatkan baginya 10 kebaikan, menghapuskan baginya 10 kesalahan, ia juga mendapatkan pahala semisal memerdekakan 10 budak, Allah akan melindunginya dari gangguan setan, dan jika ia mengucapkannya di sore hari, ia akan mendapatkan keutamaan semisal itu pula. Diriwayatkan Nasai no. 24 dari hadits Abu Ayyub Al Anshori radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib (1/272, no. 650), Tuhfatul Akhyar – Syaikh Ibnu Baz. Dan HR. Abu Daud no. 5077, Ibnu Majah no. 3867, Ahmad 4/60. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib (1/270), Shahih Abu Daud (3/957), Shahih Ibnu Majah (2/331), Zaadul Ma’ad (2/377) dan dalamnya ada lafazh “10 x”

[23] HR. Al Hakim dan beliau menshahihkannya, Adz Dzahabi pun menyetujui hal itu (1/545). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib (1/273, no. 654)

[24] HR. Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 54, Ibnu Majah no. 925. Syaikh ‘Abdul Qodir dan Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan dalam tahqiq Zaadul Ma’ad 2/375.

[25] HR. Bukhari dalam Fathul Bari (11/101, no. 6307) dan Muslim (4/2075, no. 2702)

[26] Keutamannya: Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa, “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik ” artinya “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shahihul Jami’)

[27] Keutamaannya : (1) Dari Abu Darda’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa bershalawat untukku sepuluh kali di pagi dan sore hari, maka ia akan mendapatkan syafa’atku di hari kiamat nanti.” (HR. Thobroni melalui dua isnad, keduanya jayyid. Lihat Majma’ Az Zawaid (10/120) dan Shahih At Targhib wa At Tarhib (1/273, no. 656). (2) bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepada orang itu sepuluh kali.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 645, Muslim No. 408, Abu Daud No. 1530 . At Tirmidzi No. 485, An Nasa’i No. 678. Ahmad No. 8854, 8882, 10287, Abu Ya’la No. 6495, Ibnu Hibban No. 906).

Ketika Keberkahan Dicabut

Ustadz Umar Muhammad Noor

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Hadits tentang hal ini cukup banyak, misalnya hadits riwayat Imam Ahmad dan Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan tiba hari kiamat hingga waktu semakin singkat. Satu tahun bagaikan satu bulan, satu bulan bagaikan satu minggu, satu minggu bagaikan satu hari, satu hari bagaikan satu jam. Dan satu jam bagaikan api yang membakar daun kurma.”

Dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Waktu akan semakin singkat, harta akan berlimpah ruah, fitnah akan menyebar, dan akan banyak terjadi pembunuhan.”

Para ulama tidak menafsirkan “singkatnya waktu” dengan bertambahnya kecepatan perputaran bumi sehingga jumlah masa dalam satu hari berkurang menjadi 23 jam misalnya. Penafsiran seperti ini tentu saja bertentangan dengan logika. Sebab jika kita memutar sebuah bola di sebuah titik tertentu, tentulah kecepatannya semakin lama semakin berkurang, bukan semakin bertambah. Oleh karena itu, para ulama hadits seperti Qadhi ‘Iyadh, Al-Nawawi, Ibn Abi Jamrah dan lain-lain menafsirkan singkatnya waktu ini dengan hilangnya keberkahan. Mereka berkata, “Maksud dari singkatnya waktu adalah hilangnya keberkahan dalam waktu tersebut. Sehingga satu hari misalnya tidak mampu dimanfaatkan melainkan seperti satu jam saja.”

Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Ibn Hajar rahimahullah dalam Fath Al-Bari. Ia berkata, “Pendapat yang benar adalah (hadits ini) bermaksud bahwa Allah Ta’ala mencabut semua keberkahan dari segala sesuatu, termasuk keberkahan waktu. Dan ini merupakan salah satu tanda dekatnya kiamat.”

Makna Berkah

Secara bahasa, kata “berkah” (barakah) bermakna bertambah (al-ziyadah) dan berkembang (al-nama). Kata ini lalu digunakan untuk menunjukkan “kebaikan yang banyak” seperti dalam firman Allah Ta’ala: “kitab penuh berkah” dan “malam penuh berkah”, yakni penuh kebaikan yang banyak. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam juga sering kali mendoakan para sahabatnya agar Allah Subhana wa ta’ala memberkahi mereka, seperti doa beliau untuk Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, “Ya Allah, berkahilah kulit dan rambutnya.” Sejak saat itu, kulit dan rambut Abu Qatadah tidak pernah berubah meski usianya makin bertambah. Al-Hafiz Ibn ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq bercerita bahwa Abu Qatadah wafat pada usia 70 tahun namun kulit dan rambutnya bagaikan anak berusia 17 tahun.

Kita dapat berkata bahwa keberkahan dalam sesuatu maknanya: kualitas sesuatu itu berkembang sehingga melampaui kuantitasnya. Jika sebelum makan kita meminta agar Allah memberkahi makanan kita, maknanya: kita meminta agar makanan itu menjadi sarana perbaikan untuk kualitas tubuh dan ibadah kita. Kuantitas dan bentuk makanan itu -begitu juga rasanya- mungkin tak berubah, namun kesan positif yang diakibatkannya akan segera dirasakan berbeda di tubuh dan perilaku orang yang memakannya. Tubuhnya akan semakin kuat dan terjaga dari berbagai penyakit, juga jiwanya terasa lebih ringan untuk melakukan kerja-kerja yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.

Saya tidak mengingkari bahwa kadang kala Allah juga memberikan keberkahan dalam makanan dengan mengembangkan jumlah kuantitas bersama kualitas makanan tersebut sebagai mukjizat bagi nabi-Nya dan karamah bagi hamba-hamba pilihan-Nya. Hadits-hadits tentang hal ini sangat banyak dan masyhur sehingga tidak perlu disebutkan lagi pada kesempatan ini.

Keberkahan Hidup dan Waktu

Keberkahan yang paling penting adalah keberkahan di dalam hidup dan waktu kita. Sebab, demi Allah, kita diciptakan untuk sebuah tugas maha penting, dan waktu adalah modal yang paling utama agar kita dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik. Tanpa keberkahan dan manajemen waktu yang baik, seseorang tidak akan dapat menunaikan tugas itu dengan sempurna. Oleh karena itu, bagi mata hamba-hamba Allah yang sejati, waktu jauh lebih mahal dan lebih berharga daripada uang dan harta benda apapun di dunia ini. Keberkahan dalam waktu menjadi dambaan mereka melebihi yang lainnya.

Imam Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata, “Andai seseorang kehilangan sekeping emas, ia akan menyesal dan memikirkannya sepanjang hari. Ia mengeluh: Inna lillah, emas saya hilang. Namun belum pernah seseorang mengeluhkan: satu hari telah berlalu, apa yang telah aku lakukan dengannya?”

Orang-orang seperti ini selalu menyesal jika sebuah detik dari waktunya berlalu tanpa manfaat. Seorang ahli hadits kenamaan Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah sering kali terlihat sedang membaca sambil berjalan sebab ia tidak ingin membuang waktunya percuma. Imam Ibn Rusyd, ahli fiqih dan filsafat terkenal, juga diceritakan tidak pernah meninggalkan membaca buku dan mengajar sepanjang hidupnya kecuali dua malam saja: yaitu ketika ia menikah dan ketika bapaknya meninggal dunia.

Imam Abdul Wahab Al-Sya’rani bercerita tentang gurunya Syeikh Zakaria Al-Anshari (pelajar fiqh mazhab Al-Syafii pasti mengenal nama ini),

Selama dua puluh tahun aku melayaninya, belum pernah aku melihat beliau dalam kelalaian atau melakukan sesuatu yang tak berguna, baik siang ataupun malam hari. Jika seorang tamu berbicara terlalu panjang kepadanya, beliau segera berkata dengan tegas: ‘Kau telah membuang-buang waktuku.

Keberkahan waktu dapat kita lihat di sejarah hidup tokoh-tokoh Islam sejak masa sahabat. Mereka berhasil melahirkan prestasi besar hanya dalam masa yang sangat singkat sehingga agak sukar diterima logika “zaman hilang-berkah” kita ini. Zaid bin Tsabit, misalnya, berhasil melaksanakan perintah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menguasai bahasa Yahudi (Suryaniah) –percakapan dan tulisan- hanya dalam 17 hari saja. Padahal pada saat itu belum ada alat bantu modern audio visual seperti sekarang ini. Bandingkan dengan diri kita yang memerlukan masa bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa Arab atau Inggris tanpa memperoleh hasil yang membanggakan.

Para penulis bioghrafi menceritakan bahwa Al Hafiz Ibn Syahin (seorang ulama hadits kenamaan) menulis 330 judul buku, salah satunya kitab tafsir Al Qur’an setebal seribu jilid. Di akhir hayatnya, ia meminta tukang tinta untuk menghitung berapa banyak tinta yang telah digunakannya untuk menulis. Ternyata jumlahnya mencapai 1800 liter tinta. Sebagian ulama meriwayatkan bahwa Syeikh Abdul Ghaffar Al Qushi menulis sebuah kitab fiqih dalam mazhab Syafii setebal seribu jilid di kota Akhmim.

Begitu juga, Imam Ibn Al-‘Arabi (ahli hadits dan fiqih mazhab Maliki asal Andalusia) berhasil menulis berbagai buku-buku besar dan penting, salah satunya sebuah tafsir setebal delapan puluh ribu lembar halaman. Imam Jalaluddin Al-Suyuthi berkata bahwa pemimpin Ahlusunnah wal jama’ah Syeikh Abul Hasan Al Asy’ari pernah menulis sebuah tafsir sebanyak 600 jilid. Al-Suyuthi berkata, “Sekarang buku itu masih berada di perpustakaan Al-Nizhamiah di Baghdad.”

Belum lagi Imam Al-Ghazali yang hanya hidup 55 tahun, dan Al-Nawawi yang hidup hanya 45 tahun, namun berhasil menulis banyak buku berharga berjilid-jilid. Juga Imam Ibn Al-Jauzi yang dikatakan Imam Al-Dzahabi, “Aku tidak mengetahui seorang ulama yang menulis sebanyak tulisan orang ini.”

Siapa yang pernah mencoba menulis buku pasti tahu betapa besar keberkahan yang Allah berikan kepada waktu para ulama ini. Sebagai manusia biasa, mereka memiliki waktu sama dengan kita: satu bulan terdiri dari empat minggu, satu minggu terdiri dari tujuh hari, dan satu hari terdiri dari 24 jam. Namun keberkahan dalam waktu memungkinkan mereka berkarya dan membuahkan prestasi lebih banyak dari kita. Keberkahan waktu benar-benar kita rasakan telah hilang pada masa kita ini sehingga sering kali sebuah buku tidak dapat kita selesaikan meski berbulan-bulan telah berlalu.

Sebab Keberkahan Dicabut

Kehilangan berkah dalam waktu adalah keluhan utama orang-orang kafir di akhirat. Seringkali Al-Qur’an menceritakan bahwa ketika kiamat terjadi, semua manusia merasa bahwa hidup mereka di dunia sangat singkat. Sebagian mereka merasa hidup di dunia hanya sepuluh hari saja (Qs. Thaha [20]: 103) Sebagian yang lain merasa hanya satu hari atau setengah hari saja,

Allah bertanya: berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab: kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari..” (Qs Al-Mukminun [23]: 112-113).

Di antara mereka ada juga yang berkata bahwa masa hidup mereka di dunia hanya beberapa jam saja, “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (Qs. Al-Nazi’at [79]: 46).

Sebagian yang lain bahkan berani bersumpah di hadapan Allah Subhana wata’ala bahwa mereka hanya tinggal di dunia satu jam saja, “Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; mereka tidak berdiam (di dunia) melainkan sesaat (saja).” (Qs. Al-Ruum [30]: 55).

Apakah yang menyebabkan hilangnya keberkahan dalam waktu mereka (juga kita) ini? Imam Ibn Abi Jamrah dalam Syarh Al-Bukhari berkata,

Penyebabnya adalah lemah iman dan menyebarnya berbagai pelanggaran syariat di berbagai bidang, salah satunya dalam hal makanan. Kita semua tahu sifat haram dan syubhat yang terdapat di makanan kita. Seringkali manusia tidak peduli (tentang hal ini) sehingga tanpa ragu-ragu mengambil makanan yang haram setiap kali ada kesempatan. Padahal keberkahan dalam waktu, rizki dan tumbuhan hanya datang melalui kekuatan iman dan ketundukan terhadap perintah dan larangan. Dalilnya firman Allah ta’ala: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (Al-A’raf [7]: 96).

Lemah iman memang membawa kepada berbagai maksiat dalam pekerjaan seperti melakukan korupsi, menerima rasuah dan lain-lain. Padahal perbuatan ini hanya memberi keuntungan semu yang akan sirna dalam masa singkat. Seorang wali Allah pada abad kesepuluh hijrian di Mesir Syeikh Afdhaluddin rahimahullah pernah berkata,

Pengkhianatan (dalam pekerjaan) menghapus berkah sebagaimana haram menghapus halal. Barangsiapa berkhianat dalam satu dirham, Iblis akan menyeretnya untuk berkhianat dalam seribu dirham. Begitu juga pencurian. Setiap pencuri yang kami temui, kami melihat bahwa keberkahan hilang dari usia, harta dan agamanya.”

Tak ada keberkahan selama haram menjadi santapan kita. Sebab makanan yang haram atau syubhat selalu menghalangi manusia untuk menggunakan waktunya dengan efektif. Fenomena malas dan tidur ketika beribadah, menuntut ilmu dan bekerja lahir akibat konsumsi makanan seperti ini.

Imam ahli hakikat Syeikh Abu Al-Hasan Asy Syadzili rahimahullah berkata, “Kami telah membuktikan bahwa tak ada obat yang paling mujarab untuk mengusir kantuk selain memakan halal dan menjauhi haram atau syubhat. Barangsiapa memakan haram dan syubhat, banyak tidurnya.”

Dan barangsiapa yang banyak tidurnya, berarti ia telah membuang-buang waktunya dengan sia-sia. Para ulama sepakat bahwa tidur yang melebihi kebutuhan dapat merusak mental dan kesehatan pelakunya, juga meluputkan dirinya daripada keuntungan duniawi dan ukhrawi.

Oleh karena itu, Imam Al-Sya’rani rahimahullah berkata, “Aku selalu menyesal untuk setiap tidur yang aku lakukan baik waktu siang ataupun malam. Sebab semua kesempurnaan berada dalam kesadaran dan terjaga. Barangsiapa yang suka tidur, berarti ia menyukai kekurangan, meniru orang mati, lalai dari amal kebaikan dan melewatkan keuntungan duniawi dan ukhrawinya.”

Tak ada keberkahan selama riba menjadi sumber rizki kita. Sebab Allah Ta’ala berjanji, “Allah akan memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 276).

Imam Fakhruddin Al-Razi rahimahullah di dalam Tafsir-nya berkata, “Ketahuilah bahwa Allah memusnahkan riba; dapat terjadi di dunia juga di akhirat. Adapun di dunia, dapat terjadi dengan berbagai cara. Salah satunya; orang yang mengambil riba meskipun hartanya berlimpah biasanya ia akan jatuh miskin pada akhir hayatnya dan hilang keberkahan dari hartanya. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Riba meskipun banyak akan mengecil.”

Sayyid Qutb rahimahullah menulis, “Orang yang hendak memikirkan hikmah Allah dan kesempurnaan agama ini dapat melihat kebenaran firman Allah ini lebih jelas daripada orang-orang yang mendengar firman ini pertama kali. Realitas dunia di depan matanya membenarkan setiap kalimat dari ucapan ini. Berbagai bangsa yang sesat dan memakan riba tertimpa berbagai musibah yang membinasakan sistem etika, agama, kesehatan dan perekonomian mereka.”

Sikap Kita

Jika kita telah menyadari bahwa keberkahan telah hilang, maka sungguh merugi jika kita membuang-buang waktu yang memang sudah sedikit itu. Sebaliknya, kita harus mampu menggunakan waktu ini dengan baik untuk berprestasi di dunia dan mengumpulkan bekal hidup di akhirat.

Abu Hazim Salamah bin Dinar berkata, “Segala sesuatu yang ingin kau bawa ke akhirat, siapkan dari sekarang. Dan sesuatu yang tidak ingin kau bawa, tinggalkan dari sekarang.”

Apalagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa kondisi ini akan bertambah buruk pada masa-masa yang akan datang. Beliau bersabda –sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah datang kepadamu sebuah zaman, melainkan zaman yang setelahnya lebih buruk dari itu hingga kamu berjumpa dengan tuhanmu.”

Beliau juga bersabda, “Cepatlah kalian beramal sebelum datang berbagai fitnah seperti kegelapan malam. Pada saat itu, seseorang mukmin pada pagi hari lalu kafir petang harinya. Ia mukmin pada petang hari lalu kafir pada pagi harinya. Ia menjual agamanya demi sedikit harta dunia.” (Ibn Hibban dan Al-Hakim dari Abu Hurairah)

—————-
Penulis : Ustadz Umar Muhammad Noor. Lulusan B.A Usuluddin (Tafsir-Hadis) dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan M.A Usuluddin (Hadis) di Unversitas Omm Durman, Sudan. Menimba ilmu hadis di Damaskus Syria, sejak tahun 2002 hingga 2007.

Sumber : umarmnoor.blogspot.com

Adab dan Sunnah di Hari Jumat

Manhajtarbiyah

Sungguh pada Hari Jumat, terdapat banyak sekali amalan-amalan ringan yang insya Allah memiliki keutamaan yang besar. Semoga dengan risalah singkat ini, dapat menjadi tuntunan bagi ikhwan dan akhwat selama hari Jumat, baik sebelum shalat, saat, dan setelahnya.

1. Kewajiban Menunaikan Shalat Jumat

Ternyata masih banyak dari umat Islam yang menyepelekan kewajiban shalat Jumat. Banyak juga yang lebih mengutamakan perdagangan mereka, kuliah dan belajarnya, dan sebagainya. Padahal, Allah ta’ala telah berfirman:

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. Al-Jumu`ah : 9)

Mengenai siapa saja yang wajib menunaikan shalat Jumat, terdapat hadits yaitu,

Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda,”Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.” (HR. Abu Daud)

Dan andai saja orang-orang yang tidak melaksanakan shalat Jumat berjamaah tahu akan hukumannya, harusnya mereka tidak akan mengulanginya.

Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah bersabda:

لَيَنتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الجُمُعَةَ أَوْ لَيَخْتَمَنَّ الله عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنَنَّ مِنَ الغَافِلِيْنَ

Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan menutup hati mereka dari hidayah sehingga mereka menjadi orang-orang yang lupa”.(HR. Muslim, An-Nasai dan Ahmad)

2. Kewajiban Mandi Wajib

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim).

3. Memakai Pakaian yang Baik dan Menggunakan Minyak Wangi

Allah Ta’ala berfirman

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al A’raf: 31)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersegera ke Masjid

Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dia berkata, Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

Pada hari jumat para malaikat berdiri di pintu-pintu masjid sambil mencatat orang yang pertama datang. Perumpamaan orang yang datang dengan di awal waktu seperti orang yang menghadiahkan onta yang gemuk, (yang berikutnya) seperti orang yang menghadiahkan sapi, (yang berikutnya) seperti orang yang menghadiahkan kambing kibas, kemudian ayam betina, kemudian sebutir telur. Jika Imam telah datang maka para malaikat menutup lembaran-lembaran mereka, kemudian mereka mendengarkan dzikir.” (HR Bukhari dan Muslim no.850)

5. Mencari Shaf Terdepan

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sekiranya manusia mengetahui betapa besarnya nilai atau pahala bagi orang-orang yang memperkenalkan panggilan adzan dan menem­pati shaf pertama, meskipun untuk itu mereka harus mengikuti undian yang dibayar mahal, pastilah mereka mengikutinya” (HR Bukhari Muslim).

Juga sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lainnya:

Hadirilah shalat Jum’at dan carilah tempat yang dekat  kepada imam, karena seseorang yang selalu mencari tempat  yang  lebih jauh  dari imam akan dilambatkan mauk surga meskipun ia  akan masuk” (HR Ahmad dan Abu Daud)

6. Shalat Tahiyatul Masjid Sebelum Duduk

Bagi mereka yang tiba di masjid, sebaiknya melakukan amalan ringan berupa shalat sunnah dua rakaat, bahkan seandainya khotib sudah naik, shalat ini tetap dianjurkan untuk dilakukan.

Diriwayatkan bahwa Sulaik datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, ia pun duduk, maka beliau pun bertanya padanya: “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua raka’at dengan ringan.” (HR Muslim)

7. Tidak Memeluk Lutut Saat Mendengar Khutbah

Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

8. Diam dan Tidak Melakukan Perbuatan Sia-Sia

Ternyata, perilaku ini masih banyak dilanggar oleh sebagian kaum muslimin. Banyak di antara mereka yang masih berbicara satu sama lain, bercanda, dan juga memainkan alat komunikasi seperti handphone atau semacamnya. Padahal, perbuatan tersebut dapat menghapus pahala amalan shalat jumatnya.

Dari Aus bin Aus Radhiyallallahu’anhu, dia berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang berjima’ dengan istrinya pada hari jumat kemudian ia mandi dan segera berjalan menuju masjid diawal waktu, duduk di dekat imam dan mendengarkan (khutbah) tanpa melakukan perbuatan yang sia-sia, maka setiap satu langkahnya mendapatkan pahala puasa dan pahala shalat malam selama setahun.” (HR Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’i, At Tirmidzi, Shahih Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Khuzaimah)

9. Tidak Berkata “Diam” atau Menegur Kepada Yang Lain

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

َإِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْت

Jika engkau mengatakan kepada temanmu, ‘Diam!’ Pada saat imam sedang berkhutbah maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.” (HR Bukhari no.883, Ahmad, dan Ad-Darimi)

Jika menegur saja sudah dianggap sia-sia, bagaimana bila berbicara saat khutbah? Jikalau harus memperingatkan, menurut ulama, maksimal menggunakan isyarat ringan.

10. Shalat Sunnah Setelah Shalat Jumat

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berrsabda,

Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

11. Memperbanyak Shalawat Nabi

Dari Aus bin Aus radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya hari jumat adalah di antara hari-hari kalian yang terbaik, karenanya perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu. Karena sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami disampaikan kepadamu, sementara engkau telah meninggal?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan atas bumi untuk menghancurkan jasad para nabi shallallahu ‘alaihim.” (HR. Abu Daud dan dinyatakan shahih oleh Al-Bani)

12. Membaca Surat Al Kahfi

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.” [1]

13. Memperbanyak Doa

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallah ‘anhu, dia bercerita: “Abu Qasim (Rasululah) shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

Sesungguhnya pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat).” (Muttafaq ‘Alaih)

Mengenai waktunya, ada beberapa pendapat. Salah satunya adalah hadits dari Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy’ari, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ

Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat.” (HR. Muslim)

Juga pendapat lain berdasarkan hadits lainnya, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْتَمِسُوا السَّاعَةَ الَّتِي تُرْجَى فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلَى غَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ

Carilah saat yang sangat diharapkan pada hari Jum’at, yaitu setelah ‘Ashar sampai tenggelamnya matahari.” (HR. at Tirmidzi; dinilai Hasan oleh al Albani di dalam Shahih at Tirmidzi dan Shahih at Targhib)

Begitulah sedikit tentang adab dan sunnah selama hari Jumat. Semoga dapat diamalkan oleh kita semua.

Wallahu a’lam

Footnote:
——————-

[1] Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al-Tarhib: 1/298)